Muslimah Untuk Mafia Psychopath

Muslimah Untuk Mafia Psychopath
52.


__ADS_3

Sejak hari dimana pertemuan Azka dan Ady, membuat pria itu sangat jarang sekali berada di mansion. Dan hari ini, sudah tepat satu bulan lamanya Azka mengabaikan Unni. Mereka hanya akan bertemu dimalam hari, dimana saat Unni tidur. Azka akan ikut menemaninya bersama, namun dikala Unni membuka matanya. Suaminya itu telah hilang, hanya meninggalkan aroma tubuhnya untuk Unni.


" Maafkan aku hubby, dirimu menjadi seperti ini hanya karena ingin melindungiku." Unni turun dari tempat tidurnya dan melaksanakan kewajibannya, tak lupa ia selalu mendoakan orang-orang yang ia cintai.


Menikmati pagi hari dengan memandangi taman yang berada di halaman belakang mansion, ditemani oleh Mawar dan Putri selalu ataupun salah satunya. Mereka ditugaskan Azka untuk selalu menemani istrinya, biasanya Azka akan menegaskan Jihan untuk bersama Unni.


Namun kali ini tidak, karena perusahaan sedang sangat membutuhkannya sebagai orang kepercayaan dalam menyampaikan informasi selain Kenzo.


"Nona, lebih anda masuk ke dalam. Udara pagi ini sangat tidak baik untuk anda." Tiba-tiba saja Hugo sudah bersama mereka.


Begitu suara Hugo terdengar, Putri dan Mawar mengiyakannya. Karena Hugo tidak akan memberikan perintah tanpa ada alasan lainnya.


Mereka pun segera menuruti perintah tersebut, akan tetapi disaat Unni akan beranjak dari tempatnya. Tiba-tiba saja pandangan kedua matanya berkabut, kepalanya sangat berat dan sakit.


"Nona!" Ketiganya kaget mendapati Unni sudah terjatuh.


Unni memijit pelipisnya, kepalanya berdenyut kuat. Dibantu oleh keduanya, Unni segera merasa bawa kembali masuk ke dalam mansion.


Dengan cepat Putri membawakan air hangat dan juga beberapa obat, mereka begitu khawatir dengan keadaan Unni.


"Paman, jangan beritahu suamiku." Unni menatap Hugo dengan penuh harapan.


"Tapi nona." Sudah menjadi tugasnya untuk menyampaikan apa yang terjadi di mansion kepada tuannya.


"Kumohon paman."


Pada akhirnya, Hugo menyerah dengan menyetujui keinginan dari Unni tersebut. Keadaan Unni sedikit membuat khawatir, namun dirinya meminta waktu untuk berisitirahat. Tidak memberitahukan kepada siapapun mengenai keadaannya, karena ia beralasan tidak ingin membuat Azka menjadi khawatir.


Terlelap dalam waktu yang cukup lama, hingga saat terbangun. Unni semakin merasakan tubuhnya tidak enak, dan benar saja. Perutnya bergejolak, merasakan sesuatu yang akan keluar dari sana.


"Nona, ada apa?" Putri yang menemaninya saat itu, membantu Unni untuk pergi ke kamar mandi.


"Perutku tidak enak, huek! Huek!" Unni menutup mulutnya dan bergegas ke kamar mandi.

__ADS_1


Mengeluarkan semuanya, membuat Unni sedikit merasakan lega. Putri memberikan segelas air hangat pada Unni, namun Lagi-lagi perutnya bergejolak.


"Nona, apakah nona sedang mendapatkan tamu bulanan?"


"Emh, tidak Put." Unni terdiam sejenak, ia melupakan sesuatu.


"Astaghfirullah, Put. Ini sudah terlambat, seharusnya satu minggu kemarin. Apa aku, emm."


"Wah, apa dugaan saya benar?" Putri melebarkan senyumnya.


"Aku tidak tahu, tapi ada baiknya untuk mengeceknya. Tapi, aku tidak mempunyai alatnya."


Lalu keduanya sepakat membuat suatu rencana tanpa diketahui oleh orang lain selain mereka bertiga, dimana pada hari tersebut. Mawar bertugas untuk berbelanja berbagai kebutuhan mansion, lalu ia membeli suatu alat yang telah dipesan oleh nona mereka. Tentunya tidak hanya satu, sebagai pembanding agar hasilnya lebih jelas.


