Muslimah Untuk Mafia Psychopath

Muslimah Untuk Mafia Psychopath
37.


__ADS_3

Berkas tersebut David letakkan dihadapan Azka, namun pria itu tidak langsung membukanya.


"Apa aku terlambat?" Peter tiba di markas.


"Masuklah." David mempersilahkan Peter untuk ikut bersama mereka.


Dalam posisi seperti biasanya, mereka akan selalu membahas berbagai hal yang cukup penting disana. Setelah semuanya hadir, Azka mulai menarik berkas tersebut dan membukanya. Awalnya ia cukup kaget dengan profil orang tersebut, lalu ia hanya tersenyum kecut.


Berikutnya ia melemparkan berkas tersebut kepada Peter, berdiri mengambil segelas air dingin dan meneguknya dengan langsung habis.


Sama dengan Azka sebelumnya, Peter juga kaget dengan penemuan tersebut. Luapan emosi itu terlihat jelas dari raut wajah tampannya, sungguh penalaran yang jauh dari apa yang ia bayangkan selama ini.


"Apa yang cocok untuknya?" Peter mengajukan pertanyaan tersebut kepada Azka.


"Menurutmu?" Pertanyaan itu kembali pada Peter.


"Ah! Aku tidak bisa berpikir jernih saat ini, melenyapkannya adalah jalan yang lebih baik." Terang Peter yang sudah begitu muak dengan sikap orang tersebut.


"Bukankah kau sebelumnya begitu mencintainya, akan sangat disayangkan..."


"Tutup mulutmu, itu sudah lama berlalu." Ketus Peter yang tidak ingin diangkut pautkan dengan masa lalunya.


"Hahaha..." Suara tawa Azka bergema.


Pukh!


Peter melempar Azka menggunakan gelas yang berada ditangannya, namun gerakan tersebut sudah terbaca oleh target dan meleset.


"Kalian ini, berhentilah bermain-main. Mulailah untuk serius, apa kita harus meminta kolaborasi dari klan lainnya yang bertikai dengan mereka?" David memecah suasana aneh yang diciptakan oleh dua leader klan tersebut.


Keduanya yang bersitegang, kini kembali memasang muka serius. Namun tiba-tiba saja suara ponsel Azka berbunyi, nampak sebuah nama yang selalu menghantui dirinya.


...Hafsah? Ada apa? Tidak biasanya dia akan menelfonku secara langsung....


"Ya, ada apa?" Azka sedikit menjauh dari semuanya.


"..."


Mendengar suara yang cukup membuat dirinya khawatir, Azka menampakkan wajah tegangnya.


"Jangan terlalu percaya dengan apa yang dia bicarakan, sebesar mungkin menjauhlah. Apa penjaga bersamamu ?"


"..."

__ADS_1


Tiba-tiba saja pembicaraan itu terhentikan, kepalan tangan yang menggenggam ponsel tersebut menguat.


"Ada apa?" David membuka suaranya yang dari tadi memperhatikan pria itu.


"Tidak ada apa-apa, aku keluar sebentar. Kalian teruskan saja." Azka segera mengambil jasnya dan berjalan cukup cepat keluar dari ruangan.


"Tunggu, ada apa?" Peter juga merasa aneh dengan sikap Azka.


"Tunggu saja disini, aku akan segera kembali."


Tanpa berkata-kata lagi, Azka sudah terlalu jauh meninggalkan mereka semuanya. Bahkan Kenzo pun terdiam dalam posisinya, semua mata tertuju padanya dengan arti meminta penjelasan.


"Kenapa kalian semuanya menatapku seperti itu? Aku saja tidak diajaknya, mana aku tahu ada apa." Jawaban Kenzo menghentikan kecurigaan dari semuanya.


Melewatkan perdebatan mengenai Azka mau kemana, mereka semuanya kembali membahas semuanya.


.


.


.


.


Flashback on ...


"Mawar, kamu sedang sibuk tidak?" Unni menghampiri Mawar yang sedang membersihkan beberapa pajangan yang ada.


"Nona, setelah ini tidak ada. Apa nona membutuhkan sesuatu?" Mawar baru menyelesaikan pekerjaannya.


"Sebenarnya tidak ada, hanya saja ingin menyegarkan pikiran. Putri dimana?"


"Putri sepertinya ada di dapur, nona."


"Bisakah kalian berdua menemaniku?" Unni tidak akan bisa pergi tanpa ada yang menemani.


"Aduh non, saya takut nanti dimarahin oleh tuan."


