
Unni terbangun terlebih dahulu daripada Azka, dengan melihat keadaan mereka berdua saat itu. Membuat Unni tersipu malu, bergegas ia mengambil pakainnya yang tercecer dan masuk ke dalam kamar mandi.
Menunaikan kewajibannya yang hampir terlewatkan, lalu setelah Unni membangunkan Azka yang masih terlelap.
"Hem, bangun. Tuan, ini sudah pagi." Unni sedikit menguncang pundak lebar Azka.
Sekian waktu tidak membuahkan hasil, membuat Unni harus ekstra tenaga untuk membuat Azka membuka matanya. Jemari kecil itu menutup lubang hidung dan mulut Azka, sehingga membuat Azka kesulitan untuk bernafas dan akhirnya membuka kedua matanya.
"Mmmmm, hah hah hah. Apa yang kamu lakukan!" Bentak Azka dengan wajah yang begitu merah.
Degh!
Bentakan dari Azka membuat nyali Unni menciut, ia segera menundukkan wajahnya dan menahan air yang sudah siap keluar dari sudut matanya.
"Maaf, maaf sudah membentakmu." Azka menarik Unni ke dalam pelukannya.
Tidak ada jawaban apapun dari Unni, ia masih cukup kaget dengan apa yang ia dengar. Walaupun sebelumnya ia sudah terbiasa menghadapi sikap Azka pada dirinya, namun kali ini terasa berbeda.
"Tidak apa-apa tuan, mungkin saya belum terbiasa. Ini sudah pagi dan anda akan bekerja." Ucap Unni.
"Kata siapa? Hari ini, aku mau bersamamu saja sayang." Dengan manjanya Azka mendaratkan wajahnya pada tengkuk leher milik Unni.
"Aduh, hentikan." Unni semakin merasa geli.
"Itu hukuman untukmu sayang."
__ADS_1
"Aduh, hentikan dulu. Hukuman untuk apa?" Unni mendorong sedikit kepala Azka.
"Hukuman karena memangilku selalu dengan sebutan tuan." Azka semakin gencar usil kepada istrinya.
"Hahaha, jadinya mau dipanggil apa? Mas, abang, aa', babang, atau kakak." Unni masih mendapatkan keusilan dari Azka.
"Tidak, mana ada yang bagus dari sebutan itu sayang. Love, sweety, honey, sayang atau yang lainnya. Oke." Azka memasang wajah cemberutnya.
Melihat wajah itu, membuat Unni tak henti-hentinya tersenyum bahkan ia tertawa dengan begitu renyahnya.
"Baiklah hubby, stop ya. Ini sangat menggelikan." Unni masih menahan Azka untuk bersikap manja padanya yang membuat dirinya terus tertawa.
Azka menjauhkan wajahnya dari Unni, menatap wanita itu dengan tatapan yang sangat dalam. Baru kali ini ia merasakan getaran dalam dirinya saat Unni memanggil dirinya dengan sebutan yang baru.
"Iya, jelek ya?"
" Tidak sayang, mulai sekarang. Jangan menggunakan sebutan yang lainnya, jika tidak aku akan menghukummu dengan caraku." Seringai Azka.
"Dasar omes."
Keduanya tertawa dengan percakapan yang baru saja mereka lakukan, sebagai pasangan yang baru saja membina sebuah rumah tangga.
Ddrrtt...
Ponsel milik Azka bergetar, mereka pun menyudahi semuanya. Azka mengambil ponsel miliknya, disana tertera nama David yang menghubugi dirinya. Awalnya Azka tampak ragu untuk menerimanya, namun Unni menatap dirinya dengan penuh tanda tanya.
__ADS_1
Pada akhirnya Azka menerima sambungan pembicaraan dengan David, namun Azka sedikit menggeser posisinya untuk menjauh dari Unni.
"Ada apa?" Seakan mendapatkan firasat, Azka tampak dingin saat itu.
"..."
"Baiklah, kalian bersiaplah. Aku akan segera kesana." Pembicaraan itu berakhir dan Azka memejamkan kedua matanya sejenak.
Dalam pikirannya saat ini, bagaimana harus merahasiakan pernikahannya dari para musuh. Jika hal itu sampai terendus oleh mereka, sangat besar kemungkinan menjadikan istrinya sebagai titik terlemah dari seorang Azka.
"Ada apa? Sepertinya sedang tidak baik." Unni mendekati Azka.
"Tidak ada apa-apa, David sedikit mengalami kesulitan untuk membereskan pekerjaan." Elak Azka agar Unni tidak mengetahui kegundahannya.
"Sudah seharusnya hubby membantu mereka, tidak mungkin setiap persoalan harus mereka yang menyelesaikan. Ada kalanya atasan harus turun sendiri, agar mengetahui bagaimana proses itu berjalan."
"Kamu tidak apa-apa jika aku pergi?" Salah satu alis mata Azka tertarik ke atas.
"In syaa Allah tidak apa-apa kok, mereka pasti sangat membutuhkan kehadiranmu." Unni tidak ingin egois untuk masalah seperti ini.
"Terima kasih sayang, bantu aku bersiap. Sudah saatnya istriku ini memastikan suaminya bekerja dengan penampilan yang baik." Tangan Azka melingkar pada pinggang Unni.
"Aduh, tapi kan tidak harus seperti ini." Kaget akan sikap Azka padanya, dimana pria dingin itu semakin manja saja.
Senyuman yang hanya terukir dari wajah Azka, ia saat ini sangat menikmati waktunya bersama wanita yang selalu memberikan warna dalam kehidupannya saat ini.
__ADS_1