Muslimah Untuk Mafia Psychopath

Muslimah Untuk Mafia Psychopath
43.


__ADS_3

"Hei! Siapa kamu?!" Teriak Baron yang mendapati salah satu orang mencurigakan.


Saat seorang pria tersebut sedang merapikan beberapa gelas yang berada pada baki di tangannya dan mendapatkan teriakan dari Baron, ia hanya berdiam diri disana.


Dengan cepat, Baron berlari menuju pria tersebut dengan kecurigaan yang begitu besar dan juga kemarahannya.


"Siapa kau!" Bentak Baron dengan mencengkram kerah kemeja yang digunakan oleh pria tersebut.


"Saya hanya pelayan yang sedang bertugas, tuan." Meletakan baki ditangannya di atas meja terdekat dengan cepat.


"Bohong! Siapa kau, hah?! Kenapa semua orang disini berjatuhan?" Lagi-lagi Baron membentak pria itu.


"Benar tuan, saya hanya pelayan lepas untuk bekerja disini." Tubuh pria itu bergetar dengan sangat hebat.


Seakan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh pria tersebut, Baron mengambil sebuah senjata kecil dari balik pakaiannya dang mengarahkannya pada sisi samping kepala dari pelayan pria.


"To tolong ampuni saya tuan, saya benar-benar bekerja disini." Ucap pria itu dengan sedikit sesegukkan.


"Kenapa semua orang disini sampai seperti ini, sial!" Baron menghempaskan pria itu dengan kuat, sehingga membuatnya jatuh tersungkur di lantai.


Peristiwa yang cukup mengagetkan, tiba-tiba saja dalam sekejap mata. Hampir keseluruhan dari anggotanya sudah tidak bernyawa, bahkan semuanya tidak dapat mereka terka.


Para anggota yang tidak terkena dampak dari hal tersebut, semuanya berkumpul membuat perlindungan untuk tuan mereka. Beruntungnya Baron yang tidak mengalami kejadian seperti itu, lengah sedikit saja nyawanya pasti akan sama dengan yang lain.


Dor!


Dor!


Duar!!!


Kembali lagi mereka harus dikagetkan dengan suara yang cukup membuat jantung berhenti berdetak, memperketat perlindungan kepada Baron. Mereka harus segera membawa Baron ke tempat yang paling aman, yaitu ruang rahasia yang berada di bawah tanah.

__ADS_1


"Berhenti kalian!" Suara yang cukup keras membuat semuanya berhenti.


Tap!


Tap!


Langkah kaki yang menimbulkan suara cukup nyaring, mendekati dimana Baron berada. Kali ini, Baron benar-benar dalam masalah besar.


"Seharusnya kau dari sudah tewas." Suara Azka yang cukup penuh penekanan, membuat klan musuh tak berkutik.


"Masih ingin bermain-main, Baron?" Azka mengarahkan sebuah samurai yang sudah basah dengan cairan merah.


"Apa maksudmu?" Mengeluarkan perkataan yang cukup membuat pihak Red Dragon tertawa.


Para anggota yang membuat perlindungan pada Baron, dengan perlahan berjalan sedikit demi sedikit sehingga mereka dapat menemukan titik yang dicari.


"Kau kira, aku akan diam saja. Heh, kau terlalu percaya diri akan hal itu."


Crash!


Crash!


Lalu terjadilah perlawanan satu sama lain diantara kedua pihak klan tersebut, Azka yang terus menyerang para klan musuhnya dan membuat mereka benar-benar kalah telak.


Begitu juga dengan Eiger dan lainnya, mereka menyerang dari segala sisi yang ada disana. Pada abaikan terluar, ada Kenzo dan juga lainnya ikut mengamankan.


Namun semuanya tidak menyadari, jika target utama mereka sudah tidak berada disana. Dimana Azka yang berhasil menerobos benteng perlindungan Baron, dan itu membuat Azka geram.


"Baron! Dimana kau, hah?! Keluar!" Teriak Azka dengan sangat keras.


Kedua matanya seperti hendak menerkam mangsa, memutar ke segala sisi dimana tempat ia berada. Akan tetapi ia tidak mendapatkan apapun, dan itu membuat Azka semakin murka.

__ADS_1


"Baron!!" Urat-urat leher terlihat jelas.


Dalam sekejap, klan musuh dapat mereka kalahkan. Hanya ada sebagian kecil para pemberontak yang masih mencoba menyerang, kini semuanya berkumpul tepat disisi Azka.


"Kemana hilangnya?!" Eiger terus mengamati seluruh sudut yang ada disana.


"Selalu saja seperti ini, kenapa dia diberikan kesempatan terus untuk bisa menghilang." Ketus Kenzo yang sudah menipis kesabarannya.


Berjalan perlahan, Azka menelusuri tempat dimana ia melihat Baron terakhir kalinya tadi. Semuanya tampak sempurna dan tidak seperti terjadi apapun, namun Azka mencurigai hal tersebut.


Namun disaat ia sedang mencari titik hilangnya Baron, ponsel miliknya bergetar berulang kali. Yang pada akhirnya ia harus melihat benda kecil itu, semua fokus pikirannya masih tetap pada Baron dan ia tidak melihat siapa yang menghubunginya kala itu.


"Hem." Ucapan Azka yang super padat.


"..."


Ekpresi wajah Azka seketika berubah, mendengar suara orang yang berada di telinganya. Segera ia akan mengakhiri pembicaraan tersebut, namun.


"Bagaimana, apa kita harus membunuhnya?" David yang sedang menahan seseorang di tangannya.


Dan seketika itu juga pembicaraan Azka pada orang yang menhubunginya terputus, pikiran Azka langsung mengarahkannya untuk segera pulang.


"Hei Ka, mau kemana?" David mengkerutkan keningnya.


"Ucapanmu barusan, membuatnya takut." Azka berlari menuju mobilnya dan dengan sangat cepat ia menerobos perjalanan menuju mansion.


"Apa maksud ucapannya? Dan semuanya ini, bagaimana?" David masih belum menyadari sesuatu.


Mark yang sudah menyadari perubahan sikap Azka, hanya bisa menahan mulutnya agar tidak menimbulkan masalah. Namun kini, kekacauan itu bukan berasal dari mulutnya.


"Otakmu sedang tidak baik-baik saja, David. Istri Azka mendengar ucapanmu tadi, habislah kau." Gertak Mark yang selalu suka dengan keributan.

__ADS_1


"Apa?!" David seketika melepaskan tangannya dari tawanannya.


__ADS_2