
Hari-hari berlalu, keadaan azka kian membaik dengan perawatan yang diberikan kepada dirinya. Unni kini tersenyum, entah dari mana hal itu berasal.
"Tuan, saya pamit ya."
"Tidak ada yang memintamu bertahan disini."
...Ya Allah mulutnya, rasanya bener-bener mau aku jahit. Ketus, tidak berperasaan dan .. sudahlah....
Menggelengkan kepalanya, membuat Unni berjalan meninggalkan Azka begitu saja. Sudah cukup ia menurunkan ke egoisannya untuk membiarkan pria itu tersiksa dan merawatnya hingga pulih.
Berpamitan kepada penghuni mansion lainnya, karena ia sudah tidak bisa berlama-lama disana. Mark dan Kenzo tersenyum melihat sikap Azka yang sangat ke kanak-kanakan, namun itu semuanya sudah cukup membuktikan jika Azka dan Unni memang sangat pas untuk mereka jadikan pasangan.
"Kau yakin ingin melepasnya lagi?" Goda Mark.
Tidak merespon apapun yang diberikan kepadanya, Azka menutupi perasaannya tersebut. Ia merasa sangat bahagia saat Unni merawatnya, walaupun ada rasa malu akan keadaannya saat itu.
Kembali beraktivitas bekerjanya, Azka kini harus dihadapi dengan tumpukan dari berkas-berkas yang Kenzo letakkan di atas meja kerjanya.
"Banyak sekali, apa Kenzo tidak bekerja? Awas saja kau, berani-beraninya membuatku bekerja keras. Untuk apa aku memberika gaji besar padanya, jika pada akhirnya aku juga yang harus menyelesaikannya." Keluh Azka.
Benar-benar hari yang cukup melelahkan, Azka yang keadaannya sudah membaik harus menghadapi berbagai persoalan perusahaan. Disaat ia menyandarkan tubuhnya sejenak dari kepenatan yang ada, bayangan Unni kembali melintas didalam pikirannya.
Menggenggam ponsel yang dimana ia pernah mencuri waktu untuk mengambil gambar wanita tersebut, tepat disaat Unni sedang tersenyum. Bagi Azka, itu adalah obat dari semua rasa lelah, penat dan juga lainnya.
.
.
.
Di apartemennya, Unni sedang membereskan beberapa perabotan disana. Dimana ia sudah memutuskan untuk kembali ke negaranya, karena ia sudah kehabisan kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan lagi setelah berhenti dari perusahaan Azka.
"Ni, jangan pergi ya." Renggek Jihan saat menemani Unni membereskan pakaiannya.
"Kalau aku tidak jadi pergi, kamu ikut sama aku ya." Balas Unni dengan nada bercanda.
"Oke, siapa takut. Aku akan jadi asisten pribadi kamu, dan kamu jadi nyonya bos tuan Azka. Hahaha." Jihan puas tertawa.
__ADS_1
Pluk!
"Aduh, kenapa Ni?" Jihan mengusap bahunya yang dipukul Unni pelan.
"Bicaramu itu, hati-hati. Bisa jadi doa dan juga petaka. "
"Memang kenapa, kalau jadi doa kan bagus. Kalau jadi petaka, kamu saja ya. Hehehe."
Terjadilah aksi saling kejar diantara mereka berdua, sifat usil Jihan yang seakan tidak rela jika harus berpisah dengan teman baiknya.
Ikut menghantarkan sampai ke bandara, wajah sendu Jihan tidak berubah. Saat Unni akan melakukan pengecekan tiket miliknya, secara tiba-tiba banyak orang dengan pakaian serba hitam mengepung mereka. hal tersebut membuat keduanya kaget dan juga takut.
"Duh, ini kenapa Ni? Kenapa kita jadi kayak tersangka gini, mereka serem lagi." Jihan merapat kepada Unni.
"Jangan seperti itu, kita tidak tahu apa yang terjadi." Walau sebenarnya jantung Unni serasa mau copot, namun ia tetap bersikap tenang.
"Hafsah Kamilatunnissa."
Suara tersebut membuat Unni menolehkan wajahnya pada sumber suara, terlihat disana berdiri seorang pria dengan tubuh tinggi menjulang.
"Tuan Peter!"
"Dia yang pernah aku ceritakan padamu Jihan, orang yang membantu dan menjadi donatur untuk panti Ummi." Jelas singkat Unni.
