
"Dad, gantian dong. Varo juga mau main sama adik-adik." Protes Varo yang selalu bersaing dengan daddy nya dan juga pamannya.
"Sebentar nak, daddy baru saja menggendongnya." Azka pun tidak mau kalah dengan putranya.
"Hahaha, kalian benar-benar terlihat seperti ayah dan anak." Lelucon aneh yang Mark lontarkan.
Plak!!
Mark berteriak karena kepalanya mendapatkan sebuah salam perkenalan dari tangan Peter, lalu ia mendapatkan lagi bonus tatapan tajam dari David.
"Kalian benar-benar tidak bisa diajak bercanda, membosankan. Hei nona, cepat buka matamu. Aku habis diserang oleh mereka, bantu aku untuk menghukum mereka!" Mark tujukan kepada Unni yang masih setia memejamkan matanya.
Bugh!
"Argh! Kalian benar-benar menyebalkan!!!" Mark segera berlari kejuar dari kamar perawatan tersebut, setelah perutnya merasa keram akibat pukulan dari Varo.
"Jangan pernah meracuni pikiran mommy dengan ucapanmu, uncle!" Erang Varo yang menatam tajam pada Mark.
Merasa situasi disana sudah tidak baik untuk dirinya, Mark memilih segera menjauh saja. Daripada menyerahkan nyawanya pada orang-orang disana, bisa habis dirinya dalam sekejap mata.
__ADS_1
Sementara para pria disana sibuk menemani si kembar, Varo memilih mendekati sang mommy dan mengajaknya berbicara. Entah mengapa, dirinya seperti tidak mempunyai kehidupan disaat wanita yang begitu ia cintai dalam keadaan seperti itu.
"Mom, bangunlah. Varo sangat mencintaimu, mom." Varo menitikkan air mata pada punggung tangan Unni.
Lalu Varo merebahkan kepalanya disamping tangan tersebut, dengan waktu yang singkat telah membawa dirinya melanjutkannya ke dalam lelapnya dunia mimpi.
Tanpa disadari siapa pun, tangan mungil itu bergerak dan mengusap puncak kepala anak kecil tersebut. Begitu pun dengan kedua matanya yang perlahan menyesuaikan cahaya disana, dalam keadaan masih lemah. Hanya bisa menatap dengan penuh kebahagian, pada kedua anggota baru dalam keluarganya yang masih asik berada di antara para pria dewasa disana.
Gerakan tangan itu berhenti, ketika tangan kecil menggenggamnya. Kedua pandangan mereka bertemu, ada kerinduan yang sangat besar terlihat pada kedua mata itu.
"Mom, mommy!" Suara Varo berhasil mengalihkan semua tatapan kepadanya.
Membawa kedua anggota baru mendekati tempat dimana ibunya berada, hal tersebut membuat yang lainnya ikut merasakan bahagia. Azka menumpahkan segala kerinduan dan juga bahagianya pada wanita yang sudah membuat hidupnya berwarna, tak lupa ia mendekatkan kedua malaikat kecil yang menjadi anggota baru dalam keluarga mereka.
"Terima kasih sayang, terima kasih sudah bertahan dan berjuang untuk kami." Baik Azka maupun Varo dan yang lainnya ikut larut dalam kebahagian tersebut.
Dipertemukan dengan kedua putranya yang baru ia lahirkan, setelah Sovia memastikan keadaan Unni dalam keadaan yang baik. Kedua bayi mungil itu mengeliat saat berada dalam dekapan sangat mommy nya, bahkan mereka berdua seperti hendak mencari sumber asupan makanan yang ada.
"Dad, bisakah kamu mengajak mereka semuanya untuk menikmati teh hangat?" Isyarat dari Unni agar Azka mengajak semua anggota yang ia pimpin untuk keluar dari ruangan tersebut, karena ia ingin memberikan kedua putranya makanan yang sesungguhnya.
__ADS_1
Mengerti akan apa yang dikatakan oleh istrinya, Azka menghela nafas saat melihat semua yang berada di dalam ruangan tersebut. Hampir semuanya dominan dengan laki-laki, ia baru menyadari hal tersebut.
"Kalian semuanya keluarlah, sudah waktunya minum teh. Bon nya nanti berikan pada Kenzo." Azka menurunkan apa yang di ucapkan oleh Unni.
Semuanya yang berada disana menjadi terdiam, bagaimana bisa leader mereka yang selalu berbicara ketus dna juga dingin. Kini, ia mengatakan dengan cukup lembut.
"Hei, benarkah itu bos kita? Apa dia sedang keracunan?"
"Iya ya, apa benar itu Azka? Aku jadi meragukannya, huh menyeramkan jika dia berubah menjadi manusia lembut." David ikut berkomentar.
Plak!
Plak!
"Berhenti bergosip, dua keponakan kalian sudah lapar. Ayo keluar!" Peter memberikan sedikit pukulan pada kepala dua pria yang sedang bergosip itu.
"Hahaha, uncle semuanya sangat lucu sekali. Keluarlah sebelum aku juga memberikan hadiah kepada kalian." Tawa Varo membuat merinding para uncle nya.
Dengan cepat semuanya mengambil langkah seribu untuk hilang dari ruangan tersebut, menyadari jika aura ayah dan anak itu sudah tidak baik.
__ADS_1
Dari tempatnya, Unni hanya tersenyum dengan drama yang baru saja terjadi. Ia merasa geli dengan semua sikap dan tingkah laku dari para pria yang dijuluki dengan mafia, mereka akan menjadi malaikat pencabutan nyawa saat berada di dunianya dan berubah kembali menjadi manusia pada umumnya ketika berada di lingkungan mansion Azka. Semuanya karena kehadiran wanita mungil berhati bidadari, Hafsah Kamilatunnissa.