Saat tiba di mansion, Mawar segera menyerahkan benda tersebut kepada Unni. Ia pun tidak menunda lagi untuk segera mengecek dugaannya, walaupun pada alat tersebut lebih baik dilakukan pada pagi hari.


Dengan perasaan yang sudah tidak menentu, Unni menggunakan tiga alat dalam waktu bersamaan. Menunggu dalam waktu beberapa menit, seketika Unni memejamkan matanya untuk melihat hasil dari alat itu.


"Ya Rabb, semuanya aku pasrahkan padaMu. Engkaulah sebaik-baiknya pemberi keputusan."


"Nona, apa anda baik-baik saja didalam? Bagaimana hasilnya, nona." Mawar yang begitu antusias.


"Duh, kamu ini tidak sabaran sekali. Tunggu saja." Putri ikut panik.


Klek!


Unni membuka pintu kamar mandi, ia menatap keduanya dengan senyuman. Segera ia peluk keduanya dengan meluapkan semua perasaannya.


"Nona, ada apa?" Putri yang bingung mengapa nona mereka memeluk dengan Tiba-tiba.


"Iya nona, bagaimana hasilnya?"


Pelukan itu merenggang, Unni menatap keduanya. Lalu ia menunjukkan ketiga alat yang ia gunakan dihadapannya, dua garis merah terlihat cukup jelas.

__ADS_1


"Alhamdulillah, kabar baik." Unni kembali tersenyum kepada keduanya.


"Nona, selamat!" Kini keduanya berbalik memeluk Unni.


Rasa kebahagian itu mereka rasakan, namun dibalik itu semuanya. Unni meminta agar mereka merahasiakannya dari semua orang, karena Unni ingin suaminya yang mengetahui setelah kedua temannya.


...Ya Rabb, terima kasih atas anugerah yang Engkau titipkan dirahimku. Terima kasih atas kepercayaanMu kepada kami untuk menjaga amanah ini, hubby. Kamu akan segera menjadi daddy....


.


.


.


.


Disaat yang bersamaan, markas Red Dragon dalam keadaan yang cukup tegang. Mereka sudah mendapatkan informasi dan titik keberadaan Baron, dimana pada akhirnya Jenie menyerah. Ia membuka suara mengenai keberadaan Baron dan juga Peter, namun. Ada sesuatu yang membuat Azka belum mengambil keputusan, ia tidak ingin bertindak gegabah.


"Aku masih tidak percaya akan hal ini, apa yang ada di dalam kepalanya." Eiger masih tidak percaya akan tindakan yang telah dilakukan oleh Peter.


"Jangan membuat kegaduhan, lebih baik kita selidiki lebih dulu sebelum percaya dengan ucapan wanita itu." David ikut menambahkan.


Dalam pikiran Azka saat ini, ia tidak bisa menarik kesimpulan mengenai peristiwa ini. Karena ia masih menyimpan bukti yang Ady dapatkan mengenai Peter, jika hal itu ia sampaikan pada anggota lainnya. Sudah pasti mereka akan mengambil jalan cepat untuk menyelesaikannya, tanpa memikirkan ada hati yang akan hancur melihatnya.


"Kalian akan hancur, terutama kau Azka! Mereka sudah bergerak, dan kediamanmu menjadi targetnya. Hahaha"


Dalam keheningan, Jenie tiba-tiba berucap seperti itu. Dimana membuat Azka kaget dan panik sekaligus.


"Jangan bermain-main denganku, katakan apa maksudmu, hah! Katakan!" Azka mencengkaram leher Jenie dengan begitu kuat.


Namun hal itu sepertinya tidak berpengaruh apapun pada Jenie, ia seolah telah siap untuk kehilangan nyawa. Dengan hal itu, membuat Azka murka dan berakhir dengan menancapkan senjata yanh biasa ia gunakan dalam permainannya, tepat pada dada kiri dan memutar alat tersebut hingga Jenie mengeluarkan darah segar dari mulutnya.


"Istrimu akan mati, hahaha."

__ADS_1


"Bre***k!! Mati kau!"


Azka semakin menekan senjatanya dan berakhir dengan tegasnya Jenie, tidak ada yang berani menghentikannya. Namun Kenzo segera membuat pengamanan ketat pada mansion Azka.


__ADS_2