Muslimah Untuk Mafia Psychopath

Muslimah Untuk Mafia Psychopath
97.


__ADS_3

Membutuhkan waktu satu minggu untuk berada di rumah sakit, tentunya dengan perawatan yang terbaik dan juga perawat pribadi tak kalah disiplinnya. Sehingga membuat Aira segera pulih dan sudah diperbolehkan pulang, dimana Unni meminta Aira untuk ikut tinggal bersama mereka. Namun, Aira amenolaknya dengan begitu halus.


"Jika sudah merasa baikan dan bosan, segera bekerja."


"Baiklah, terima kasih atas semuanya." Aira yang kini akan melepas Varo untuk pulang.


"Boleh aku mengatakan sesuatu padamu?" Menahan tangannya pada daun pintu yang sudah siap Aira tutup.


"Bicaralah."


Beberapa kali Varo harus menghela nafas beratnya, yang dimana ia awalnya belum siap untuk mengatakan hal tersebut. Akan tetapi, hati kecilnya seakan tidak bisa membiarkannya terlalu lama terpendam.


"Menikahlah denganku."


Deg!


Aira sektika terdiam, tubuhnya seakan menjadi kaku saat itu. Bahkan ia tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya, bahkan menganggap jika ucapan yang Varo ucapkan hanyalah guyonan semata.

__ADS_1


"Bibir anda seperti sedang butuh perawatan tuan, agar tidak sembarangan mengucapkan yang tidak-tidak. " Sanggah Aira.


"Aku tidak main-main, ucapanku adalah yang sebenarnya. Aku menyukaimu, Aira." Sungguh Varo tidak pernah bercanda dengan apa yang telah ia ucapkan.


"Menikahlah denganku, izinkan aku untuk membuatmu bahagia."


Kepala Aira seperti sedang berputar-putar dengan sangat cepat, ia menggelengkan kepalanya agar keadaan itu bisa cepat berlalu. Detak jantungnya pun semakin cepat, ia tidak tahu perasaan apa itu.


Brakh!


Dan Aira, ia bersandar di balik pintu rumahnya. Kedua matanya mengeluarkan air yang sudah tidak dapat ia bendung lagi, dadanya terasa sesak. Merasa jika takdir seakan-akan sedang mempermainkan kehidupannya, hingga dirinya luruh jatuh terduduk di lantai.


"Aira! Aku mohon, dengarkan ucapankan baik-baik. Aku menyukaimu, aku mencintaimu." Varo masih terus mengucapkan kalimat tersebut.


Mereka berdua saling terdiam dibalik pintu tersebut, dalam posisi bersandar yang sama dari masing-masing pada pintu. Dalam beberapa waktu, yang pada akhirnya membuat Aira berdiri dan membuka kembali pintu rumahnya. Hal itu membuat Varo beranjak berdiri, ia mendapati wajah Aira yang sembab dan basah.


"Aira."

__ADS_1


"Anda masih penasaran dengan kalimat 'tidak sepadan'? Inilah jawabannya tuan, kita sangat berbeda. Baik itu dari fisik maupun kasta, aku hanya orang yang sebatangkara dan tidak berada. Bahkan orang lain bisa membedakannya secara kasar mata, maka dari itu jangan terlalu memberika harapan yang akan membuatku semakin terpojokan. Pulanglah!" Aira mengeluarkan semua apa yang mau ia katakan.


Ketika tangan Aira akan menutup pintu rumahnya kembali, Varo segera menahan pintu tersebut dan menarik tangan Aira untuk membawanya kedalam dekapannya. Sekuat apapun Aira memberontak untuk melepaskan diri, namun Varo lebih kuat darinya.


"Sstthh! Jangan ucapkan itu, aku benar-benar menyukaimu dan mencintaimu. Terlepas dari itu semua, aku menyadarinya Aira. Aku terlalu egois dengan perasaanku sendiri untuk menyatakan perasaan ini, bahkan aku tega menyakitimu. Maaf, maafkan aku."


"Tidak! Lepaskan! Aku mohon tuan, jangan membuatku semakin tidak tahu diri!" Teriak Aira.


Varo tidak menjawab perkataan Aira, ia tahu jika saat ini. Mereka berdua dalam keadaan yang sama-sama emosi, masih tetap memeluk Aira dalam beberapa saat. Lalu keduanya merasa lebih tenang dan Varo perlahan mengendurkan tangannya, ia mengangkat wajah Aira sehingga mereka saling bertatapan satu sama lain.


"Aku berjanji akan membuatmu bahagia selama nafasku masih berhembus, Aira. Maukah kamu menikah denganku?"


Mendengar kalimat itu, membuat Aira menatap Varo dengan kedua matanya yang sembab. Tiba-tiba saja, kedua tangannya melingkar pada Varo.


"Berikan aku waktu untuk ini semuanya." Dengan lirih, Aira menenggelamkan wajahnya pada dada Varo yang begitu keras seperti batu.


Tanpa menjawabnya, Varo membalas tangan Aira. Memberikan kecupan pada puncak kepala Aira, sebuah senyuman terukir dari bibir Varo.

__ADS_1


__ADS_2