
Meletakkan tubuh Aira pada bagian disamping dirinya, Varo bergegas mengemudikan laju mobilnya dengan begitu cepat menuju rumah sakit. Dalam keadaan panik, ia segera menghubungi Unni untuk segera menyusulnya kerumah sakit.
Sesampainya disana, Varo membawa tubuh Aira langsung masuk ke dalam ruang gawat darurat. Dimana ia membuat kekacauan disana, semua dokter dan juga perawat yang dalam ruangan tersbeur ia tarik untuk memberikan pertolongan pada Aira. Disusul oleh kehadiran Sandy, yang berhasil meredam kekacauan tersebut dengan menarik Varo keluar ruangan.
"Ini rumah sakit, kau tidak bisa berbuat seenaknya." Tegur Sandy kepada Varo yang tersulut emosi.
"Mereka tidak bekerja dengan baik, dan pantas untuk ditegur!" Jawab Varo dengan nada yang cukup tinggi.
Sandy memutar kedua bola matanya dengan malas, ia sudah bisa menebak akhir dari berdebat dengan pria didepannya ini. Walaupun umurnya lebih dewasa dari dirinya, tapi itu tidak menjamin pada pikirannya.
Mereka berdua menunggu dengan berdiri berjauhan, seperti orang yang sedang bermusuhan. Tak lama kemudian, suara-suara dari orang terdekatnya terdengar. Unni bersama dengan Azka berjalan cepat menghampiri mereka dan disusul oleh si kembar.
Menjelaskan letak permasalahan yang terjadi, membuat Unni menepuk keningnya dan begitu geram dengan putra sulungnya ini. Seakan tidak belajar dari peristiwa sebelumnya, dan kini terjadi kembali.
Saat pintu ruangan putih itu terbuka, Varo segera mendekati dokter yang baru saja keluar. Namun Azka menahannya dan membiarkan Unni bersama si kembar menyelesaikan semuanya, tatapan Azka menajam dengan sangat dingin kepada Varo.
Kini, Aira telah dipindahkan pada ruang perawatan yang terbaik di rumah sakit tersebut. Sedangkan Varo, ia masih tertahan oleh Azka dan tida, diperbolehkan masuk ke dalam ruang perawatan Aira.
"Mom, sudah waktu sholat. Biar Andra yang jaga kak Aira, mom sama bang Andre duluan aja."
__ADS_1
"Astaghfirullah, mommy hampir kelupaan. Terima kasih sayang, titip Aira ya." Unni tersenyum kepada Andra, yang telah mengingatkan dirinya.
Dimana Andre yang baru saja keluar dari kamar mandi, kemudian bergantian dengan mommy nya. Lalu ia berjalan mendekati kembarannya, mereka berdua menatap ke arah Aira dengan penuh rasa iba.
"G**la! Bang Varo bisa sedingin itu pada wanita." Andre membuka suara.
"Sudah, nanti mommy dengar. Yang jelas, kak Aira sudah masuk dalam perlindungan mommy dan daddy. Dan kau tahu sendiri kan, apa yang akan dilakukan daddy? Bahkan mommy pun sudah berubah menjadi seperti daddy." Bisik Andra menjawab ucapan Andre.
Keduanya terdiam satu sama lain, lalu Unni telah siap untuk menunaikan kewajibannya. Andrea bersama Unni menunaikan kewajiban mereka dengan berjamaah, lalu bergantian dengan Andra.
Sudah hampir enam jam lamanya, Aira belum sadarkan diri semenjak ia berada di dalam kamar perawatan. Hal itu membuat Unni menjadi khawatir, lalu ia menghubungi Azka untuk menanyakannya pada dokter.
Unni menatap Aira dengan tatapan sendu, mengusap wajah Aira yang terlihat sedikit memar terkena cengkraman dari tangan Varo. Hati kecil Aira sangat sakit melihatnya, tanpa sadar di sudut kedua matanya sudah mengembun.
...Ya Tuhan, mengapa semuanya ini terjadi padanya. Begitu banyak cobaan yang ia alami, dan itu terjadi atas kelalaian putraku. Aku sepertinya telah gagal dalam mendidik anak-anakku, ampuni aku Ya Rabb....
Air embun itu telah menetes, Unni merasakan jika dirinya juga pernah berada diposisi seperti Aira. Tidak ingin semuanya itu terulang kembali pada anak-anaknya, namun semuanya itu kini hanyalah sebuah rencana saja.
"Lebih baik kamu pulang saja, sayang. Biarkan Sandy dan si kembar yang menjaganya, kamu juga butuh istirahat." Azka memeluk Unni dari arah belakang.
__ADS_1
"Dad, mereka itu semuanya laki-laki. Jika Aira terbangun, alangkah tidak baiknya tidak ada wanita yang berada disisinya." Unni mengusap punggung tangan suaminya.
"Tapi kamu juga butuh istirahat, ingat akan kondisi kamu juga sayang."
"Tidak apa-apa dad, Aira sudah seperti putriku sendiri. Entah mengapa, Aira mengingatkanku seperti diriku yang dulu. Dimana kamu..."
Cup!
"Dad!" Unni memprotes karena Azka mencuri waktu untuk menciumnya.
"Maaf, maafkan aku sayang. Aku mohon, jangan mengingatnya lagi." Azka semakin mempererat pelukannya.
Jika harus mengingat masa lalu, Azka sangat merasa bersalah dan mengutuk dirinya sendiri. Berdamai dengan masa lalu, sangat sulit.
"Daddy, maaf. Bukan maksud untuk..."
"Ssstth... Inilah kehidupan kita sekarang dna masa depan, sayang."
Menganggukan kepala sebagai tanda setuju dengan ucapan yang suaminya katakan, tanpa disadari. Jika ada orang lain yang berada disana.
__ADS_1
"Kalian melupakan kehadiran kami disini dad, mom." Si kembar mengeluarkan suaranya.