
"Kenapa sulit sekali mencari pekerjaan saat ini." Unni menatap layar datar dihadapannya dengan bertopang dagu.
Sejak ia memutuskan tidak bekerja lagi di perusahaan Azka, membuat Unni harus mencari pekerjaan di tempat lain. Jika tidak, ia tidak akan bisa bertahan hidup dengan hanya mengandalkan keadaannya saat ini.
Menghubungi Jihan, dimana ia mendapatkan kabar jika perusahaan sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Karena merasa penasaran akan berita tersebut, membuat Jihan kini berada ditempatnya Unni.
"Kamu sih Ni, pakek keluar segala. Tahu nggak".
"Nggak tahu." Jawab Unni yang membuat Jihan manyun.
"Idih ni orang, belum juga selesai kalimatnya sudah main cut aja. Dengerin dulu ya say, tuan Azka sekarang dingin banget loh. Kalau berhadapan ataupun melihatnya dari kejauhan, ni leher belakang jadi seeerrr..." Jihan memperagakan jika ia merinding dan takut.
"Memangnya, kalian tidak tahu penyebabnya apa? Mungkin saja ada pekerjaan ataupun klien yang bermasalah gitu, apa persoalan pribadi." Unni yang semakin besar rasa penasarannya.
"Kalaupun aku tahu, lebih baik aku pura-pura tidak tahu saja Ni. Soalnya, kalau sudah berurusan dengan bos besar kita itu bakalan panjang dan rumit." Jihan menyesap teh hangat dari gelasnya.
Unni nampak berpikir setelah mendengar cerita Jihan, ada perasaan bersalah yang dimana Unni mengira jika perubahan itu dirinyalah menjadi penyebab dari perubahan Azka.
Sebelumnya merek berdua mempunyak rencana bersama, dimana Jihan menemani dirinya pada ke esokan harinya, untuk mengambil beberapa barang yang belum ia ambil di dalam ruang kerja miliknya.
"Sudah semua Ni? Jangan sampai ada yang kelupaan, soalnya akan ada karyawaan baru yang akan menempati meja milikmu. Eh, kenapa kamu tidak mencoba melamar pekerjaan pada perusahaan tuan Eiger saja. Siapa tahu disana sedang membutuhkan karyawaan, kan kita tidak tahu Ni."
"Alhamdulillah sudah semua, kalau itu. Aku tidak enak sama dia, tuan Eiger sudah banyak membantuku dan juga keluarga besarku. Kalau bisa si, aku yang mau balas kebaikannya." Berat rasanya bagi Unni untuk meminta bantuan kembali pada pria yang sudah begitu baik padanya.
"Ya sudah, nanti pasti akan ada jalannya yang lain. Kamu langsung mau pulang?" Jihan masih mau bersama Unni lebih lama, akan tetapi ia tidak ingin perusahaan mengeluarkan hukuman.
"Sepertinya, semangat ya kerjanya. Sampaikan salamku pada kak Ferdy dan teman-teman yang lainnya, Assalamu'alaikum, selamat bekerja." Unni memberikan salam dan berpamitan kepada Jihan, berlama-lama disana membuat Unni takut untuk bertemu dengan Azka.
__ADS_1
Berjalan dengan membawa kotak berukuran sedang, melewati ruangan sang pemilik perusahaan. Namun, telinga Unni tidak sengaja mendengar kegaduhan dari dalam ruangan tersebut. Kaki itu berhenti seketika, membuat Unni menjadi penasaran akan apa yang terjadi.
...Ada apa ya? Seperti ada keributan dari dalam? Tapi, tidak mungkin dia ada didalam sana. Ini masih terlalu pagi....
Memberanikan diri untuk menarik tuas dari pintu tersebut, perlahan ia membukanya dan melirik sedikit demi sedikit ke arah dalam ruangan.
"Assalamu'alaikum." Ucapnya dengan sangat pelan, dimana hanya dirinya yang bisa mendengarnya.
Mata Unni menangkap keadaan dari dalam ruangan tersebut, betapa kagetnya ia saat mendapati ruangan itu sangat berantakan seperti habis terkena perampokan. Kaki itu pun melangkah walaupun perlahan untuk memasuki ruangan, tidak ada orang disana.
Pintu kamar pribadi milik Azka terbuka, lagi-lagi karena rasa penasaran yang besar. Membuat Unni melangkahkan kakinya untuk melihatnya, baru saja hendak melihat keadaan disana. Ia mendapati seseorang dalam posisi tidur tengkurap, ada keanehan disana.
