Muslimah Untuk Mafia Psychopath

Muslimah Untuk Mafia Psychopath
53.


__ADS_3

Azka dalam perjalanan menuju mansion, ia mengendarai mobilnya dengan sangat cepat.


"Kirimkan tim alpa, sekarang!" Azka menghubungi David agar segera bergerak.


Sedangkan klan Red Dragon sedang diserang kepanikan, namun tidak untuk Baron. Ia saat ini melihat bagaimana musuhnya sedang dalam kekacauan yang begitu dahsyat, tertawa dalam keadaan yang cukup tenang.


"Lihatlah, kau sendiri yang memilihnya. Tapi ternyata, kau cukup bodoh Peter. Hahaha." Tawa Baron dengan penuh kemenangan.


"Ba***gan kau Baron! Kau berjanji untuk tidak mengusik adikku, jangan melibatkan dirinya!" Bentak Peter dalam keadaan tidak berdaya.


Berjalan dengan tenang mendekati Peter, Baron yang berhasil membuat jebakan atas dirinya dan kini ia harus mendekam menjadi tawanan musuh lamanya itu.


"Kau terlalu bodoh dalam soal perempuan, buktinya. Sekarang kau berada disini, hahaha. Terima kasih atas infomarsi yang sangat menguntungkan ini, Peter."


"Sebentar lagi, kau akan mendengar nama itu menjadi penghuni tanah. Lalu dengan mudahnya, aku akan menguasai semua jaringan dunia bawah." Baron dengan penuh percaya dirinya, menyakini jika dirinya bisa merebut kekuasaan dunia bawah yang saat ini dikuasai oleh Azka.


"Tidak! Aku akan membunuhmu, jika kau berani menyentuh adikku!" Erang Peter dalam keadaan terikat rantai besi pada kedua tangan dan kakinya.


Tanpa memperdulikan Peter lagi, Baron meninggalkannya dengan tertawa serta berlalu begitu saja dan ia akan segera melancarkan aksinya.


Dalam penyesalan yang teramat besar, Peter kini hanya bisa meratapi semuanya. Kebodohan akan dirinya yang sangat mudah percaya pada wanita ular seperti Jenie, dan itu membawa dirinya harus terjebak dalam keadaan seperti ini.


.


.


.

__ADS_1


.


Merasakan ada sesuatu yang menyentuh wajahnya, membuat Unni terbangun dari tidurnya.


"Hubby! Sudah pulang?" Unni ingin segera menghampiri suaminya.


Hal aneh yang Unni rasakan, malah Azka yang dengan cepat menghampiri dirinya dan memeluknya sangat erat. Membenamkan wajahnya pada bagian tengkuk Unni, menghirup aroma tubuh istrinya yang membuat dirinya merasa nyaman.


"Ada apa Hubby? Kamu sakit?" Unni mengusap punggung lebar sangat suami.


"Tidak ada, biarkan seperti ini dulu sayang." Azka menahan Unni agar tidak melepaskan tangannya.


Disaat keduanya larut dalam suasana nyaman bersama pasangannya, terjadi kegaduhan dari arah halaman utama. Dimana pertahanan mansion mendapatkan hantaman keras pihak klan lainnya yang berusaha masuk, karena keamanan sebelumnya sudah ditingkatkan. Maka tidak ada kesulitan untuk mereka menghalau para musuhnya, terjadinya baku hantam diantara mereka.


Dduuaarr!!


Suatu ledakan yang cukup besar terjadi, suaranya membuat telinga berdenging.


"Tenang sayang, aku akan ada disampingmu. Ingat, jangan pernah berpikir untuk menjauh dariku. Ayo." Azka mengajak Unni untuk keluar dari kamar mereka.


Mulut Unni sudah ingin bertanya mengenai apa yang telah terjadi, namun lidahnya mendadak mati rasa. Melihat raut wajah sang suami yang begitu dingin, Unni merasakan jika saat ini ia berada dalam dunia suaminya yang sesungguhnya.


Dengan cepat Azka menarik tangan Unni untuk menyamakan langkahnya, salah satu tangan Azka mengambil sesuatu dari balik jas yang ia kenakan.


Deg!


Jantung Unni seakan berhenti berdetak, saat kedua matanya menangkap benda yang suaminya genggam pada tangannya.

__ADS_1


Dor!


Dor!


"Arkh!" Unni sontak berteriak saat tembakan tersebut hampir mengenai mereka.


Tangan Azka dengan sigap menarik tubuh Unni ke dalam pekukannya, melindungi tubuh mungil itu dan melepaskan tembakan balasan kepada orang yang sudah berhasil menyelinap masuk ke dalam mansion.


"Kamu tidak apa-apa?"Panik Azka dan langsung mengecek tubuh Unni.


"A aku baik-baik saja." Dengan bergetar, Unni berusaha menyakinkan pada Azka jika dirinya tidak tertembak.


Dalam perlindungannya, Unni melihat Hugo dan beberapa pria yang tidak ia ketahui sedang bertarung dengan orang yang sudah dipastikan musuh.


"Hubby, aku takut."


"Tenang sayang, ini tidak akan lama." Azka memberikan kecupan pada kening Unni agar dirinya tenang.


Keadaan semakin tidak kondusif, Hugo nampak mengalami sedikit kendala saat menghadapi lawan mereka.


"Sayang, kamu tetap disini. Jangan kemana-mana, oke." Tegas Azka kepada Unni.


"Ta tapi, aku takut hubby."


"Tenang sayang, hanya sebentar."


Begitu beratnya Azka meninggalkan Unni, namun tidak ada cara lain untuk hal tersebut. Anggota lainnya juga sedang menghadapi lawan mereka, bisa dikatakan ini adalah pertempuran besar yang terjadi.

__ADS_1


Gerakan Azka sangat cepat menyusup pada pertempuran itu, kali ini. Unni menyaksikan lagi aksi suaminya itu, dimana sebelumnya ia juga melihatnya.


...Apa yang harus aku lakukan, situasi ini benar-benar diluar kendali. Apakah ini yang dinamakan pertarungan dunia bawah? Inilah pekerjaan suamiku yang sesungguhnya?...


__ADS_2