Muslimah Untuk Mafia Psychopath

Muslimah Untuk Mafia Psychopath
96.


__ADS_3

Akibat ulah Azka, membuat Unni menjadi merasa tidak enak kepada putra kembarnya. Hingga beberapa hari, Aira masih belum sadarkan diri. Hal itu membuat mereka semua menjadi semakin khawatir, namu dokter mengatakan jika hal itu tidak membahayakan pasien. Hanya saja, pasien masih begitu nyaman dengan alam bawah sadarnya.


"Ingat bang, mommy tidak akan memberikan nasihat apapun lagi. Mulai saat ini, kamu harus bisa mengontrol semua emosi yang ada. Jangan sampai semuanya itu membuat korban lagi dan merugikan orang lain." Nasihat Unni kepada Varo yang kini berubah menjadi begitu dingin dan datar.


Hanya kepada Unni, Varo bisa berubah menjadi anak kecil yang manja. Dan saat ini, dirinya bergejolak untuk bisa menghukum dirinya sendiri atas peristiwa yang menimpa Aira.


"Jangan menyalahkan diri sendiri, awalilah semuanya mulai detik ini. Jadikan semuanya sebagian pelajaran." Azka berdiri dengan tatapan dingin pada Varo.


Dengan menghela nafas panjangnya, Varo berjalan mendekati tempat Aira terbaring. Ia duduk bersandar dengan menatap pada wanita yang masih enggan membuka matanya, perlahan ia menggapai jemari tangan yang terasa sangat dingin.


"Aku minta maaf, aku mohon bangunlah. Aku janji, tidak akan berbuat seperti ini lagi dan menyakitimu. Aku janji, Aira." Varo mendaratkan wajahnya pada punggung tangan Aira.


Dari salah satu sudut ruangan, si kembar menatap dan manyun melihat hal konyol yang abangnya lakukan. Mereka merasa geli akan sikap abangnya begitu berubah saat ini, biasanya ia akan bersikap dingin, datar bahkan tidak ada ekperesi apapun. Berbeda dengan kondisinya saat seorang.


"Aku tidak mau seperti abang Varo, lemah karena wanita." Andre menyeringai.


"Aku pun sama, akan terlihat begitu lucu jika kita seperti itu." Andra ikut menimpalo ucapan Andre.


"Kita? lu kali, aku tidak mau disamakan dengan kamu!" Andre memprotes ucapan Andra padanya.

__ADS_1


"Ish, kamu ini. Kemauan kita berdua hampir sama, makanya aku sebut dengan 'kita'. Dasar tidak adil." Andra mendorong kaki Andre begitu kuat, membuat saudara kembarnya itu hampir terjatuh dari tempat duduknya.


Kedua bertengkar mempertahankan ucapannya masing-masing, tidak ada yang mau mengalah dan sama-sama merasa benar.


"Berisik!!" Varo menarik rambut kedua adik kembarnya itu.


"Arkh!" Teriakan si kembar yang kaget.


Kedua orangtuanya bukan merasa marah dengan ulah dari ketiga putranya itu, namun mereka malah tersenyum dan bahkan tertawa.


"Jadi, kalian berdua tidak mau menyukai dan terlibat dengan yang namanya wanita? Lalu, mommy kalian ini dianggap apa ya? Kalau begitu, mommy lebih baik ikut Aira saja. Biar kami berdua bisa hidup tanpa adanya laki-laki seperti ucapan kalian tadi." Unni melipat kedua tangannya di depan tubuhnya, memasang wajah cemberutnya.


Mereka semua menatap Unni dan seakan-akan ingin menerkamnya saat itu juga, bukannya marah. Unni bahkan tertawa dengan begitu lepas dengan sikap ke empat pria dihadapannya, lalu mereka memeluk Unni bersamaan namun mendapat penghalang besar dari tubuh kekar daddy nya.


Memprotes pun akan percuma, karena daddy nya selalu menghalangi mereka bertiga untuk memeluk mommy nya sendiri. Lalu terdengarlah suara gelas yang jatuh.


Prangh!!


Semua mata tertuju pada sumber suara, mereka kaget dengan apa yang didapati saat itu. Menunggu dengan waktu yang tidak sebentar, pada akhirnya mereka mendapatkan jawabannya.

__ADS_1


"Aira!"


Varo terlebih dahulu menghampiri Aira yang ternyata sudah sadar, dimana ia merasakan rasa haus yang membuat tenggorokan kering. Menyadari jika orang-orang disana sedang bersenda gurau, ia tidak ingin merusak momen tersebut. Melihat jika terdapat gelas yang berada di atas nakas disamping tempatnya, lalu ia berusaha untuk mencapainyansendiri.


"Syukurlah kamu sudah sadar, mau minum?" Varo membantu Aira untuk mengembalikan posisinya seperti semula.


Anggukan yang Aira berikan sebagia jawaban, awalnya ia begitu canggung dengan keadaan. Namun ia tidak bisa membohongi dirinya, jika dirinya sedang membutuhkan bantuan orang lain. Melihat Varo yang seperti itu, Azka menahan istri dan si kembar untuk mendekat. Memberikan ruang untuk Varo dan Aira, agar mereka bisa mendamaikan perasaan masing-masing.


Setelah semuanya tenang, Azka bersama Unni dan si kembar pamit untuk pulang. Aira merasa tidak enak telah merepotkan keluarga tersebut atas dirinya, namun perlakuan mereka me buat Aira seperti sedang berada di tengah keluarganya sendiri.


"Jika anak mommy ini masih bersikap kasar padamu, bilang sama mommy, oke! Kita hukum bersama dia, biar kapok." Unni melirik Varo dengan ekor matanya.


"Benar kak, jika perlu bantuan untuk menghukumnya. Kami berdua siap, bahkan dengan sukarela membantu kakak." Andra semakin membuat Varo terpojok.


Hanya Azka yang masih membuat Aira merasa begitu berjarak, karena pria itu begitu dingin dan datar. Sama halnya dengan Varo, dirinya hanya bisa tersenyum untuk semua perhatian tersebut. Sedangkan Varo, ia hanya bisa menahan dirinya untuk tidak kelepasan dalam bertindak, saat itu emosinya sudah begitu besar akibat ulah adik kembarnya.


"Lekas sembuh, kami pamit." Azka tersenyum pada Aira


Bahkan Unni pun memeluk dan mengusap wajah Aira dengan lembut, menganggap jika Aira adalah anaknya sendiri. Mereka pun beranjak meninggalkan ruang perawatan.

__ADS_1


__ADS_2