Muslimah Untuk Mafia Psychopath

Muslimah Untuk Mafia Psychopath
11.


__ADS_3

Hasil perdebatan yang sangat panjang, membuat Unni menyerah. Namun tidak untuk tinggal satu atap dengannya, hal itu sangat ia tentang. Walaupun dengan keadaan sakit, ia tetap mempertahankan semuanya. Azka pun menyetujuinya, namun dengan pengawasan dari dirinya.


"Assalamu'alaikum, selamat pagi tuan."


"Kau terlambat dua detik." Ketus Azka.


...Astagfirullah ni orang, dua detik yang dibuat-buat. Padahal dari tadi juga sudah menunggu di depan, akal-akalannya saja....


"Maafkan saya tuan, mobil sudah siap. Mau berangkat sekarang?" Unni menawarkan.


"Aku belum sarapan, kau mau aku pingsan, hah!" Berjalan menuju meja makan dan menyantap makanan tanpa memperdulikan Unni disana.


Penuh kesabaran menghadapi pria dihadapannya saat ini, hal itu tak luput dari pengawasan Kenzo dan juga Hugo. Dimana mereka mendapati keanehan pada sikap tuannya, namun itu semua membuat mereka tersenyum.


Menahan rasa sakit pada lukanya, juga menahan agar tidak mudah terpancing emosi dengan sikap aneh dari bosnya. Tetap fokus dengan pekerjaannya, setelah Azka selesai. Merek segera masuk ke dalam mobil, Unni memilih duduk di depan bersama Kenzo. Menurut dirinya hal itu adalah hal biasa, dimana karyawan seperti mereka tidak pantas untuk duduk berdampingan bersama bosnya. Tapi tidak untuk seorang Azka, ia merasa terasingkan.


Saat tiba di perusahaan, ia langsung keluar dari mobil dan masuk tanpa menunggu Kenzo membukakan pintu untuknya dan juga meninggalkan Unni jauh.


"Aneh, ada apa dengan tuan Azka?" Tanya Kenzo pada Unni yang masih bersama dirinya menatap kepergian Azka.


"Entahlah, memang dia orangnya aneh." Jawab singkat Unni.


"Eh,..." Kenzo kaget mendapati Unni menjawabnya seperti itu.


"Mmm, maaf tuan Kenzo. Saya hanya salah bicara, apa kita akan terus berada disini?"


"Tidak, silahkan nona."


Mereka melanjutkan langkahnya menuju ruangan sangat pemimpin, di pertengahan jalan Unni bertemu dengan Jihan serta Ferdy. Lalu mereka sempat mengobrol sebentar dan melanjutkan kembali pekerjaannya, dimana hari itu adalah hari pertama bagi Unni bekerja sebagai asisten pribadi Azka dan juga ia sudah berpindah ruangan menjadi satu dalam ruangan CEO.

__ADS_1


"Tuan Kenzo, apa tidak salah ruangan?" Unni merasa aneh saat akan memasuki ruangan Azka.


"Tidak nona, ruangan anda akan menjadi satu bersama tuan Azka. Mempermudah komunikasi agar memudahkan pekerjaan yang ada, selamat bekerja." Kenzo meninggalkan Unni untuk kembali keruangannya sendiri.


Menghela nafasnya panjang, Unni masuk ke dalam ruangan Azka. Mendapatkan tatapan tajam, membuat Unni sudah terbiasa dengan hal tersebut dan mengangganya angin lalu. Melihat tidak ada meja kerja kosong untuknya, maka Unni memilih duduk di kursi yang berada tepat didepan meja Azka.


"Apa yang saya kerjakan, tuan?"


Brakh!


Melempar berkas yang cukup tebal, membuat Unni kaget. Akan tetapi, akibat lemparan berkas tersebut dan mengenai luka pada dadanya. Menjadikan wajah pucat itu meringgis.


"Jangan coba-coba menjadikan alasan atas lukamu itu."


"Mm, baik tuan. Saya kerjakan." Unni membawa berkas itu menuju tempat duduk yang digunakan untuk tamu.


