Muslimah Untuk Mafia Psychopath

Muslimah Untuk Mafia Psychopath
43.


__ADS_3

Kepergian Azka yang tidak ia ketahui, membuat Unni merasa khawatir. Berusaha untuk tetap tenang dengan mengajak Putri dan Mawar mengelilingi mansion, namun rasa kekhawatirannya itu masih belum hilang.


Puas berkeliling, Unni memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Ia mengistirahatkan dirinya sejenak dengan menunaikan sholat sunnah dua rakaat, hal itu memberikannya sedikit ketenangan.


"Apa hubungi saja ya, tidak ada salahnya untuk hal itu."


Pada awalnya Unni merasa takut untuk menghubungi Azka, dimana ia tidak mau mengganggu waktu pria yang sudah menjadi suaminya. Namun rasa khawatir masih terus ada, memutuskan untuk menghubungi Azka pada akhirnya.


Panggilan pertamanya tidak mendapatkan respon, lalu Unni mencobanya kembali.


"Assalamu'alaikum hubby." Akhirnya panggilan itu mendapatkan respon.


Akan tetapi, Unni seperti merasakan ada sesuatu yang aneh dengan pendengarannya saat itu. Pembicaraan yang mereka lakukan, sudah cukup membuat perasaan Unni tenang. Disaat akan mengakhiri pembicaraannya, Unni mendapatkan jawaban yang begitu keras.


..."Bagaimana, apa kita harus membunuhnya?" ...


Degh!


Seketika respon tangan Unni menekan tombol merah dan menutup mulutnya dengan telapak tangan, tubuhnya terhuyung dan hampir jatuh.

__ADS_1


...Apa itu? Membunuh? Apa yang sedang dilakukannya, apa sama dengan yang pernah aku saksikan dulu? Tidak, tidak Ya Allah....


Air mata itu menetes seperti air yang mengalir, ponsel dalam genggaman Unni juga ikut terlepas. Menahan rasa sesak di dalam dadanya, yang belum sepenuhnya mengetahui siapa sebenarnya seorang Azka. Siapakah suaminya itu?


Membenamkan wajahnya pada kedua kakinya, saat ini ia kembali merasakan ketakutan.


.


.


.


.


"Tuan, selamat datang." Hugo menyambut kedatangan Azka.


"Dimana istriku?" Ucap Azka tegas.


"Nona berada dikamarnya, tuan." Hugo sedikit merasakan keanehan dari raut wajah Azka, namun tidak berani ia ungkapkan.

__ADS_1


Mendengar keberadaan Unni, Azka segera membawa langkah kakinya menuju kamar utama. Mendapati pintu kamar yang tidak terkunci, seketika membuat Azka menghela nafas leganya.


Berjalan perlahan mendekati sosok wanita yang sedang tertidur di atas sejadah yang ia gunakan, masih dalam balutan kain putih yang ia kenakan.


Membawa tubuh mungil itu dengan begitu lembut ke atas tempat tidur, hingga Azka dapat melihat wajah itu sedikit sembab. Menatapnya dengan begitu dekat, lalu Azka mendaratkan sebuah kecupan hangat pada keningnya. Dimana, hal itu telah membuat sang pemilik tubuh mungil terbangun dari tidurnya.


"Sayang." Azka mengusap wajah Unni.


Akan tetapi, tangan mungil itu menahannya. Melepaskannya perlahan menjauh dari wajahnya, air mata itu kembali menetes. Dengan cepat Unni menghapusnya dengan mengusapnya, memalingkan wajah agar tidak terlihat begitu miris dihadapan suaminya.


"Sayang, ada apa?" Azka merasa sakit melihat air mata itu pada wajah istrinya.


"Bersihkan terlebih dahulu tubuhmu, hubby. Setelahnya kita perlu bicara." Ucap Unni dengan lirih.


Menatap Unni dengan perasaan bersalahnya, Azka menuruti semua ucapan tersebut. Ia berjalan menuju kamar mandi, lalu membersihkan diri dengan menguyur air yang cukup dingin pada dirinya.


Keluar dari kamar mandi dan langsung menuju walk in closetnya, Azka menggunakan pakain santainya dan kembali menghampiri sang istri yang kini sudah melepaskan kain putihnya.


"Maafkan aku, jangan menanggis lagi." Azka memeluk Unni dari arah belakang.

__ADS_1


Mendapatkan perlakuan seperti itu dari Azka, membuat Unni kaget jika Azka sudah selesai. Unni berusaha menetralkan kondisi dirinya saat ini, tidak ingin membuat sesuatu hal yang bisa membuat mereka terpecah.


"Siapa dirimu, hubby?" Masih dalam keadaan yang sama, Unni mengucapkan apa yang ingin ia ketahui.


__ADS_2