
"Semuanya sudah siap, kalian segera datang kemari." Ucap Peter melalui ponsel bersama Azka.
"Hem, aku akan segera kesana." Pembicaraan itu terhentikan, Azka bergegas menuju tempat yang sudah diberitahukan padanya.
Sedangkan Unni, ia merasa bingung dengan apa yang harus dilakukan, sang kakak tiba-tiba saja meminta dirinya untuk datang ke suatu tempat yang tidak diberitahukan tempat apa. Bersama dengan Mawar dan Putri, mereka berangkat kesana.
"Nona, kenapa wajahnya tegang seperti itu?" Mawar juga merasa ada sesuatu yang dirasakan oleh Unni.
"Ah, tidak ada apa-apa kok."
Ingin sekali Unni menanyakan perihal tersebut kepada Kenzo yang kini sedang mengendarai mobil, penuh pertanyaan di dalam kepala Unni.
Setibanya di tempat tersebut, betapa kagetnya Unni dan juga dua wanita lainnya saat melihat tempat yang mereka tuju.
"Tuan Kenzo, apa anda tidak salah tempat?" Tanya Unni yang masih tidak percaya.
"Tidak nona, mari silahkan masuk." Kenzo mengarahkan semuanya menuju suatu ruangan.
Berjalan dengan perlahan, sambil memperhatikan satu persatu ruangan yang ada disana. Hingga ia melihat keberadaan Peter di dalam satu ruangan, menyambut kehadiran Unni.
"Kakak, ada apa ini?" Tanya Unni dengan penuh kecurigaan.
"Masuklah, kau akan mengetahuinya nanti." Peter menyambut Unni untuk masuk ke salah satu ruangan.
Beberapa penjagaan yang cukup ketat dilakukan saat mereka disana, tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak di inginkan. Betapa kagetnya Unni saat memasuki ruangan itu, Azka telah berdiri berhadapan dengan dirinya.
__ADS_1
Menghantarkan Unni untuk duduk bersama Azka berdampingan, dimana ia baru menyadari sesuatu hal yang sudah dipersiapkan itu. Air mata Unni mengalir begitu saja, ia sungguh tidak menyangka hal ini begitu cepat terjadi.
Begitu pula pada dua wanita yang bersama Unni, mereka menyadari sesuatu yang begitu sakral akan terjadi. Senyum bahagia itu merekah setelah menyadarinya, seakan ikut hanyut dalam acara tersebut.
Begitu cepat waktu berjalan, hingga dimana Peter berjabat tangan bersama Azka. Mengucapkan kalimat sakral yang dimana Peter menjadi wali dari seorang Unni, dengan fasih Azka mengikuti ucapan dari seseorang yang disebut dengan penghubung.
Hingga pada akhirnya, kalimat 'sah' telah bergema diruangan tersebut, dan kini. Status kehidupan dari sepasang manusia telah berubah menjadi suami dan istri, cukup singkat dalam acara tersebut.
"Kak." Unni menatap Peter dengan mata yang sudah basah.
"Maafkan kakak, sudah saatnya kamu harus bahagia." Senyuman Peter kepada Unni.
"Tapi,..."
"Bukankah niat baik seseorang itu harus disegerakan? Untuk itu, kakak berikan tanggung jawab sebagian itu kepada dia. Namun, kakak akan tetap menjagamu sampai kapanpun." Peter memeluk Unni, tanpa terasa matanya sudah mulai mengembun.
"Aargh! Kenapa dicubit, kebiasan." Peter mengusap perutnya.
"Makanya, apapun itu harusnya kakak bicarakan dulu padaku. Kalau begini, seperti nikah paksa saja." Gerutu Unni yang memasang wajah cemberutnya.
"Tapi suka kan?" Peter memainkan alis wajahnya.
Tidak menjawabnya, Unni hanya menghela nafas berat dan panjang. Semuanya yang ikut disana memberikan selamat kepada keduanya, hanya Azka yang masih menunjukkan wajah dinginnya.
Meninggalkan keduanya disana, kini mereka masih berdiam diri. Berada di dalam mobil, Azka melajukannya dengan kecepatan sedang.
__ADS_1
"Maaf, tidak memberitahukanmu terlebih dulu." Azka membuka suaranya.
Unni masih dalam diamnya, melemparkan pandangannya ke luar jendela mobil. Tiba-tiba saja Azka berhenti dibahu jalan, mencoba untuk menenangkan dirinya.
"Maaf jika aku bukanlah sosok pria yang kamu idamkan, sejak dirimu mengatakan restu Peter menjadi penentunya. Maka, aku langsung mengatakan hal itu padanya."
"Jangan diam saja, bicaralah. Bukankah seorang istri itu patuh kepada suaminya?" Azka berbicara namun tidak menatap wajah Unni.
Masih dengan diamnya, Unni mencoba mencerna ucapan dari Azka. Tidak bisa dipungkiri ia mendambakan seseorang dengan kriteria yang ia inginkan, namun Allah berkehendak lain. Tidak mungkin semuanya itu tidak mempunyai arti tersendiri, dan juga dirinya tidak ingin membohongi perasaannya sendiri.
"Baiklah, memang seorang istri itu patuh kepada suaminya. Tapi, suami yang seperti apa dulu." Pandangan Unni menatap Azka.
Perkataan Unni mengenai hati Azka, ia sangat merasa jauh sekali dari apa yang Unni harapkan. Ada sedikit rasa bersalah dalam dirinya atas pernikahan yang secara tiba-tiba ini.
"Tidak ada manusia yang sempurna, untuk itu. Mari kita bersama-sama menjalaninya dengan baik."
Unni mengadahkan telapak tangan kanannya disamping Azka, melihat hal tersebut. Membuat Azka kaget, merasa jika dirinya benar-benar tidak percaya akan apa yang Unni katakan.
"Tidak mau ya?"
Dengan cepat Azka menggenggam tangan mungil itu dengan begitu eratnya, tidak ingin melewatkan apa yang sudah berada didepannya saat ini.
"Jangan pernah bosan untuk selalu mengingatkan ku, terima kasih sayang." Azka langsung meraih tubuh mungil Unni untuk masuk ke dalam pelukannya.
"Eh, main sosor saja. Malu nanti di liatin orang banyak." Unni mendorong Azka karena kaca mobil yang mereka gunakan bisa terlihat oleh orang lain.
__ADS_1
"Hahaha, maaf. Terlalu bersemangat, akan aku ganti semua kaca mobil dengan yang gelap."
Kembali Unni tersenyum akan sikap Azka yang selalu berubah-ubah, setelah puas untuk saling menerima satu sama lainnya. Azka melanjutkan perjalanan mereka untuk kembali ke mansion, tak henti-hentinya senyuman terukir pada wajah keduanya.