
" Kita tidak bisa lagi untuk duduk seperti ini, Baron." Teriak Jenie yang mengeluh akan tindakan Baron.
Tidak memperdulikan apa yang di ucapkan oleh Jenie, Baron sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Lalu tibalah sebuah mobil mewah yang berhenti tepat di depan mereka berdua, lalu muncullah seorang Azka dengan begitu tegap.
Mendapati kehadiran dari pria yang ia cintai, Jenie segera berlari untuk menyambutnya. Sebelum dirinya menyentuh tubuh Azka, beberapa anggotanya telah menjadi pagar penghalang untuk Jenie.
"Hei, menyingkirlah. Aku adalah wanitanya dan akan segera menjadi nyonya kalian, maka jangan menghalangiku." Bentak Jenie yang tidak terima dengan perlakuan tersebut.
Namun ucapan Jenie hanyalah bualan belaka, anggota tersebut tetap menghalanginya dari Azka. Berjalan mendekati Baron, Azka dengan senyumnya yang cukup membuat orang takut.
Baron sendiri yang melihat kehadiran Azka disana, tidak membuat dirinya merasa takut. Bahkan ia terlihat begitu biasa saja dan acuh, hingga saat Azka sudah berdiri dihadapannya. Ia masih tetap tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya, seperti tidak mengetahui kehadiran Azka disana.
Brakh!
Lemparan berkas yang cukup tebal, Azka berikan kepada Baron. Jenie pun sangat kaget dan penasaran akan isi dari berkas tersebut, ia tahu Azka bukankah orang yang sembarangan untuk bertindak.
"Apa itu?" Tanya Jenie yang ingin menyentuh berkas tersebut.
Namun sebelum tangan Jenie menyentuhnya, Baron sudah terlebih dahulu mengambilnya. Awalnya Baron cukup cuek, setelah melihat isi dari berkas tersebut. Kini dirinya mengeluarkan ekpresi yang cukup membuat Azka tertawa, dalam berkas tersebut begitu lengkapnya memperlihatkan bukti-bukti kejahatan dan juga perbuatan Baron yang lainnya. Sangat lengkap, tidak terlewatkan sedikitpun.
"Apa maksudmu!" Erang Baron menatap Azka.
"Heh, tanpa mengatakannya pun kau sudah tahu. Jangan pernah mencari masalah denganku, apalagi mengusik orang-orang terdekatku. Ini peringatan untukmu, Baron." Tatapan tajam Azka itu begitu menyiksa Baron.
__ADS_1
Menggerakkan tangan dan jemarinya, Azka memberikan tanda berupa acungan tangan seperti akan menembak Baron. Menipu ujung jarinya, lalu tersenyum devil dan meninggalkan tempat itu begitu saja.
"Tunggu Azka, Azka!" Teriak Jenie yang mengejar Azka.
"Hem."
"Jangan pergi dulu, kita harus bicara."
"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, diantara kita tidak ada hubungan apa-apa dan ingat. Jangan pernah mencari masalah sedikitpun denganku, sudah kuperingatkan." Tegas Azka kepada Jenie.
"Ta tapi..."
Belum sempat ia mengatakan apapun, Azka sudah terlebih dahulu meninggalkannya. Jenie pun marah dan tidak terima akan hal tersebut, berbagai umpatan serapah ia berikan pada Azka.
"Lihat saja nanti, jika aku tidak bisa mendapatkanmu. Maka, berbagai cara akan aku lakukan." Jenie menyakini jika dirinya bisa mendapatkan Azka dengan caranya.
Hidup satu atap bersama Azka, membuat Unni merasa seperti tidak berdaya. Ingin sekali ia pergi dari rumah besar itu, namun sang kakak pasti akan menghalanginya.
Semenjak peristiwa adanya penyusup di mansion tersebut, penjagaan dan pengawalan sangat diperketat oleh Azka. Namun ada yang berbeda dari sikapnya saat ini, biasanya Azka akan selalu gencar untuk mengatakan jika dirinya mencintai dan menyukai Unni. Tapi tidak untuk kali ini, pria itu terkesan sangat menghindar darinya.
"Hem, kamu tidak apa-apakan kalau kakak tinggal?" Tanya Peter kepada Unni yang masih asik memandangi taman yang banyak sekali terdapat tanaman bunga.
"Iya kak, tidak apa-apa. Sibuk sekali sepertinya, apa boleh aku keluar sekadar untuk menyegarkan pikiran?"
__ADS_1
"Iznlah kepada Azka, jika dia mengizinkan. Kau boleh pergi, tapi tetap dengan pengawalan." Jelas Peter.
"Tapi, kenapa harus meminta izin padanya?" Unni merasa bingung dengan ucapan sang kakak.
"Jangan berpikiran terlalu jauh, kakak hanya tidak ingin dia menjadi khawatir. Karena kita berada disini atas izinnya, maka dari itu kita harus menjaga sikap."
"Baiklah, kakak jangan terlalu sibuk dengan pekerjaan. Ada kalanya, tubuh itu membutuhkan yang namanya istirahat." Benar adanya, jika Peter sudah beberapa waktu ini selalu sibuk.
Syut!
" Kakak!" Erang Unni yanh mendapatkan cubitan gemas dari Peter.
"Kamu mulai cerewet, terima kasih. Oh ya, kalau bulan depan tidak sibuk. Kita akan berkunjung ke Indonesia. "
"Eh, benarkah itu kak?" Seakan tidak percaya dengan ucapan Peter.
"Benar, doakan saja semua pekerjaan terselesaikan."
"Iya kak, terima kasih sebelumnya." Senyuman itu terlihat begitu indah pada wajah Unni.
Peter pergi menuju perusahaannya dan berlanjut pada markas milik Azka, dimana Azka sudah berada disana untuk membahas langkah apa yang akan mereka ambil untuk menghadapi Baron.
Tidak mungkin untuk membiarkan pria itu terus menerus mengusik kehidupannya, jika terus seperti ini. Maka, tidak menutup kemungkinan akan terjadi pertempuran besar kembali.
__ADS_1
David membawa sebuah bukti keterlibatan seseorang bersama Baron, namun orang tersebut David tidak katakan. Karena ia ingin Azka membacanya sendiri, dan menentukan langkah apa yang harus mereka siapkan.