
"Ayolah hubby, kalau seperti ini. Sama saja tidak bergerak." Unni yang mulai protes dengan berbagai aturan dari Azka.
"Menurutlah mom, ini hanya sementara." Perkataan Azka tidak akan pernah bisa terkalahkan.
Memang tidak bisa dipungkiri, Unni merasa kali ini. Suaminya sangat bahkan terlalu berlebihan dalam menjaga dirinya, walaupun seperti itu. Dirinya tidak sanggup untuk membantah ataupun menolaknya, pada usia kehamilan yang sudah memasuki bulan ke sembilan. Untuk tidur maupun duduk saja, Unni sudah mengalami kesulitan.
"Auw!" Unni meringgis saat akan duduk.
"Mom! Kenapa? Sakit lagi?" Kepanikan Azka melihat istrinya meringgis.
"Emmm, mereka sedang aktif dad. Tidak apa-apa, arkh!"
"Mom!"
Mengatur nafasnya dengan perlahan, menahan perutnya dengan salah satu tangannya dari rasa sakit. Kehamilan kembar ini, memang membawa sesuatu yang berbeda. Jika dirinya dikatakan mengalami kandungan yang lemah, namun tidak untuk kedua janin yang berada di dalamnya.
Dan saat itu, Varo yang baru saja selesai dengan bermain bersama ada kucing imutnya. Berlarian masuk ke dalam kamar kedua orangtuanya, Varu juga menyaksikan saat Unni meringgis dengan rasa sakitnya.
"Mom! Are you oke, hallo adik-adik abang. Jangan gaduh ya didalam, soalnya mommy merasakan sakit. Jadi, kalian berdua kalau mau bergerak. Pelan-pelan ya, biar mommy enakan." Usap tangan kecil itu pada perut besar sang mommy.
"Iya sayang, terima kasih ya." Unni mengusap puncak kepala Varo.
Namun kedua tidak menyadari jika sang daddy manyun, melihat kedekatan dan juga perhatian Varo kepada mommy nya. Azka bersedekap dihadapan keduanya, memanyun manyunkan bibirnya karena diabaikan.
"Mom, Varo mandi dulu ya. Soalnya ada tu!" Varo melirik Azka sejenak dan langsung kabur.
__ADS_1
"Varo!!" Teriak Azka.
"Sorry dad."
Unni menghentikan Azka dari sikapnya yang kekanak-kanakan, kepalanya selalu pusing jika Varo dan Azka membuat drama. Drama diantara anak dan daddy nya, selalu saja bertengkar ataupun beradu argumen.
Dalam waktu yang bersamaan, ponsel Azka berdering. Dimana terdapat nama Ady yang menghubungi, raut wajah itu seketika berubah menjadi dingin.
"Bicaralah, pasti ada hal penting yang mau disampaikan." Ujar Unni agar suaminya tenang.
Lalu Azka menerima panggilan dari Ady, saat akan beranjak dari duduknya. Azka menyempatkan untuk memberikan kecupan pada puncak kepala sang istri.
Memilih untuk berbicara padanya balkon kamar mereka, Unni merubah posisi duduknya, menjadi bersandar pada kepala tempat tidurnya. Mengambil mushab dan membacanya sembari mengusap perutnya yang sudah begitu besar, dengan waktu yang tidak lama lagi akan bertemu dengan baby twins.
Brakh!
Disana, menampakkan wajah Azka yang sangat berbeda. Segera saja ia menghampiri Unni, sedikit berlutut dihadapannya.
"Sayang, kita harus segera pergi. Tempat ini sudah tidak aman lagi!" Suara Azka yang terdengar begitu tegas dan ada getaran rasa kekhawatiran disana.
"Ada apa, kenapa dad?" Unni ikut bingung.
"Aku akan meminta Mawar dan Putri bergegas, begitupun juga kita. Ayo!" Azka membantu Unni untuk turun dari tempat tidur dan membawanya keluar dari kamar.
"Hugo! Mawar! Putri!" Teriakan Azka bergema di dalam mansion, akibat dari teriakan itu juga membuat Varo mendengarnya.
__ADS_1
Anak kecil itu berlarian mendekati kedua orangtuanya yang sedang berjalan untuk turun dari lantai atas menuju lantai bawah, begitu pula dengan orang yang namanya telah Azka teriakan.
"Tuan." Ketiganya bergegas menghampiri.
"Persiapkan semuanya, kita akan menuju villa hijau!" Tegas Azka.
Mendengar kalimat 'villa hijau', membuat ketiga mengerti akan arti dari kalimat tersebut. Dengan cepat mereka mempersiapkan apa yang sudah menjadi tugas mereka, bersamaan dengan tibanya Peter dan juga Kenzo disana.
"Kalian sudah siap?!" Tanya Peter dengan raut wajah yang cukup datar dan dingin, menambah rasa kekhawatiran pada diri Unni.
"Kak!"
Peter bergegas menyambut tangan Unni dan menempatkan pada kursi yang terdekat, berlutut dihadapan sang adik agar tidak membuatnya menjadi semakin tegang.
"Kakak harap, kamu bisa memahami situasi yang sedang kita hadapi. Hem, maafkan kami membawamu dalam situasi seperti ini."
"Uncle!" Varo memeluk tubuh kekar Peter dari arah belakang, saat dimana daddy nya berbicara pada Kenzo.
Membalas pelukan sang keponakan, memberikan senyuman manis pada bocah laki-laki itu. Namun, tiba-tiba saja terdengar suara auman dari kedua kucing imut dari pintu masuk ruang utama.
Unni menjadi kaget, dan begitu pula perutnya bergerak sehingga membuatnya meringgis.
" Argh!"
"Mom!!" Azka dan Varo berlarian menghampiri Unni.
__ADS_1
Namun Unni memberikan tanda jika dirinya baik-baik saja, tanpa disadari. Dua kucing imut sudah berada di kedua sisi Unni, seakaan melindungi wanita hamil itu.