"Sebelumnya kak Peter sudah memberikan izin, hanya saja aku harus ada yang menemani. Nanti aku akan izin juga pada Paman Hugo, apakah kalian bisa?"


"Bisa nona, bisa!" Teriakan dari arah dapur terdengar jelas, rupanya Putri mendengar percakapan mereka berdua.


"Ish, kamu ini nyambung ya cepet banget." Mawar mencebik dihadapan Putri.

__ADS_1


"Sudah-sudah, jangan bertengkar. Jika Paman Hugo memberikan izinya, kalian mau kan?"


"Mau." Keduanya menjawab secara bersamaan.


Mereka pun saling beradu pandang satu sama lainnya, karena pembicaraan mereka begitu lucu. Unni segera berbicara pada Hugo dan mendapatkan izin, hanya saja mereka harus membawa beberapa penjaga.


Berjalan menuju salah satu tempat perbelanjaan terbesar disana, ketiganya terlihat cukup gembira. Awalnya mereka maju ke dalam salah satu toko buka, karena Unni membutuhkan beberapa buku untuk ia baca. Lanjut dengan melihat berbagai aksesori dan juga barang lainnya, berakhir dengan mengisi perut di salah satu tempat makan yang cukup ramai.


Disaat mereka bertiga menikmati makanan yang telah dipesan, Unni yang baru saja selesai dari melakukan pembayaran. Tangan mungilnya tiba-tiba saja mendapatkan tarikan yang cukup kuat dan menyebabkan dirinya terbentur dinding, Unni meringgis.


"Nona!" Mawar dan Putri segera menghampiri Unni.


Seorang wanita dengan balutan pakaian yang terbilang mewah dan berwajah cantik itu, berdiri dengan begitu angkuhnya dihadapan Unni.


"Hei nona, jangan sembarangan begitu." Putri menatap Wanita tersebut dengan sangat tidak suka.


"Diam kamu! Aku tidak punya urusan dengan pelayan seperti kalian, hanya wanita ini yang harus berurusan denganku." Wanita itu adalah Jenie, mereka tidak sengaja bertemu.


"Saya? Saya tidak mengenal anda." Ucap Unni.


Plak!


Tamparan keras dan cukup kuat mengenai wajah Unni, dan terdapat sedikit goresan dari kuku Jenie pada pipi cuby itu. Beberapa pengawal yang bersama mereka segera menghalau Jenie, namun Unni meminta mereka untuk tidak membuat suasana semakin tidak baik.


"Heh, jangan pernah berpikir untuk menjadi wanitanya Azka. Dia adalah milikku, tidak akan kubiarkan wanita manapun yang mendekatinya. Hanya saja, kau mendapatkan pengecualian dariku."


"Beruntungnya kau adalah adiknya Peter, jika tidak. Maka kau akan aku habisi." Penekanan ucapan itu terdengar begitu keras.


"Eleh, wanita kayak gini banyak kok dipasar loak. Nyerocos saja dari tadi, dasar nenek lampir. " Putri mengeluarkan kekesalannya pada Jenie.


"Apa kau bilang, hah!" Jenie semakin tersulut emosi dengan ucapa Putri yang seakan merendahkan dirinya, ia mulai mengeluarkan jurusan untuk menyerang.


"Maafkan kami nona." Unni menarik Mawar dan Putri agar menjauh dari Jenie.


Pengawal sudah membentuk perlindungan untuk Unni, hal tersebut semakin membuat Jenie tidak terkendali. Dalam situasi tegang seperti itu, Putri dan Mawar meminta Unni untuk menghubungi Azka. Tanpa pikir panjang, Unni menurutinya.


Flashback off...


"Menyingkirlah kalian semuanya, aku hanya punya urusan dengan wanita ini!" Bentak Jenie kepada pengawal disana.


Suasan disana semakin tegang, tempat tersebut dikosongkan oleh pengawal yang ada. Disaat bersamaan, orang-orang yang diketahui sebagai pihak Jenie berdatangan dan terjadilah aksi serang menyerang.


"Kali ini, kau tidak akan aku biarkan lolos. Menjaulah dari Azka, atau nyawamu akan lenyap ditanganku!" Jenie menerobos pengawal tersebut dan berdiri dihadapan ketiga wanita tersebut.

__ADS_1


Baik Mawar maupun Putri berusaha melindungi Unni, namun mereka terlalu lemah untuk berlawanan dengan orang-orang yang berbaju serba hitam di pihak Jenie.


Unni pun tidak terlepas dari serangan Jenie, namun ia berusaha terus menghindar. Hingga pada akhirnya, sebuah tangan menariknya dan membuat dirinya nyaman.


__ADS_2