
Pasangan yang baru saja selesai mengikrarkan janji sucinya, berjalan bersama memasuki mansion dengan tangan yang saling bertaut.
" Kami ucapkan selamat untuk tuan dan nyonya." Hugo mewakili semua para pelayan dan juga pekerja mansion, menyambut kedatangan tuannya.
"Nona, selamat." Putri dan Mawar ikut dalam penyambutan dengan wajah yang bahagia.
"Terima kasih." Senyum Unni kepada Putri dan juga Mawar.
Namun, sepertinya manusia dingin disebelah Unni merasa tidak suka saat Unni memberikan senyumannya itu kepada orang lain selain dirinya.
"Bubar kalian." Azka melewati begitu saja semua orang yang berada disana.
Berjalan dengan masih menggenggam tangan Unni menuju kamar utama, sebelum mereka menaiki anak tangga. Unni menarik tangan tersebut, mereka berhenti dan Azka menatap Unni dengan penuh pertanyaan.
"Jangan terlalu dingin, bisakah?" Unni ikut menatap Azka dengan senyumnya.
"Jika kamu tersenyum seperti itu lagi pada orang lain selain suamimu ini, maka orang itu akan aku hukum. Pahamkan." Jawab Azka dengan begitu tenang.
Sruth!
"Arkh!" Tiba-tiba Azka meringis karena Unni memberikan cubitan pada bagian perutnya.
"Itu hukuman dariku atas sikap tuan yang terlalu dingin dan angkuh." Unni berdengus kesal dan berjalan terlebih dahulu meninggalkan Azka menuju kamarnya.
Mendapatkan respon dari Unni seperti itu membuat Azka terdiam dan ia nampak berpikir sejenak. Azka tersadar, dan ia sempat bingung saat menyadari keberadaan Unni tidak lagi disampingnya.
"Sayang, tunggu!"
Menyusul Unni dengan langkah cepatnya, membuat semua orang yang berada disana tersenyum bahkan ada yang tertawa. Mereka ikut larut dalam kebahagian tuannya, setelah sekian lama mansion itu begitu tegang dan kini semuanya berubah perlahan menjadi ceria.
.
.
__ADS_1
.
.
"Mulai sekarang, kita akan berada didalam kamar yang sama." Azka mendaratkan tubuhnya di atas tempat tidur dikamar yang Unni tempati.
"Em, iya." Unni masuk ke dalam kamar mandi.
Saat keluar dari kamar mandi, Unni segera mengenakan kain berwarna putih dan melakukan gerakan yang cukup membuat Azka bingung. Menunggu hingga selesai, lalu Azka menghampiri Unni yang masih melipat kain putih tersebut.
"Kain apa ini? Gerakan apa yang kamu lakukan tadi?" Dengan kedua telapak tangannya dimasukam ke dalam saku celananya, Azka mengkerutkan keningnya.
Unni merasa, jika Azka sebenarnya orang yang begitu baik. Hanya saja, kemungkinan mempunyai sesuatu yang terjadi pada kehidupannya terdahulu sehingga menjadika ia menjadi seperti ini.
Meraih lengan kekar itu dan membawanya untuk duduk bersama, sebenarnya Unni merasakan kecanggungan yang cukup besar. Akan tetapi, ia tidak ingin berlama-lama membiarkan pria yang kini sudah menjadi suaminya itu larut dalam pemikirannya sendiri.
"Kain inilah yang biasa digunakan wanita untuk melaksanakan sholat, namanya adalah mukenah. Menutupi seluruh bagian tubuh pada wanita dan menyisakan bagian muka saja, sedangkan gerakan yang tadi. Itu namanya adalah sholat, setiap muslim berkewajiban melaksanakannya."
Raut wajah Azka menandakan jika dirinya masih bingung dengan apa yang dijelaskan oleh Unni kepadanya, dan Unni pun menyadari akan hal tersebut.
Tidak ada protes apapun, Azka menuruti apa yang Unni ucapkan. Ia memberikan ponsel miliknya kepada Unni, dengan mudahnya Unni dapat membuka aplikasi pencarian dari ponsel Azka yang tidak menggunakan pengaman.
