Muslimah Untuk Mafia Psychopath

Muslimah Untuk Mafia Psychopath
91.


__ADS_3

Hukuman dari Unni sudah membuat para pria yang berada di sisinya menjadi berubah, mereka kini begitu sangat membuat Unni pusing.


"Dad, sepertinya kita butuh penyegaran pikiran."


"Hem, benar sayang. Bagaimana kalau kita liburan? Kan sudah lama kita tidak melakukannya, bagaimana?" Azka memeluk Unni dari arah belakang saat mereka berada di balkon kamarnya.


"Mau liburan kemana? Aku masih terlalu takut untuk bepergian terlalu jauh." Unni seakan memiliki rasa trauma atas beberapa peristiwa yang menimpa dirinya, dimana ia hampir saja kehilangan nyawanya.


Menepuk-nepuk punggung tangan suaminya dan mereka menikmati suasana pagi hari yang begitu cerah, baru saja mereka berdua sedang menikmati suasana yang ada. Pintu kamar mereka diketuk, dari nada ketukannya membuat Unni mengetahui siapa pelakunya.


"Sepertinya, abang sedang bermain hati sayang." Keluh Unni berjalan menuju pintu dan membuka pintu tersebut.


Disaat Azka terdiam dengan perkataan istrinya, yang mengatakan jika putra sulungnya sedang bermain hati. Kening pria itu menjadi berkerut dan wajahnya mendingin, bukan karena ia kaget akan hal tersebut. Namun, sepeka apa naluri istrinya itu hingga bisa mengetahuinya.


"Abang? Ada apa?" Wajah Varo terlihat jelas ketika Unni membuka pintu kamarnya.


"Hem, mommy ada waktu?"

__ADS_1


"Waktu?"


"Ya, ada yang mau abang tanyakan."


Unni hening sejenak, menyaring perkataan dari putra sulungnya itu. Dan setelah beberapa saat, Unni tersenyum dan menganggukkan kepalanya sebagai tanda mengizinkan.


Berjalan berdampingan bersama Unni untuk menuruni anak tangga, Varo membawa ibunya itu tanpa izin dari suaminya. Hal itu membuat Azka menyeringai dari dalam kamar, lalu terdengarlah suara yang cukup menyakitkan telinga sebelum anak dan ibu itu melangkahkan kakinya.


"Jangan membawa mommy tanpa izin dari daddy!"


Sontak saja hal itu membuat buat keduanya membalikkan tubuhnya untuk melihat sumber suara, dengan postur tubuh yang cukup baik. Azka berdiri di depan pintu kamar dengan tatapan tajam kepada Varo, jiwa cemburunya kembali seperti remaja saja.


"Sudah-sudah, abang duluan saja ya. Mommy mau menenangkan leader kalian dulu, hehehe." Masih dalam tawanya, Unni berjalan kembali menghampiri suaminya.


Dan Varo, ia sudah mengerti akan ucapan mommy nya. Karena Azka terlihat sangat pencemburu, bahkan itu dengan anaknya sendiri.


"Jangan menatap seperti itu, kamu membuat kami takut sayang." Unni menggunakan jurus perayunya untuk menenangkan pria yang sudah dingin, datar, dan kejam itu.

__ADS_1


"Ada perlu apa anak itu? Membawamu bersamanya disaat aku berada disampingmu, benar-benar menyebalkan." Ketus Azka dengan wajah tidak sukanya.


"Tidak baik berkata seperti itu, masa sama anak sendiri cemburu sayang. Rasa cintaku padamu bahkan nilainya seimbang dengan anak-anak." Unni menggenggam tangan Azka dan membawanya untuk duduk bersama di dalam kamar mereka.


Rupanya, situasi sedang tidak terlalu mendukung. Karena pria itu masih saja manyun dan menggemaskan, membuat Unni harus sabar menghadapinya.


"Jangan marah, kenapa aku memberikan kalian semua nilai yang seimbang? Karena bagiku, kalian semuanya begitu berarti dan sangat berharga untuk hidupku." Melingkarkan kedua tangannya untuk meraih tubuh kekar dari pria yang sedang manyun itu, membuat Unni menjadi kesusahan.


"Wah, tampaknya tubuhmu semakin membesar sayang." Bergerak cepat, Unni melepaskan kedua tangannya.


"Hah! Mana mungkin tubuhku membesar! Bahkan tidak ada pria yang bisa menandingi bentuk yang bagus seperti ini." Azka melirik Unni dengan sudut matanya.


Rasanya Unni ingin terbang dan menjauh saja dari pria menggemaskan itu, bahkan ia ingin tertawa dengan puas dihadapannya. Akan tetapi ia urungkan, yang ada nantinya malah membuat pria itu semakin menjadi anak kecil.


Unni berdiri dan menatap Azka dengan kedua tangannya di pinggangnya, wajahnya sudah tidak dapat membendung tawa yang siap untuk meledak kapan saja. Yang dimana ditakutkan, saat tawa itu meledak. Suaminya itu akan menjadi semakin menggemaskan untuk ia usili.


Cups!

__ADS_1


Secepat kilat Unni mendaratkan tanda cintanya untuk suaminya yang sedang dilanda cemburu itu, dan secepat kilat pula ia mengambil langkah seribu dari hadapan Azka.


Mendapatkan perlakuan yang spontan itu, membuat Azka terdiam. Keberadaan sang istri sudah menghilang, membuat senyuman pada wajah datar dan dingin itu merekah.


__ADS_2