" Astaghfirullah, tuan Azka!" Kaget Unni saat melihat wajah dari orang tersebut.
Kondisi Azka saat itu bisa dikatakan buruk, dengan kondisi pakaian yang berantakan. Banyak sekali botol minuman beralkohol berserakan disana, tidak ingin sendirian. Unni segera berlari keruangan Jihan, disana juga sudah ada Fahry. Mereka bertiga ke bali ke dalam ruangan Azka, dengan bantuan Fahry untuk memindahkan Azka pada tempat yang lebih baik.
Jihan dan Unni saling bertatapan, karena mereka berduka tidak mempunyai nomor ponsel milik Kenzo. Hal serupa juga di alami oleh Fahry, namun betapa beruntungnya mereka. Disaat bersamaan, Kenzo menghubungi ponsel milik Azka. Langsung saja Fahry menerimanya dan memberitahukan keadaan Azka, sambil menunggu kedatangan Kenzo. Mereka bertiga membereskan ruangan tersebut, jika mereka meminta bantuan petugas kebersihan. Yang ada hanyalah akan keluar gosip tidak mengenakan mengenai Azka.
"Apa yang terjadi?"Dengan nada khawatir, Kenzo memperhatikan keadaan Azka yang masih terlelap.
"Saya kurang memahaminya tuan, kami menemukan tuan Azka sudah seperti ini dan juga keadaan ruangan yang cukup berantakan." Jelas Fahry kepada Kenzo.
"Jangan, jangan pergi." Suara itu berasal dari Azka yang masih terlelap.
Semuanya menjadi kaget, terlebih lagi wajah Azka terlihat begitu basah karena berkeringat. Sepertinya dia sedang mengalami mimpi buruk, itulah yang diduga.
"Hafsah, jangan pergi! Hafsah!"
__ADS_1
Kembali semuanya kaget, terutama Unni. Disaat melebarkan kedua matanya, namun Unni malah mengkerutkan keningnya.
"Ni, nama kamu tu." Senggol Jihan pada bahu Unni.
"Apaan sih." Unni merasa aneh.
Suasana nampak begitu tegang, karena mereka menyaksikan Azka meracau menyebut nama seorang wanita dalam tidurnya. Dan itu membuat Kenzo berpikiran jika Azka menyukai Unni, hanya saja tidak diungkapkan.
"Akh!" Kedua mata Azka perlahan terbuka, ia memegang kepalanya dengan kuat, karena masih terasa begitu pusing.
Kedua mata Azka membulat saat mendapati orang-orang berada dihadapannya, apalagi matanya menangkap seseorang yang sudah membuatnya kacau dalam beberapa waktu ini.
"Kalian, sedang apa disini?!"
"Seharusnya itu kami yang bertanya, kenapa kamu ada disini dengan keadaan tidak sadar mengacak-acak ruangan dan juga minum dalam jumlah cukup banyak. Jawab!" Suara tegas Kenzo kepada Azka, lagi-lagi membuat kaget yang lainnya.
Selama ini, mereka tidak pernah melihat Kenzo berkata kasar ataupun membantah perintah dari Azka, tapi saat ini sungguh berbeda.
"Kau, beraninya berkata seperti itu padaku. Ingin aku pecat, hah!" Azka balik tegas kepada Kenzo.
"Heh, beraninya mengancam. Coba saja lakukan, jika kau tidak akan menderita sakit kepala. Nona Hafsah, pria seperti ini yang menyukaimu? Kalau saya, buang dari daftar hidup ni orang." Racau Kenzo dan berlalu keluar dari ruang pribadinya Azka.
"Kau!" Erang Azka.
Keadaan semakin membuat Fahry maupun Jihan pusing, mereka berdua menarik diri dan kembali keruangan untuk bekerja. Menyerahkan semuanya kepada orang yang bersangkutan dan tidak ingin terlibat, apalagi yang berhubungan dengan Azka.
...Aduh, kenapa malah seperti ini jadinya. Lebih baik aku pergi saja, lagi pula sudah tidak ada kepentingan lainnya....
__ADS_1
Unni perlahan melangkah mundur untuk segera keluar dari ruangan tersebut, Kenzo hanya bisa menatap aksi keduanya dari kejauhan. Belum juga sepenuhnya kaki Unni menjauh, Azka terlebih dahulu menahan tangannya.