Muslimah Untuk Mafia Psychopath

Muslimah Untuk Mafia Psychopath
51.


__ADS_3

Kedua tangan itu segera melingkar pada pinggang Unni yang berdiri menyambut Azka, dengan tatapan tajam ia berikan kepada pria yang belum ia lihat dari atas secara jelas.


"Kau!" Azka mengenali pemilik wajah itu.


Menundukkan sebagian tubuhnya sebagai tanda memberi hormat kepada tuannya, Ady tersenyum saat Azka mengenali dirinya.


"Ada apa kau kemari? Ini masih terlalu pagi." Ketus Azka yang semakin mengeratkan lingkaran tangannya.


"Hubby, tidak enak di lihat orang." Unni mencoba melonggarkan tangan Azka.


Salah satu alis mata Ady terangkat ke atas, raut wajahnya mendadak berubah menjadi dingin. Terlihat seperti orang yang bingung, namun tidak bisa berucap apapun.


Azka menatap Ady dengan tajam, seperti sedang menantikan jawaban atas kehadiran dari orang kepercayaannya itu.


"Sepertinya, kalian akan membicarakan hal yang penting. Hubby, aku akan kembali ke kamar saja." Pinta Unni.


"Baiklah, tidak sarapan dulu sayang?"


"Nanti saja, selesaikan saja terlebih dahulu. Tidak baik membuat tamu menunggu terlalu lama."


Unni berjalan meninggalkan Azka bersama Ady, diantara bingung dan juga kaget. Itulah yang Unni rasakan saat ini, dengan kedatangan Ady. Tiba-tiba saja ia teringat akan sang kakak, yang sudah beberapa minggu ini tidak ia temui.


"Dimana kakak? Kenapa baru sekarang aku menyadarinya ya."


Mengambil ponsel miliknya dan mencoba menghubungi Peter hingga beberapa kali, namu tidak satu pun dari panggilan itu mendapatkan respon. Hati Unni berubah menjadi tidak tenang, seakan-akan merasakan apa yang dirasakan oleh sang kakak.


"Ya Rabb, lindungilah kakakku dimana pun dia berada. Tidak biasanya kakak menghilang seperti ini, ada apa sebenarnya."


.


.


.


.

__ADS_1


Dalam keheningan, Azka menatap Ady dengan tajam dan penuh tanda tanya Bagaimana orang kepercayaannya itu berada di kediamannya tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, Azka merasa ada keanehan.


"Jelaskan tujuanmu!" Kalimat penuh tekanan yang Azka berikan kepada Ady.


Sebelum menjawab perkataan Azka, Ady terlebih dahulu menyerahkan sebuah berkas untuk di lihat. Awalnya Azka sempat ragu untuk menerimanya, namun rasa penasaran itu lebih mendominasi.


Perlahan tangan kekar itu membuka berkas tersebut, satu persatu ia lihat dengan sangat teliti. Raut wajah Azka seketika ikut berubah, semakin dingin dan terlihat seperti akan menghabisi lawannya.


Belum selesai dengan bukti tersebut, Ady menyerahkan sebuah tayangan video sebagai bukti nyata dari laporan yang ia berikan.


"Dimana dia sekarang?" Tegas Azka dalam berbicara.


"Untuk tepatnya, saya belum mendapatkannya tuan. Hanya saja, anda bisa mengali semua informasinya pada tawanan dan target kita kali ini."


"Itu tidak akan membantu, hah. Kenapa dia begitu lalai, hanya karena tertipu oleh orang yang tidak berguna. Bagaimana bisa." Azka memijat keningnya.


Mereka berdua diam untuk beberapa saat, lalu terlintas dalam pikiran Ady yang mendapati keadaan yang saat ini ia alami.


"Tuan, boleh saya bertanya sesuatu?"


"Hem."


Lagi-lagi Azka menajamkan kedua bola matanya kepada Ady, jika berhubungan dengan istrinya. Maka ia akan berubah menjadi manusia yang paling sensitif sekali.


"Dia istriku." Tegas dan jelas.


"Hah!" Betapa kagetnya Ady mengetahui hal itu, sungguh ia tidak bisa percaya.


"Benarkah! Tuan, anda tidak berbohong?!" Ady menegaskan apa yang Azka ucapkan padanya.


"Untuk apa aku berbohong."


"Tidak tuan, i itu tidak mungkin." Ady terlihat begitu cemas dan khawatir.


Srakh!

__ADS_1


"Akh! Aarkh!" Leher Ady tertekan oleh tangan Azka yang bergerak begitu cepat.


"Apa maksud dari ucapanmu, hah?! Katakan!" Azka semakin menekan tangannya.


"Aarkh! Ark tu tuan."


Bugh!


Sebuah pukulan mendarat pada wajah Ady dengan cukup keras, sehingga tubuhnya terhempas. Dan terlihat Azka begitu murka jika seseorang berani menyenggol istrinya.


"Katakan! Atau hidupmu dan keluarga akan berakhir di tanganku!" Kembali Azka menegaskan ucapannya.


Dengan cepat Ady memposisikan dirinya untuk kembali berhadapan pada Azka, ia tidak akan pernah melupakan akan ucapannya untuk setiap kepada Azka.


"Target utama mereka, bukan anda."


Degh!


Jantung Azka seakan berdetak dengan cepat, ia merasa tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Ady. Namun, dari beberapa kejadian yang ada. Dirinya memang tidak terlalu terusik, hanya saja rasa kekhawatirannya lebih besar kepada istrinya.


"Jangan bilang, jika target utama mereka adalah istriku?!"


Ady sebenarnya ragu akan menyampaikan hal tersebut, karena dari beberapa bukti yang ia temukan menunjukkan jika perempuan tersebutlah yang harus mereka dapatkan.


"Benar tuan, coba anda perhatikan kembali bukti yang ada. Karena semuanya mengarah padanya." Jelas Ady yang juga mendapati bukti-bukti tersebut menuju pada satu orang.


Kembali Azka dan Ady menelaah kembali bukti-bukti yang ada, dan benar adanya. Kepalan tangan Azka terlihat sangat kuat, Ady sedikit menjauh dari tuannya itu.


Brakh!


Meja utama terpental hingga terbalik, suara kegaduhan itu mengundang kepanikan dari Hugo dan yang lainnya. Saat memahami situasi tersebut, segera saja Hugo membubarkan orang-orang yang ada.


"Kembali bekerja!" Suara tegas Hugo membubarkan semuanya.


Kemarahan Azka kali ini sangat beralasan, dimana ia dapat menangkap rencana dari klan musuhnya. Menargetkan kelemahannya untuk digunakan sebagai penghancur dirinya, dan fakta yang mengejutkan baru ia dapatkan.

__ADS_1


Hilangnya Peter bukan tanpa alasan, ternyata bukti tersebut telah membuat Azka membuka lebih lebar matanya. Rasanya ia ingin membinasakan orang tersebut.


Tanpa mereka sadari semuanya, jika Unni tidak benar-benar kembali ke dalam kamarnya. Ia bersembunyi dari balik lemari pajangan terdekat dengan kamarnya, membekap mulutnya saat mendengar jika dirinyalah yang menjadi target dari musuh suaminya.


__ADS_2