
Semakin dalam Azka membenamkan wajahnya pada punggung Unni, menghirup aroma yang tubuh Unni berikan.
"Apa yang ingin kamu ketahui sayang? Aku akan menceritakan semuanya padamu, hanya saja. Jangan pernah pergi dari kehidupanku." Ada nada kesedihan dalam ucapan yang Azka katakan.
Unni merasakan hal tersebut, ia melepaskan kedua tangan Azka dari dirinya. Membalikkan tubuhnya sehingga kini mereka saling berhadapan satu sama lain, Unni melihat wajah suaminya itu tertunduk lesu.
"Aku tidak ingin ada yang dirahasiakan diantara kita, hubby. Aku benar-benar tidak mengetahui apapun mengenai dirimu, bahkan kakakku sendiri. Dunia seperti apa yang kalian kerjakan, bahkan aku sendiri tidak mengenali siapa keluargaku sendiri." Kembali Unni meneteskan air mata dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Suara isakan itu terdengar jelas ditelinga Azka, mendapati hal tersebut. Azka meraih tubuh Unni masuk ke dalam pelukannya, dengan erat ia memeluk tubuh mungil itu.
"Berhentilah untuk menanggis, maaf. Maaf sudah membawamu ke dalam kehidupanku, maaf." padanya, dimana pikiran Unni teringat dengan salah satu peristiwa yang ia lihat sendiri saat itu.
Secara perlahan, Azka mulai menceritakan siapa dirinya yang sebenarnya. Bahkan dengan pekerjaan yang saat ini ia kuasai, tidak ia lewatkan sedikitpun untuk diceritakan. Namun, cerita tersebut membuat Unni perlahan menarik dirinya untuk lepas dari pelukan Azka, akan tetapi dengan kuat pula Azka masih menahannya.
__ADS_1
"Jangan pergi, maafkan aku sayang. Aku sangat mencintaimu." Teriak Azka dengan cukup keras, membuat Unni yang hendak pergi menjadi kaku dan tubuhnya terhempas ke lantai.
Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir mungil itu, Unni hanya bisa terisak dalam kesedihannya. Dengan peristiwa ini, Azka benar-benar ingin memahami apa yang Unni rasakan.
"Maaf, maafkan aku." Azka berbicara dari tempatnya berdiri, ingin ia mendekati Unni. Namun khawatir jika istrinya itu akan semakin terisak dan terluka, kini Azka yang berjalan menjauh dari Unni. Ia membuka pintu kamarnya dan saat akan menutupnya, ia sempat menatap sejenak Unni yang masih terisak.
"Jika dengan semua ini, kamu merasa menyesal. Aku akan membebaskanmu dari semuanya, dan. Aku minta maaf atas semuanya." Pintu kamar kini tertutup dengan rapat.
Azka berjalan menuju ruang kerjanya, hati dan perasaannya kini begitu hancur. Melepaskan semua amarah yang ada di dalam dirinya, Azka menghantamkan kepalan tangannya pada dinding yang ada di ruang kerjanya dengan sangat keras. Membuat punggung jari dan tangannya mengalami luka dan memar, lalu Azka melemparkan hampir seluruh dari barang-barang yang ada disana. Hingga keadaan di dalam ruangan itu benar-benar hancur, Azka berteriak keras meluapkan segala kekesalannya.
Hati Azka merasa sangat hancur, ia tidak menyangka jika semua ini akan berdampak sangat besar. Jika ia terlihat dingin dan kejam, namun tidak saat berhadapan dengan wanita yang kini menjadi istrinya.
Dalam keadaan kacau, Azka duduk bersandar pada dinding yang ia pukul sebelumnya. Kedua tangannya berjumpa pada kaki yang ia tekuk, tanpa ia sadari jika dirinya menanggis.
__ADS_1
Tiba-tiba saja, Azka merasakan ada sesuatu yang hangat merangkulnya dari arah samping tubuhnya.
"Jangan menyalahkan diri seperti ini, hubby. Aku hanya kaget dan belum mengetahui mengenai dirimu, aku yang seharusnya meminta maaf padamu."
Suara itu membuat Azka membuka matanya, mendapati Unni yang memeluknya dari arah samping. Sangat tidak ia sangka, yang ia kira istrinya akan sangat membenci dirinya.
"Berikan aku waktu untuk menyesuaikan diri dengan semua, jangan mengatakan hal yang tidak-tidak lagi." Unni membenamkan wajahnya.
Tangan Azka bergetar, menyentuh puncak kepala Unni dan mengusapnya dengan lembut. Tidak menyangka jika wanita yang ia kira akan membencinya, namun ternyata tidak seperti apa yang ia duga.
"Terima kasih, sayang." Kedua larut dalam keadaan yang baru saja mereka alami.
Menerima pasangan yang cukup membuatnya kaget, baik itu dari dari pribadinya maupun kehudpannya yang lain. Saat ini, Unni tidak ingin menggunakan emosinya sebagai penyelesai dari permasalahan yang saat ini mereka alami.
__ADS_1
...Maafkan aku, hubby. Sungguh ini terlalu berat untuk aku alami, berikan aku waktu untuk memahami dirimu. Ya Rabb, kuatkan hamba. Ini semuanya sudah Engkau rencanakan untuk kami, bantu kami untuk menemukan jalan yang terbaik dari setiap permasalahan yang ada....