
Kini Azk sudah berada di markas, ia disambut oleh semua anggotanya dengan sangat hormat.
"Jelaskan." Azka berdiri dihadapan David yang sedang mempersiapkan sesuatu.
"Baiklah."
"Saat ini, perusahaan kita sedang mendapatkan penyerangan yang hebat. Semua jaringan diretas, semua dana yang ada hilang entah kemana. Semua berkas bersih, mereka sangat cepat. Dalam beberapa jam, hampir semua anak perusahaan dan pusat menjadi targetnya." Jelas David dengan tangan yang masih menggengam keyboard dari komputernya.
Lalu ia memperlihatkan pada Azka mengenai hal tersebut, satu persatu bukti itu mulai diperlihatkan. Begitu banyaknya bukti-bukti yang didapatkan, David dan juga Kenzo bekerja keras untuk menutup semua akses yang dilakukan oleh penyerang.
Setelah melihat semuanya, untuk sejenak Azka berdiam diri. Menarik nafas panjangnya dan menghembuskannya sangat cepat.
"Dapatkan mereka, lakukan apa yang seharusnya mereka dapatkan."
Brakh!
Meja dihadapan Azka, hancur begitu saja dengan satu kali hantaman dari tangannya.
Baik Eiger dan yang lainnya tidak ada yang berani mengeluarkan suara apapun, mereka tahu jika saat ini Azka sedang dalam keadaan yang tidak baik.
"Hai semuanya, hallo pengantin baru."
Kehadiran Mark secara tiba-tiba merusak segalanya, mulutnya yang selalu tidak terkontrol membuat suasana menjadi semakin tidak bersahabat.
__ADS_1
"Kenapa kalian semuanya diam? Ka, selamat ya. Sorry, tidak bisa ikut hadir..."
Belum semuanya ucapan itu terselesaikan, tubuh Mark terlebih dahulu terhuyung mundur kebelakang. Kenzo menarik dirinya dengan cepat dan sedikit kasar, membawa Mark keluar dari tempat tersebut.
Saat bayangan Mark telah hilang, Azka menyandarkan punggungnya dan sedikit memijat keningnya yang sudah berdenyut.
"Rahasiakan pernikahanku dari semuanya, aku tidak ingin membahayakan nyawa istriku." Perkataan Azka cukup tegas untuk didengar oleh semuanya.
Tidak ada satupun yang kembali bertanya mengenai hal tersebut, mereka seakan langsung mengetahui maksud dari perkataan yang di ucapkan oleh leader mereka. Karena, setiap musuh akan mencari celah untuk membuat lawannya terlihat lemah.
Semuanya mulai menyusun strategi untuk menemukan siapa dalang dari peristiwa kekacauan ini, David dan juga Eiger masih terus berusaha melacak siapa orang tersebut.
"Persiapkan diri kalian, kita belum mengetahui siapa orangnya. Maka dari itu tetap waspada." Azka mengambil senjata andalannya dan menaruhnya di dalam saku jas miliknya.
Selama tiga puluh menit, David mendapatkan identitas dan alamat dari biang masalah peretasan.
"Aku dapat!" Teriak David merasa bahagia mendapat apa yang ia cari.
Dengan cepat ia memperlihatkan hal tersebut kepada Azka, menentukan langkah selanjutnya. Kini Azka mengetahui siapa orang tersebut, bahkan orang itu adalah musuhnya yang selama ini ia cari.
"Kali ini, tidak ada kata ampun untukmu. Baron!" Ucapan itu hanya Azka yang bisa mendengarnya.
Target mereka sudah didapatkan, dengan pergerakan yang cukup matang. Pada akhirnya mereka telah siap untuk bergerak menuju target utama, dengan penuh kehati-hatian. Semuanya kini berpencar pada tempat yang sudah disepakati sebelumnya, siap untuk mengintai target.
__ADS_1
.
.
.
.
"Hahaha, akhirnya aku bisa membuatnya hancur secara perlahan." Baron dengan sangat percaya dirinya.
Mendapati beberapa hasil dari usaha yang mereka lakukan, kini mereka sedang menikmati hasil dari hal tersebut tanpa mengetahui jika mereka sedang menjadi target Red Dragon.
Hampir dari seluruh anggota dari klan yang Baron pimpin, sedang melakukan perayaan atas keberhasilan kerja mereka. Penjagaan masih cukup ketat di wilayah mereka, namun itu tidak menyurutkan usaha dari Red Dragon saat ini.
Berbagai makanan dan minuman tersedia begitu banyak, bahkan mereka menggunakan dan menyediakan jasa para wanita dari salah satu bar ternama di negara tersebut.
"Silahkan kalian menikmati pesta ini, tidak akan lama lagi kita akan menguasai semuanya. Hahaha." Baron berteriak agar semua para anggotanya mendengarkan ucapannya.
Para pelayan menambahkan minuman dan juga makanan yang sudah berkurang jumlahnya, dan dalam hitungan menit. Orang-orang tersebut mulai berjatuhan tidak sadarkan diri, mendapati hal itu. Kedua mata Baron seketika melebar, kaget dengan apa yang ia lihat.
"Apa yang terjadi?" Suara panik melihat para anggotanya berjatuhan tidak sadarkan diri.
Tangannya menyingkirkan apapun yang ada di dekatnya, berjalan dengan sempoyongan dan menatapi satu persatu anggotanya yang sudah tidak bernafas.
__ADS_1