Muslimah Untuk Mafia Psychopath

Muslimah Untuk Mafia Psychopath
80.


__ADS_3

Cukup membutuhkan waktu bagi Varo menenangkan pikirannya, nampak Aira begitu ketakutan saat Varo menatapnya.


"Kalau boleh tahu, kalian ada masalah apa?" Unni memecah kesunyian yang sempat terjadi diantara mereka.


Varo masih menatap Aira dengan begitu tajam, rasanya ia ingin sekali memakan wanita itu. Karena dari pagi, wanita itu sudah membuat Varo kesal.


Sedangkan Aira, wanita itu terus menunduk. Tidak berani untuk menaikan wajahnya, karena Varo sudah menatapnya begitu tajam. Namun semuanya itu bisa dibaca oleh Unni, wanita itu lalu tersenyum.


"Apa perlu mommy yang menyelesaikannya bang?"


"Hah! Benar-benar sial hari ini, biarkan saja dia mom. Kepala abang rasanya mau pecah hari ini, bila perlu katakan padanya jangan menampakkan wajahnya dihadapanku lagi!" Ucapan itu benar-benar membuat Unni kaget, dan Varo pun melangkah pergi menuju kamarnya.


Unni hanya bisa bernafas dengan sedikit berat, baru kali ini ia melihat putra sulungnya begitu tertekan. Pandangan itu beralih kepada Aira, dimana wanita itu sudah berlinangan dengan air mata.


Dengan hal tersebut, Unni menghampirinya dan menggenggam tangan yang masih bergetar itu.


"Tante tidak memaksamu untuk bercerita mengenai masalah yang sedang kalian alami, hanya saja. Tante tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak baik nak." Dengan penuh kelembutan, Unni mengusap tangan itu.


Pada akhirnya, tanggisan itu berhenti dan Aira memberanikan diri untuk menatap wajah wanita yang penuh dengan kelembutan tersebut.


"Maafkan saya, maafkan saya nyonya. Saya benar-benar bersalah, saya tidak sengaja menumpahkan kopi itu di atas laptopnya tuan Varo. Ada seseorang yang mendorong saya, dan dan..."


"Diam dan keluar dari rumahku!"

__ADS_1


Tiba-tiba saja suara menggelegar bagaikan petir terdengar sangat menyeramkan, Varo yang rupanya masih setia mendengarkan apa yang sedang mommy nya bicarakan dengan wanita tersebut.


"Abang." Tegur Unni pada anaknya.


"Aku bilang keluar!" Sekali lagi Varo berteriak, sehingga beberapa pelayan dan juga pengawal berlari berhamburan kesana.


Tubuh Aira bergetar dengan sangat hebat, ia seakan-akan telah kehilangan nyawanya. Rupanya, kejadian saat ia berada di perusahaan tempatnya bekerja. Membuat dirinya berakhir di mansion megah tersebut, hanya karena ingin meminta maaf dan berusaha mempertahankan pekerjaannya. Demi menyambung hidup dirinya dan juga ibunya, karena hanya Aira lah yang menjadi tulang punggung di keluarganya setelah sang ayah meninggal dunia.


"Saya mohon, ampuni saya tuan. Saya benar-benar tidak sengaja, jangan pecat saya tuan. Saya mohon." Aira berlutut dihadapan Varo yang masih terlihat begitu dingin.


"Astaghfirullah, ayo berdiri! Jangan pernah bersikap seperti ini nak, kamu hanya boleh bersujud hanya kepada Sang Pencipta. Abang! Ambil wudhu dan temui mommy." Tegas Unni yang tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh putranya itu.


Membawa Aira yang masih sesegukan, menolak untuk beranjak dari tempatnya sebelum mendapatkan ampunan dari Varo. Dan hasilnya, Unni mengambil sikap tegasnya agar sang putra menurunkan kadar amarahnya.


"Tapi nyonya, jika saya dipecat. Ibu saya tidak akan bisa berobat lagi, karena hanya dari pekerjaan ini saya berharap untuk mendapatkan uang." Tanggis Aira semakin membuat wajahnya basah.


Kedua tangan Unni membawa Aira ke dalam pelukannya, mengusap bagian punggungnya dengan perlahan. Unni seperti sedang memeluk putrinya sendiri, dengan penuh kelembutan dan juga kasih sayang. Meminta Aira untuk menceritakan kehidupannya, membuat Unni merasa tersentuh.


"Mulai saat ini, jangan khawatir akan biaya pengobatan ibumu. Anggap saja semuanya ini adalah pertolongan dari Allah melalui keluar kami, jangan menanggis lagi ya. Nanti cantiknya hilang." Unni memecah suasana menjadi berwarna.


"Ta pi nyonya." Aira semakin tidak mengerti dengan jalan kehidupannya saat ini.


"Tante, atau kamu bisa memanggil saya dengan sebutan mommy."

__ADS_1


"Mom!" Varo Lagi-lagi membuat suasana menjadi tegang kembali.


Tak hanya Varo yang datang, ternyata Azka pun baru tiba. Keduanya pun menghampiri Unni, dengan sikap Varo yang masih begitu dingin menatap Aira.


"Ada tamu rupanya." Ucap Azka dengan meraih tubuh Unni dari arah samping.


"Sayanh, duduklah. Ada yang maunaku bicarakan." Pinta Unni kepada Azka.


"Mom, ayolah." Varo mulai jengah dengan keadaan saat itu


Dengan cepat Unni mengisyaratkan pada Varo untuk duduk, tanpa ada penolakan dalam bentuk apapun. Sedangkan Azka mengikuti ucapan sang istri, yang selalu mempunyai arti dalam setiap sikapnya.


"Sayang, bisakah aku meminta bantuan padamu?"


"Apapun itu." Azka dengan begitu tenangnya.


Akhirnya Unni menceritakan tentang apa yang telah Aira katakan sebelumnya, sebelum menjawab atas permintaan sang istri. Azka sempat menatap ke arah Aira, yang masih tertunduk. Lalu pandangannya beralih pada Varo, yang gelisah seperti cacing kepanasan.


Belum sempat Azka menjawabnya, ponsel Aira bergetar. Ia segera mengambilnya dan melihat siapa yang menghubunginya, ternyata pihak dari rumah sakit dimana tempat ibunya sedang dirawat.


Ponsel tersebut terhempas begitu saja, jatuh ke lantai. Disusul dengan tubuh Aira yang tumbang, hal tersebut membuat Unni menjadi panik. Azka mengambil alih ponsel tersebut, berbicara pada orang yang menghubungi Aira.


"Kita ke rumah sakit." Tegas Azka tanpa penolakan dengan menatap tajam kepada Varo.

__ADS_1


__ADS_2