
"Kerahkan semua anggota yang ada, jika kalian gagal lagi. Maka nyawa kalianlah sebagai penggantinya!" Antasa menekankan perkataannya.
Mereka pun mengetahui adanya klan asing yang datang memberikan bantuan pada Red Dragon, hal tersebut membuat Antasa menjadi geram.
Ia tidak ingin semua usaha kerasnya diketahui oleh orang lain, karena impiannua sedikit lagi akan terwujud. Akibat dengan adanya klan asing tersebut, pada akhirnya membuat Antasa harus turun tangan sendiri untuk mengalahkan musuhnya.
Setibanya ia di tempat yang dituju, tanpa menunggu lama. Antasa bergerak untuk menyerang, dengan jumlah anggota yang cukup banyak serta persenjataan yang cukup. Itu membuat mereka yakin untuk memenangkan pertarungan, tanpa melihat lagi siapa yang menjadi lawannya.
Pergerakan Antasa sangat cepat, ia menyerang siapa saja yang dengan beraninya menghalanginya untuk masuk ke dalam wilayah Red Dragon.
"Kalian tidak ada yang becus!"
Menunjukkan bagaimana cara untuk menghadapi musuh kepada anggotanya, tanpa ampun. Antasa mengerahkan seluruh kekuatan dan juga senjata yang ada, hal itu berhasil membawanya masuk ke dalam zona Red Dragon.
Seakan takdir sedang berpihak padanya, Antasa diperlihatkan dengan pandangan dua kucing besar dan imut itu sedang menyerang anggotanya. Dari sudut pandangannya, ia melihat gerakan lemah dari sesuatu benda ataupun lainnya.
...Apa itu? Seperti manusia?...
Langkah kaki Antasa semakin mendekat, terdengar suara rintihan dari benda tersebut.
"Wow! Aku sangat beruntung kali ini, hahaha." Antasa melihat sumber kekuatannya.
__ADS_1
"Ti tidak, tidak. Jangan mendekat!" Unni merasa jika orang yang berada dihadapannya adalah musuh.
Perlahan dengan menggunakan kedua tangannya, Unni berusaha untuk menghindar. Mengetahui jika tuannya dalam bahaya, Leon dan Macis segera menghabisi lawannya dengan sangat cepat. Lalu salah satu dari mereka menghalangi Antasa dari Unni, dengan seringai tajamnya.
Memperlihatkan taringnya yang sudah berlumuran dengan cairan berwarna merah, Macis mengitari tubuh Unni yang sudah tertatih ingin menjauh dari Antasa.
"Rupanya, ada pelindung baru. Hahaha, tapi itu tidak akan menghentikan semuanya."
Dari balik saku jas yang ia kenakan, Antasa mengeluarkan senjata yang cukup cepat dalam membidik lawannya.
Dor!
Dor!
Awalnya, Macis terlihat seperti meringgis dengan tembakan yang ia dapatkan. Hal itu tidak berselang lama, ia bangkit dengan cepat dan langsung menerkam Antasa yang saat itu masih membidiknya.
Tak segan-segan, Antasa dibantu dengan orang-orangnya yang baru saja tiba untuk membantunya. Mereka kembali melepaskan tembakan yang bertubi-tubi kepada Macis, hal itu dimanfaatkan oleh Antasa untuk mendekati Unni.
"Heh, ternyata wanita milik Red Dragon sangat memukau. Pantas saja dia selalu menyembunyikannya, hahaha."
"To tolong, tolong jangan ,mendekat." Rintihan Unni dengan membawa tubuhnya yang sudah tidak berdaya.
__ADS_1
Dengan erangan serta rintihan rasa sakit yang mendera tubuhnya, membuat Unni harus tertatih dalam melangkah. Tubuhnya semakin bergetar dengan keberadaan Antasa dihadapannya, ia berdoa didalam hati agar segera mendapatkan pertolongan.
"Kali ini, aku tidak akan melepaskan umpan terbaik untuk menghancurkan Red Dragon." Suara Antasa bergema.
"Siapapun kamu, aku mohon. Jangan mendekat." Tolak Unni yang masih berusaha melangkahkan kakinya untuk menjauh.
Seringai sadis Antasa perlihatkan kepada Unni, tertawa dengan aura mencekam. Membuat Antasa terlihat begitu kejam.
Brakh!
"Mom!" Suara khas milik Varo terdengar.
Peralihan perhatian segera terjadi, hal tersebut dimanfaatkan oleh Azka yang datang dari arah lainnya untuk menyelamatkan sang istri.
Saat Azka mendapatkan istrinya, memberikan isyarat agar tidak mengeluarkan suara apapun. Dalam peralihan tersebut, Leon dan juga anggota lainnya berdatangan dengan cepat.
"Tetap tenang sayang, kita akan segera keluar dari tempat ini."
"Ta tapi, perutku sangat sakit dad." Keluh Unni yang semakin tak kuasa menahan rasa sakit yang ada.
Benar adanya, cairan berwarna merah telah merubah warna dari gamis yang dikenakan Unni di bagian bawah. Rasa panik menyerang Azka saat itu, dengan tubuh Unni yang semakin dingin.
__ADS_1
"Sayang, bertahanlah. Kumohon!" Air mata dari kedua mata Azka tak terbendung.