
Peter merasakan jika pergerakan dari tangan mungil milik Unni semakin melemah, perasaan cemas dan takut kembali menghampiri dirinya.
"Mark, kenapa?"
"Tenang saja, detak jantungnya sudah kembali normal. Wajar saja jika dia lemah, terlalu banyak tenaga yang ia butuhkan saat ini untuk membuka mata." Jelas singkat Mark menyakinkan jika keadaan Unni baik-baik saja.
Kembali ia menatap wajah yang sudah berwarna, dimana sebelumnya sangat pucat bahkan bisa dibilang seperti kapas. Mark menjelaskan keadaan Unni kepada Peter, hal tersebut mencegah pria itu tidak cemas yang berlebihan.
"Hei, kau masih berhutang penjelasan padaku." Mark menagihnya pada Peter yang masih enggan untuk menjauh dari Unni.
"Bisakah itu ditunda? Aku sedang malas bicara." Ujar Peter yang acuh kepada Mark.
"Aish, kau dan Azka sama saja. Menyebalkan." Dengan bertolak pinggang, Mark menghela nafasnya.
Tak segan-segan ia kemudian menarik kerah jas yang digunakan oleh Peter saat itu dan membuka pintu dengan cepat, semua orang yang berada disana menjadi kaget dan Eiger dengan sigap ingin menghalangi hal tersebut untuk membantu Peter.
__ADS_1
"Diam dan jangan ada yang bergerak sedikitpun!" Tegas Mark dengan suara tinggi.
Luapan emosi itu terlihat jelas pada wajah Mark, menghempaskan tangannya dari kerah jas Peter dan menatap tajam dalam posisi menunduk.
"Pertama, kalian kenapa tidak ada yang menghubungiku mengenai keadaan nona Hafsah? Kedua, kenapa kau mengatakan 'Khumairoh' pada nona Hafsah. Apa dia adikmu? Ketiga, kau! Aish, dasar pria bodoh." Mark menatap geram pada Azka.
Tidak ada yang berani mengucapkan sepatah katapun, mereka sangat tahu sikap Mark. Jangan pernah mencari masalah pada dirinya, jika tidak sisi gelap dari dirinya ditampakkan.
"Ya, dia benar adikku." Akhirnya keheningan itu terpecahkan oleh Peter.
"Aku tidak sengaja bertemu dengan dirinya di salah satu taman kota, saat itu dia sedang menangis dan kesusahan. Melihat tanda merah yang ia miliki pada tangannya, membuatku menyelidiki identitasnya dan melakukan tes DNA tanpa ia ketahui."
"Hasilnya menyatakan jika dia benar-benar adalah adikku, dia adikku." Peter mengusap wajahnya yang sudah basah dengan air mata kesedihan dan juga kebahagian.
Rasa bersalah yang teramat besar kepada sang adik, membuat Peter tidak dapat membendung luapan emosinya. Membiarkan sejenak untuknya menenangkan diri, lalu tatapan tajam kembali kepada Azka.
__ADS_1
"Dan kau, apa yang dapat dijelaskan? Tidak menyakinkan sekali." Sengaja Mark menggunakan sendiran pada Azka.
Dimana mereka mengetahui jika Azka menyukai Unni, namun karena ego yang cukup tinggi. Membuatnya seperti tidak mau mengakui hal tersebut, dan kini semua orang yang berada disana menjadi saksi akan ucapan yang dikatakan oleh Azka.
"Dia wanitaku!"
Tiba-tiba saja perkataan Azka yang cukup singkat dan juga padat itu membuat suasana menjadi hening seketika, terutama Peter yang langsung memberika tatapan tajam pada Azka.
"Apa?! Dia benar adalah wanitaku!" Tegas Azka mengulangi kembali perkataannya.
"Hah! Benarkah?! Kemarin saja bilangnya tidak perduli, eh sekarang bilang jadi miliknya. Kau merestuinya?" Pertanyaan itu Mark berikan pada Peter dengan tatapan yang sangat tidak menyetujuinya.
Menunjuk dirinya, Peter tidak bisa berkata apapun. Ia tidak ingin ucapannya menjadi sesuatu yang dapat melukai orang lain, terutama itu adalah Azka.
Beruntungnya disaat semuanya ingin mendengar ucapan dari Peter, pintu ruangan terbuka. Terlihat para perawat sedang mendorong brankar yang dimana Unni berada menuju ruang khusus, tim medis tidak ingin mengambil resiko dengan keadaan pasien mereka.
__ADS_1
Lalu semua bergegas mengiringinya, ikut menghantarkan. Lagi-lagi Peter harus berterima kasih dengan semuanya, Unni terlihat tertutup. Ia menyadari akan pentingnya kain penutup itu untuk sang adik, sebelum brankar itu masuk ke dalam ruang khusus. Peter meraih tangan mungil itu dan memberikan kecupan hangat pada punggung tangannya dan mengusap puncak kepalanya.
"Bertahanlah dengan semua kemampuanmu, jangan memaksa untuk menjadi kuat jika itu membuatmu sakit. Ada kakak bersamamu, sekarang kamu tidak sendiri lagi, Khumairoh." Bisik Peter sesaat brankar itu memasuki ruangan khusus.