" Ta tapi, kenapa jadi serem gini Ni?"
Tap tap tap...
Peter berjalan menghampiri keduanya, dengan sikap dan aura pemimpinnya begitu nyata.
"Tuan Peter, ada apa?" Mempertanyakan mengenai kehadirannya disana.
"Khumairoh!" Sebuah nama yang Peter ucapkan dengan wajah yang sangat begitu berharap.
Merasa tidak ada sangkutan apapun dengan nama tersebut, membuat Unni dan Jihan bersikap biasa saja. Namun Peter terus berjalan semakin mendekat pada mereka berdua.
"Stop, tuan. Ada apa ini, kenapa kalian membuat kami seperti ini? Biarkan kami pergi dari sini. " Unni sudah menahan rasa amarah yang sudah siap meledak.
__ADS_1
"Tidak, kamu tidak boleh pergi Khumairoh. Kau adalah adikku! Adik kandungku!" Suara tegas Peter membuat Unni kaget.
Seakan tidak mempercayai apapun yang dikatakan oleh Peter padanya, Unni mengalihkan perhatiannya untuk mencari celah agar bisa segera kabur dari kepungan orang-orang tersebut. Melihat ada sedikit kesempatan, walaupun itu sangat kecil dan mustahil untuk bisa lolos.
"Kamu tidak apa-apakan kalau aku tinggal?" Unni memastikan Jihan untuk menyetujuinya.
"Apa? Kamu mau kemana, aku takut Unni."
...Astaghfirullah, aku lupa jika Jihan orangnya seperti ini. Bagaimana ini....
Dugaan yang tidak ia pikirkan sebelumnya, Peter berlutut dihadapan Unni. Bahkan semua anggotanya dan juga Eiger sangat tidak menduga dan tidak percaya akan apa yang mereka saksikan, seorang Peter berlutut dihadapan seorang wanita.
"Jangan pergi lagi, kakak mohon. Bertahun-tahun lamanya kita terpisah, itu sudah cukup Khumairoh."
"Maaf tuan, nama saya Hafsah Kamilatunnissa dan bukan Khumairoh. Jangan pernah mengucapkan ikatan darah diantara kita, sebelum anda menunjukkan bukti-buktinya!" Ucapan tegas dari Unni yang sudah menahan gejolak emosi dari dalam dirinya.
"Kakak bisa tunjukkan semua bukti itu, dengan syarat. Kau tidak akan pernah pergi dan kita akan selalu bersama."
"Maaf, itu tidak bisa saya kabulkan. Karena hanya Allah yang bisa memastikan hambaNya akan hidup sampai dimana batas waktunya, menjanjikan selalu hidup bersama itu sudah melebihi kemampuanku tuan."
"Berdirilah, hanya Allah yang berhak untuk disembah. Jangan melakukan hal seperti ini pada saya tuan." Unni merasa sangat keterlaluan melihat Peter berlutut dihadapannya.
"Itu tidak akan terjadi, sebelum kamu..."
Dor!
Suara tembakan terdengar jelas, Peter segera meraih tubuh Unni dan memeluknya. Jihan tersentak kaget dan tidak sadarkan diri, kepanikan yang dia alami membuatnya seperti itu.
"Kamu tidak apa-apakan?" Panik Peter yang memastikan keadaan sang adik.
Eiger dan anggota lainnya segera membentuk pengamanan untuk ketuanya, sebagiannya lagi sedang mengejar keberadaan dari orang yang sudah melakukan penembakan tersebut. Mereka tidak mendapati tembakan tersebut melukai orang, karena tidak ada tanda-tanda yang menunjukkannya.
"A aku, aku tidak apa-apa." Unni menjawabnya dengan meringgis.
"Keadaan sedang tidak aman, sebaiknya kita pergi dari sini." Menyakinkan pada Unni, Peter tidak ingin terjadi apa-apa padanya.
Keberadaan Jihan sudah terlebih dahulu diamankan oleh anggota yang lainnya, Peter meraih tangan Unni untuk membawanya menjauhi tempat itu. Baru saja beberapa langkah, tubuh Unni terhempas dan membuat genggaman tangan Peter terlepas.
__ADS_1
"Khumairoh!"
Kepanikan Peter semakin besar, ia mengendong tubuh Unni dan berlari menuju mobilnya. Saat ia merebahkan tubuh itu, tidak sengaja ia melihat sesuatu yang membasahi tangannya.