"Jika belum kuas dengan penjelasannya, tuan bisa membaca beberapa artikel disini." Menunjukkan pada ponsel Azka.
Menerima kembali ponselnya, lalu Azka menatap Unni kembalil.
"Maaf, aku tidak tahu apapun mengenai hal ini. Apa kamu menyesal dengan pernikahan ini, aku masih sangat jauh dari mengenal agama." Wajah Azka tertunduk malu.
Ada perasaan yang begitu berbeda saat Azka mengatakan hal tersebut kepada Unni, getaran suara itu menandakan jika dirinya begitu menyesal dan malu.
"Tidak ada kata terlambat untuk merubah semuanya, semuan perubahan itu terjadi tidak secara instan. Semuanya butuh proses dan perjuangan, maka dari itu kita diciptakan berpasang-pasangan untuk saling melengkapi dari kekurangan yang ada."
Bagi Azka, sungguh sangat memalukan berhadapan dengan Unni saat ini, bahkan dirinya merasa tidak pantas untuk berdiri disamping wanita ini.
__ADS_1
Kedua telapak tangan kekar itu mengusap wajah dan kepalanya dengan cepat, bisa terbaca jika Azka sedang merasakan dilema yang cukup besar.
"Mari sama-sama kita saling melengkapi kekurangan itu, dan bersama menjadikan kelebihan yang ada untuk menjadi motivasi dalam kehidupan." Senyum Unni dengan mengapit kedua pipi Azka dengan tangan mungilnya.
Dengan perlakuan Unni padanya seperti itu, membuat Azka merasakan hal yang berbeda. Ia menatap wajah mungil itu dengan tatapan sendunya, bagaimana bisa wanita dihadapannya saat ini bisa menjadi penawar dari segala kegundahan yang Azka rasakan.
"Terima kasih." Air pada sudut mata Azka menetes, ia membalas semua perlakuan Unni dengan memeluknya.
"Aduh, sesak." Unni protes karena Azka memeluknya dengan sangat kuat.
"Makanya jangan terlalu menggemaskan." Melepaskan pelukannya dan menarik kedua pipi Unni yang cukup imut.
"Dasar situ saja yang omes, pegang-pegang dan main sosor saja." Cemberut Unni pada Azka.
"Eits, siapa bilang itu semuanya ada padaku. Kamu sendiri, main pegang-pegang dan peluk. Jadinya sama saja kan!"
Menyadari akan perkataan yang di ucapkan oleh Azka benar adanya, langsung saja membuat wajah Unni menjadi tersipu malu sehingga berubah seperti tomat cerry.
Saat Unni hendak menjauh dari Azka, untuk menutupi rasa malunya. Tiba-tiba saja Azka menariknya kembali sehingga keduanya bertabrakan, dan tubuh mungil Unni tenggelam dalam dada Azka yang lebar.
"Khumairoh." Ucap Azka perlahan.
Keduanya larut dalam suasana yang begitu mendukung untuk berdua, hingga akhirnya Azka mendaratkan kecupannya pada bibir Unni.
Lalu terjadilah penyatuan diantara mereka berdua, dimana keduanya sudah sah menjadi suami dan istri serta pasangan yang halal.
Berbeda dengan keadaan di ruang utama, Mark yang tidak mengetahui apa-apa mengenai pernikahan itu menjadi murka. Melampiaskan kekesalannya kepada Peter dan yang lainnya, ia mengumpat merasa satu persatu.
"Jadi begini cara kalian, hah! Benar-benar keterlaluan, mana itu manusia batu? Lama sekali turun ke bawah." Kesal Mark.
"Mereka tidak akan turun, namanya juga pengantin baru. Kau ini ada-ada saja." Cibir David.
"Dia tidak akan turun, keduanya tahu jika tamunya adalah kau." Kenzo tak mau kalah untuk mencerca Mark.
__ADS_1
"Kalian semua, awas saja." Begitu kesalnya, sampai-sampai makanan dihadapannya ia santap dengan sangat lahap.
Semuanya tertawa melihat aksi dari Mark, pria satu itu sangat berbeda dari yang lainnya.