
Waktu pun berlalu, tak terasa delapan tahun sudah berlalu dari. Seorang anak laki-laki sedang memandangi setiap penjaga yang berada di mansion, tatapan itu sangat tajam.
"Tuan muda, bolehkah kami beristirahat sebentar saja?" Salah seorang pengawal dengan nafas pendeknya.
"Benar tuan muda, ini sangat melelahkan."
Tatapan mata itu semakin menajam, benar-benar tidak ada kelembutan disana. Beberapa pengawal sudah mulai nampak begitu kelelahan, tidak ada yang berani untuk menolak perkataan anak kecil itu. Jika tidak ingin berakhir dengan mengenaskan, namun semuanya bisa berakhir saat sang pawangnya datang.
"Ayolah uncle, sebentar lagi. Kalian benar-benar payah, baru sebentar saja sudah kelelahan."
Alvaro Aydan, anak laki-laki berusia delapan tahun itu sedang bermain bersama beberapa pengawal yang ada. Anak tersebut merupakan putra dari Azka dan Unni, seperti doa yang terkabulkan dari mulut Mark. Jika anak tersebut mewarisi hampir seluruh sifat dari sang daddy, membuat orang-orang disekitarnya pusing tujuh keliling.
Bagaimana tidak capek, jika Varo mengajak para pengawal tersebut untuk bermain bersama hewan kesayangannya. Yaitu seekor puma dan Black panther, hewan tersebut sangat luluh pada Varo.
"Varo." Suara panggilan yang membuat para pengawal dapat bernafas lega.
"Ya mom, sebentar." Varo membawa kedua sahabatnya itu untuk seger menghampiri sang mommy.
Melihat dari kejauhan, Unni masih merasa begitu merinding. Anaknya yang baru berusia delapan tahun bermain dengan hewan buas, awalnya ia menolak. Namun anak dan daddy nya tidak bisa dipisahkan, keduanya menyukai hal tersebut.
"Leon, Macis. Kalian disini saja, aku tidak mau mommy ketakutan." Varo mengusap puncak kepala kedua sahabatnya itu dengan begitu lembut.
__ADS_1
Mengerti akan ucapan tersebut, Leon dan Macis segera berhenti dan duduk begitu saja. Varo yang melihat mommy nya bergetar ketika dirinya sedang bersama kedua hewan tersebut, begitu sayangnya ia kepada wanita yang telah melahirkannya itu.
"Mom, ada apa?" Varo yang langsung memeluk sang mommy.
"Tidak ada sayang, tapi ini sudah waktunya sholat. Ayo, mainnya bisa dilanjutkan setelahnya."
"Baik mom." Varo mengenggam tangan Unni dan mereka berjalan memasuki mansion.
Unni tidak membatasi apapun yang dilakukan oleh putranya, asalkan hal tersebut masih dalam batas hal yang wajar. Tidak melupakan kewajiban mereka sebagai muslim tentunya, Unni dan Azka selalu mengawasi setiap apa yang dilakukan putra mereka.
Bersama mommy nya, Varo melaksanakan kewajibannya. Setelah selesai, Varo langsung berpamitan kembali untuk segera menemani kedua sahabatnya yang masih menunggu.
"Assalamu'alaikum, ya daddy." Ucap Unni yang mendapatkan telfon dari suaminya.
"Wa'alaikumussalam, lagi apa? Kamu menyusul ke sini ya." Bujuk Azka.
"Baru selesai sholat, daddy sudah?"
"Maaf dad, seperti biasa. Aku menolaknya."
"Baiklah sayang, hanya saja aku merindukanmu." Azka mengetahui alasan dibalik istrinya yang tidak ingin keluar dari mansion.
__ADS_1
"Selesaikan pekerjaan dengan cepat, lalu pulanglah." Dengan wajah yang memerah, Unni tersipu malu.
"Hahaha, dengan senang hati sayang. oh ya, dimana Varo?"
"Dia bermain dengan dua kucing besar milikmu dad, aku takut melihatnya."
"Mereka tidak akan menyerang orang yang menyayanginya sayang, ah. Aku semakin rindu padamu, love you mom." Ucap Azka dengan sangat manja.
"Love you too."
"Assalamu'alaikum mom."
"Wa'alaikumussalam dad."
Keduanya masih seperti sedang berpacaran saja, Azka selalu bermanja pada Unni. Namun hal itu, ia harus bersaing ketat dengan putranya. Yang ternyata menuruni sifat dirinya, bahkan wajahnya pun hampir tidak bisa dibohongi menduplicat dirinya.
Kehidupan mereka dalam beberapa tahun ini sangat aman dan bahagia, tidak ada yang berani mengusiknya. Akan tetapi, Azka tetap memberikan penjagaan yang terbaik untuk keluarganya. Entah mengapa, sampai saat ini. Unni tetap tidak mau dirinya terlalu dikenal oleh orang-orang, dimana membuat dirinya sangat tidak nyaman.
"Tidak!!!"Suara teriakan dari beberapa pengawal yang dikejar habis-habisan oleh dua kucing besar itu.
Dari balik jendela, Unni bergidik merinding melihatnya.
__ADS_1