Muslimah Untuk Mafia Psychopath

Muslimah Untuk Mafia Psychopath
28.


__ADS_3

Melanjutkan kehidupannya sebagai adik dari seorang ketua mafia dan juga bisa dikatakan crazy rich, membuat Unni sakit kepala. Semua yang ia lakukan tidak mendapatkan izin dari sang kakak, bahkan untuk membersihkan kamar pribadinya saja tidak bisa. Semuanya dilakukan oleh pelayan, hal tersebut membuatnya seperti tidak berguna.


Bahkan untuk pakaian yang ia gunakan, semuanya diperbaharui oleh Peter. Untuk mereknya, Unni tidak mempersalahkannya. Yang sangat ia sayangkan, untuk harga dari satu pakaian itu sama saja bisa memberikan bekal makanan untuk pantinya selama satu minggu. Dan ini, hampir satu lemari penuh semua pakain miliknya dengan total harga yang cukup fantastis.


"Kak, ini sudah sangat berlebihan. Bisakah aku menukarnya kembali?"


"Berlebihan bagaimana? Itu semuanya berhak dan pantas untukmu, jangan berdebat lagi. Gunakan atau lebih baik dibuang saja." Peter kehabisan kata-kata untuk membujuk Unni.


"Tapi kak, wanita muslimah tidak baik menggunakan pakaian yang berlebihan dan pada akhirnya akan membuat orang lain berpikiran yang tidak-tidak. Apalagi tujuannya untuk pamer, habis sudah pahala yang aku kumpulkan selama ini."


Menyandarkan kepalanya pada sandaran tempat duduk, Peter memejamkan matanya dengan cukup lama. Sampai-sampai Unni mengira jika dia tertidur, dan Unni dengan sabarnya masih menunggu menjadi ikutan tertidur.


Tanpa mereka sadari, mansion tersebut kedatangan tamu tak diundang. Tamu itu memandangi wajah Unni dengan sangat dekat, membuat jantungnya berdetak sangat cepat.


Dugh!


"Arkh! Kenapa menendang, kebiasaan." Azka berteriak saat tulang kering kakinya ditendang oleh Peter.


"Masuk ke rumah orang tanpa permisi, tidak sopan." Sudut mata Peter melirik tajam ke arah Azka.


Keributan dari dua orang tersebut membuat Unni menjadi terbangun, ia menenangkan diri terlebih dahulu dari tidurnya. Saat membuka mata, ia mendapati dua pria didepannya sedang menatapnya.

__ADS_1


"Cukup berisik, jika mau bertengkar lebih baik di tempat lain saja." Unni menyadari tatapan Azka padanya, maka dari itu ia segera ingin pergi dari sana.


"Tunggu!" Azka membuka suaranya menahan kepergian Unni.


Menyaksikan seorang Azka berbicara kepada adiknya, Peter duduk dengan tenang. Ia ingin lihat bagaimana Azka mengoda Unni dihadapannya langsung, selama ini Azka akan selalu dingin kepada wanita.


"Bisa kita berbicara sebentar? Ada yang ingin aku bicarakan padamu."


"Tentang?"


Azka melirik Unni dengan cukup tajam, bahkan ia juga melempar tatapan itu kepada Peter. Berharap pria itu akan mengerti apa tanda apa yang ia berikan, akan tetapi hal itu hanya jadi angan-agan saja.


Unni sudah sering mendengar Azka mengatakan hal tersebut padanya, namun kali ini ia berani mengatakannya di depan Peter. Dimana, Peter adalah wali sah nya. Sedangkan Peter, ia berdengus kesal melihat Azka.


...Bisa-bisanya dia merayu adikku, caranya pun seperti ke kanak-kanakan sekali. Tidak mencerminkan seorang leader yang sejati, aih. Bagaimana bisa dia menyukai adikku....


"Terima kasih sudah menyukaiku, kak." Unni memanggil Peter agar ia terbebas dari Azka.


"Sepertinya, kakak ada sedikit urusan. Kalian selesaikan saja, dan kau. Jangan membuat kesal adikku, apalagi sampai ia menanggis. Habis kau!" Peter memberikan ultimatum keras kepada Azka.


"Kak..." Unni menjadi serba salah.

__ADS_1


Menatap Unni sesaat dan menganggukkan kepalanya, menandakan jika Unni tidak perlu khawatir dengan adanya Azka disana. Setelah Peter pergi, Unni mempersilahkan Azka untuk duduk.


"Mmm, aku tahu ini salah depan terlambat. Kali ini, aku benar-benar yakin. Aku sangat menyukaimu, mencintaimu Hafsah." Dengan keberanian yang penuh, Azka mengutarakan isi hatinya kepada Unni.


"Apakah anda yakin akan itu semuanya?"


"Harus dengan cara apalagi aku menyakinkanmu, Hafsah?!" Terdengar sedikit putus asa dalam ucapan Azka yang mendapati Unni ragu padanya.


Menarik nafas panjangnya, Unni berusaha untuk tenang dalam menghadapi Azka. Kalau tidak, maka kalimat istighfar akan selalu ia ucapkan.


"Apa anda tahu, mencintai dan menyukai adakah hal yang berbeda. Maaf, jika hanya untuk menjadikannya status dunia. Aku menolaknya."


"Tidak! Aku tidak terima penolakan, selama ini tidak ada wanita satu pun yang mengatakan penolakan kepadaku. Aku benar-benar mencintaimu, dengan apa lagi aku harus menyakinkanmu. Apa dengan nyawaku ini, baru kau bisa menerimanya." Kalimat-Kalimat yang Azka lontarkan pada sang adik, hampir saja membuat jiwa mafia Peter muncul.


Perkataan tegas itu membuat tubuh Unni sedikit bergetar, dan disaat Azka mengatakan 'nyawa'. Membuatnya kembali teringat akan kejadian dimana ia melihat Azka menghabiskan seseorang, lagi dan lagi ia beristighfar di dalam hati.


"Jadilah wanitaku, aku akan menjamin keselamatanmu dan juga kehidupanmu dengan nyawaku sendiri." Menegaskan pada perkataannya, jika Azka benar-benar mencintai Unni.


Dengan cepat Unni menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, berhadapan dengan Azka benar-benar menguras energi dan juga kewarasaannya.


"Aku mencari calon suami yang bisa membimbingku untuk bersama-sama menuju sakinah, mawaddah dan warohmah. Jika hanya untuk mempermainkannya, maaf. Aku tidak bisa." Begitu tegas, jelas dan singkat penjelasan dari Unni.

__ADS_1


__ADS_2