Berpura-pura mengerjakan sesuatu dari tempatnya, sorot mata itu melirik tajam pada Unni. Melihat wanita itu meringis dengan satu tangan menekan dadanya dan satu tangan lagi mengerjakan tugas yang ada.


"Hentikan! Ikut aku!" Azka secara tiba-tiba menarik tangan Unni dan membawanya masuk ke dalam ruang pribadinya.


"Ta tapi..." Unni hendak menolak, namun kekuatan Azka tidak bisa ditandingi olehnya.


Kaget, sudah pasti. Itulah yang dirasakan oleh Unni saat masuk ke dalam ruangan pribadi milik tuannya.


"Jangan banyak bicara, dalam waktu sepuluh menit kau tidak datang. Habis kau!" Azka bicara pada ponselnya dengan nada suara tinggi, menyudahinya pun begitu cepat.


Sudut mata Unni menangkap ada rasa kekhawatiran dari Azka untuk dirinya, namun semuanya itu masih terlihat abu-abu. Saat Mark tiba, terjadi lagi kegaduhan diantara dua pria itu. Memperdebatkan kenapa ia datang sendirian, tidak membawa asisten wanita.


"Kalau kau bicara jelas dan tidak terburu-buru, pasti aku akan membawa asistenku. Dasar pria datar." Gerutu Mark.

__ADS_1


"Diam, seharusnya kau pikirkan dulu sebelum kemari."


"Sudah selesai berdebatnya?"


"Hah!" Mark maupun Azka kaget dengan ucapan Unni


"Tuan dokter, pinjaman saja saya peralatan yang anda bawa, nanti saya bisa mengobatinya sendiri." Unni merasa lebih baik jika dirinya sendiri saja yang melakukannya.


Mark pun menyerahkan tas yang ia bawa kepada Unni, lalu ia menutup pintu ruangan tersebut dari dalam. Membiarkan dua pria itu Beradu argumen masing-masing, yang tidak bisa di halangin.


Menunggu selama tiga puluh menit lamanya, akhirnya Unni membuka pintu ruangan tersebut dan mengembalikan tas kepunyaan Mark. Melewati Azka begitu saja dan melanjutkan pekerjaannya, membuat Mark melebarkan kedua matanya.


"Tugasku sudah selesai, permisi. Nona, hubungi aku jika kau membutuhkan." Menyerahkan kartu nama miliknya pada Unni.


"Terima kasih tuan."


Tidak ingin berlama-lama, Mark segera pergi dari sana, karena tatapan tajam Azka mulai membuatnya merinding. Setelah kepergian Mark, Azka mengehela nafas panjangnya.


"Ma maafkan aku." Menghampiri tempat dimana Unni sedang mengerjakan pekerjaannya.


"Maaf, untuk apa?" Masih melanjutkan pekerjaannya tanpa melihat ke arah Azka.


"Atas kejadian tadi, aku tahu lukamu kembali basah."


"Tidak apa-apa tuan, sudah resiko saya sebagai karyawaan. Maaf, saya harus melanjutkan kembali pekerjaan ini." Kembali fokus pada berkas yang berada dihadapannya.


Saat Unni sedang fokus, tiba-tiba saja Azka menarik tangannya dan membuat dirinya berdiri berhadapan langsung pada Azka.


"Hentikan semuanya, berisitirahatlah didalam. Jangan membantah apalagi menolak ucapanku, kau tahu kan apa yang akan aku lakukan!" Nada bicara itu sangat penuh dengan penekanan, seolah-olah tidak terbantahkan.

__ADS_1


Benar-benar hal itu telah berhasil membuat Unni terdiam dan menuruti apa yang di ucapkan oleh Azka padanya, tidak dapat membohongi dirinya. Jika tubuhnya merasa lelah, memberanikan diri untuk berbaring di atas tempat tidur yang pada akhirnya membuatnya terlelap sampai jam kerjanya habis. Azka membiarkan hal itu, karena dirinya, merasakan getaran yang cukup kuat pada wanita yang sudah mengisi dunianya dalam waktu singkat.


__ADS_2