
Perlahan mata itu bergerak dan terbuka, terdapat cahaya yang menyilaukan dimana membuatnya harus menyesuaikan dengan pencahayaan yang ada.
Ketika penglihatan itu telah sempurna, dimana warna putih memenuhi ruangan tersebut. Merasakan perih pada bagian perutnya, ketika sudut pandangan itu melihat sesuatu yang berada didekat tangannya.
Menggerakkan jemari untuk menyentuhnya, mengusap dengan perlahan dan berakhir dengan balasan genggaman pada tangannya.
"Sayang, kamu sudah bangun?"
"Hubby." Dengan suara lirihnya, Unni membalas genggaman tangan Azka padanya.
Menatap wajah suaminya dengan penuh penghayatan, Unni menyakinkan jika mereka dalam keadaan baik-baik saja.
"Semuanya baik-baik saja, sayang. Semuanya sudah bisa diamankan, jangan khawatir lagi. Dan, maaf. Maafkan aku yang tidak bisa melindungimu dan bayi kita."
Mendengar Azka mengatakan 'bayi', Unni tersadar jika ia sedang mengandung. Hal tersebut belum ia katakan kepada suaminya, akan tetapi bagaimana suaminya itu mengetahuinya.
"Darimana kamu mengetahuinya?" Tanya Unni yang heran.
Hanya dengan senyuman manisnya, Azka membalas dan menjawab ucapan sang istri. Lalu ia menunjukkan gambar hasil dari pemeriksaan dokter sebelumnya, dan hal tersebut membuat Unni kaget.
Menerima gambar tersebut dari tangan suaminya, hingga Bulir-bulir air mata dari sudut kedua matanya mengalir. Sebagai tanda kebahagian yang tak terhingga, menguatkan hasil pemeriksaan yang ia lakukan saat berada di mansion.
"Benarkah, benarkah ini hubby?"
"Hem, benar sayang." Azka memeluk tubuh mungil itu dengan lembut.
__ADS_1
Keduanya larut dalam kebahagian yang tak terbilang, terlepas dari cobaan yang sedang mereka alami. Azka hanya ingin membuat istrinya fokus dengan kesehatan dirinya dan calon anaknya, tidak membiarkannya larut dalam permasalahan yang sesungguhnya bukan bagiannya.
Saling menguatkan satu sama lainnya, setelah kondisi Unni sedikit lebih baik dna memungkinkan untuk dipindahkan. Azka meminta Mark menyiapkan semuanya, dengan cepat dan pengawalan yang super ketat. Kini mereka telah berada di salah satu rumah sakit terbaik di negaranya, lebih utamanya gedung itu adalah milik Mark.
Mark melakukan pemeriksaan secara keseluruhan terhadap Unni, dengan dokter kandungan yang terbaik dan juga merupakan sahabatnya Mark. Namun, kebahagian dari Unni dan Azka kini sedang di uji kembali.
"Sebelumnya aku minta maaf kepada kalian berdua, tidak bermaksud untuk merusak kebahagian kalian. Namun ini harus aku sampaikan." Ujar Sovia, dokter kandungan yang menangani kehamilan Unni.
"Katakan saja dokter, kami akan mendengarnya." Unni menggenggam tangan Azka yang terasa cukup dingin.
Selain Azka yang begitu khawatir akan keadaan calon anaknya, begitu juga dengan Mark. Ia harus menahan dirinya untuk tidak mengeluarkan perkataan yang dapat merusak suasana, lalu ia memilih berdiri disamping Sovia.
"Dengan berat aku mengatakannya, jika janin tersebut sangat lemah dan rentan mengalami keguguran. Ini tidak ada kaitannya dengan luka yang dialami oleh ibunya, murni karena faktor dari janin itu sendiri. Jadi, aku harapkan selama trimester pertama ini. Kamu harus benar-benar bedrest." Begitu panjang penjelasan yang Sovia katakan, agar tidak ada pertanyaan setelah ia menjelaskannya.
"Apa kau tidak bisa menguatkannya?" Mark menyediakan ucapan yang sangat tidak diharapkan.
Takh!
Tatapan tajam Sovia berikan kepada Mark dan memberinya kode dengan lirik matanya, dan hal itu Mark sadari jika dia sudah lalai dari sikapnya yang menjengkelkan.
Menyadari akan sesuatu yang terjadi pada diri suaminya, Unni menarik nafasnya dengan sangat dalam. Menatap Azka yang saat itu tidak memberikan respon apapun, menambah keyakinan pada Unni untuk berbicara padanya dari hati ke hati.
"Emm, dokter. Maaf, bisakah kami berdua berbicara?" Unni memberikan tanda jika suaminya sedang dalam keadaan rumit.
"Baiklah, kalian mendapatkannya." Dengan cepat Sovia undur diri dari hadapan pasangan suami istri tersebut dan tak lupa ia menarik telinga Mark agar ikut bersama dirinya.
__ADS_1
Meringgis sudah pasti, saat sudah berada diluar ruang perawatan. Sovia melepaskan tangannya dari telinga Mark, lalu ia kembali memukul kepala pria itu.
Takh!
Takh!
"Dasar mulut mulut lemes bener lu ya, sudah tahu jika Azka itu seperti apa. Mau jadi peyek lu, hah!" Dengan geramnya, Sovia hampir saja menendang tulang kering kaki pria jankung itu.
Setelah mendapatkan peringatan dari Sovia, Mark sadar akan kecerobohannya itu. Menggaruk kepala yang tidak gatal, membuat dirinya merasa bersalah.
Sedangkan di dalam ruang perawatan, selepas kepergian dua dokter tersebut. Unni mengusap punggung tangan Azka, sedikit memperbaiki tubuhnya agar bisa bersandar.
"Hubby."
Berulang kali Unni menyebutkan nama itu, namun sang pemilik nama tidak bereaksi sedikitpun. Menghela nafas beratnya, lalu Unni memberanikam dirinya untuk turun dari tempat tidur dan memeluk tubuh kekar sang suami.
"Dia hanyalah titipan yang sewaktu-waktu akan diambil kembali oleh pemiliknya, sama seperti diri kita. Hanya saja, kita harus berikhtiar dalam menerima dan menjaganya dengan sebaik-baiknya."
Menenggelamkan wajah pada dada lebar sang suami, berusaha menguatkan diri dihadapan pria yang saat ini sedang begitu hancur.
"Yang sangat kami butuhkan saat ini, adalah dirimu hubby. Jika dirimu seperti ini, kemana lagi kami akan mencari perlindungan. Karena kami yakin, jika dirimu adalah tempat yang tepat selain berlindung pada Allah." Terasa bergetar tubuh yang kini tempat Unni bersandar.
Terasa hangat saat tangan itu melingkar dan memeluk dirinya, membalas atas apa yang ia katakan.
"Maaf, maafkan aku. Aku akan melindungi kalian dengan nyawaku , aku berjanji." Azka mengusap punggung dan kepala Unni.
__ADS_1
"Terima kasih, hubby."