Muslimah Untuk Mafia Psychopath

Muslimah Untuk Mafia Psychopath
67.


__ADS_3

"Sayang, kamu tidak apa-apakan?" Rasa cemas Azka begitu terlihat.


Awalnya Unni tidak memberikan respon apapun atas ucapan Azka, ia masih berada dalam rasa takutnya. Kalimat istighfar terlantunkan dari mulutnya, dan Perlahan-lahan semuanya kembali normal.


"Hu bby."


"Ya sayang, aku ada disini. Sudah lebih baik?"


"Mmm, maaf. Aku belum bisa menjadi teman mereka."


"Huh, kamu tidak perlu merasa bersalah seperti ini. Jangan terlalu dipikirkan." Usap Azka pada punggung tangan Unni.


Wajah pucat Unni masih terlihat jelas, bahkan saat ini ia ingin mengeluarkan semua isi dalam perutnya. Dengan cepat ia menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan dan berlari menuju kamar mandi, namun belum sampai disana. Tiba-tiba pandangan matanya tampak berembun dan bergoyang.


Brugh!


" Sayang!"


Berlarian menghampiri Unni yang sudah tidka sadarkan diri, Azka langsung membawanya untuk dibaringkan di atas tempat tidur. Mengambil ponselnya dan menghubungi Mark.


"Datang kemari dalam waktu sepuluh menit!"


Sambungan telfon itu langsung Azka akhiri, tanpa menunggu jawaban dari orang yang ia ajak bicara. Terdengar sayup-sayup umpatan pedas dari seorang Mark sebelum pembicaraan tersebut berakhir.


Sedangkan pada taman belakang mansion, Varo masih nyaman berada diantara dua kucing imutnya.


"Tuan muda, sudah waktu untuk berisitirahat." Mawar menghampiri Varo dan membujuknya untuk masuk ke dalam mansion.


"Nanti saja." Jawaban singkat itu sebagai tanda, jika dirinya sedang tidak ingin melanjutkan apapun.

__ADS_1


"Tapi tuan muda, nanti tuan besar marah." Mawar terus mencoba membujuk agar Varo mau untuk masuk.


"Aku bilang tidak, ya tidak!!" Varo beranjak dari tempatnya dengan cukup kasar, sehingga membuat dua kucing imutnya itu kaget.


Berjalan cepat dan hendak pergi ke arah lainnya, namun saat langkah kaki kecil itu melewati pintu utama. Ia melihat kedatangan Mark dengan sangat terburu-buru dengan tas yang merupakan ciri khasnya sebagai dokter, hal itu membuat Varo berhenti.


Sorot matanya tertuju dengan sosok Mark yang berjalan cepat, masuk ke dalam mansion.


"Mom." Suara lirihnya itu keluar dari mulut kecilnya.


.


.


.


.


Brakh!


"Berani-beraninya kau..." Kalimat tersebut mengantung, saat kedua bola matanya menangkap pemandangan yang sangat tidak ia sangka.


Langkah kaki yang semulanya lebar, kini berubah menjadi seperti langkahnya seseorang yang baru saja melaksanakan khitan. Mark semakin mendekati kedua pasangan suami istri itu, sebelum ia duduk.


Bugh!


Bugh!


"Lain kali, mendapatkan perintah tanpa harus membantah!" Seringai Azka lalu menghempaskan Mark sehingga ia terduduk.

__ADS_1


Tidak bisa membalas apa yang dilakukan oleh Azka, Mark hanya bisa menyengir tanpa rasa bersalah. Lalu ia segera melakukan apa yang sudah menjadi tugasnya, keningnya berkerut.


"Katakan." Ucapan tegas itu terdengar mengerikan.


"Tunggu dulu, tidak sabaran sekali." Mark mengulang untuk memastikan diagnosa mengenai apa yang dialami oleh pasiennya.


Melepas steteskop dari tubuhnya, Mark menyeringai membalas Azka. Lalu ia berdiri untuk berhadapan dengan pria itu, menghela nafas panjangnya untuk kesekian kali saat harus berhadapan dengan Azka.


Ccttaakk!


"Katakan, mulutmu terlalu bagus untuk aku satukan." Kembaki Azka menegaskan pada Mark.


"Iya iya, bawel sekali. Selalu saja, istrimu tidak sakit apapun."


"Hah! Kau bilang tidak sakit apapun? Dia tidak sadarkan diei seperti ini, kau masih bilang tidak sakit apapun?!!" Azka menarik rambut tipis pada bagian sisi wajah Mark.


"Aaaaaarkk!!" Teriak itu menunjukkan jika Mark adalah dokter yang juga bisa merasakan sakit, hehehe.


"Makanya jawab yang benar!" Azka menegaskan kembali.


Mark masih mengusap kedua sisi wajahnya, rambut tipis yang berada pada sisi wajahnya terasa ingin lepas.


"Setan kecil itu akan mempunyai adik, tapi ini hanya perkiraanku saja. Lebih baik, kau hubungi Sovia saja. Sudah ah, aku mau turun saja. Lama-lama berhadapan denganmu, bisa habis tubuhku terkena tanganmu." Mark membereskan tas yang ia bawa.


"Tunggu! Kau bilang, Varo akan mempunyai adik. Itu berarti, istriku sedang mengandung lagi?"


Perlahan Mark menepuk keningnya, memutar kedua bola matanya dengan sangat malas. Jika Azka selalu unggul dalam berbagai hal, namun tidak dengan masalah wanita.


"Temui saja Sovia, bye!" Cara satu-satunya untuk segera menghilang dari hadapan Azka, yaitu kabur.

__ADS_1


__ADS_2