Muslimah Untuk Mafia Psychopath

Muslimah Untuk Mafia Psychopath
32.


__ADS_3

Keadaan mansion Peter semakin kacau, mereka kalah dalam jumlah anggota.


"Dimana Peter?!" Tegas Azka yang baru saja tiba.


"Tuan ada disana." Ujar salah satu anggota dan menunjukkan keberadaannya.


Keadaan disana sangat begitu kacau, mansion yang pada awalnya terlihat begitu megah. Namun kini, bangunan itu sangat jauh berbeda. Banyak tubuh yang tergeletak tanpa nyawa, masih terdengar suara tembakan dan juga pertarungan.


Dari kejauhan terlihat, seorang pria yang terduduk lemas dan dengan nafas sepengal.


"Dasar bo***h!" Azka menghampiri orang tersebut yang tak lain adalah Peter.


"Diam lah." Peter menjawabnya dengan lirih.


Kondisi Peter semakin menurun, dengan luka yang terus mengeluarkan darah. Azka mempercepat tangannya untuk membawanya keluar dari situasi saat itu, namun Peter menahan tangan tersebut.


"Se lamatkan adikku."


Betapa kagetnya Azka yang baru menyadari jika Unni juga berada disana, akan tetapi kondisi Peter juga tidak bisa dibiarkan.


"Selamatkan nyawamu, percayakan semuanya padaku." Azka mengintruksi anggotanya untuk membawa Peter, agar pria itu segera mendapatkan pertolongan.


"Aku percayakan adikku padamu, dia bersembunyi di tempat yang sama dengan kita dahulu. Arkh! Jangan mengecewakanku." Tatapan mata itu seakan mengingatkan peristiwa dahulu yang telah lama mereka lupakan.


"Hem, pergilah."


Berbagai serangan masih terus berdatangan, bahkan gabungan


jumlah anggota dari klan Peter dan juga Red Dragon hampir kalah. Hal itu tidak menyurutkan jiwa leader dari seorang Azka, ia bahkan dengan tangannya sendiri membasmi para penyusup tersebut yang terus berdatangan.


...Dimana ruangan itu? Argh, sial....


Mata Azka terus menelusuri setiap sudut yang ada, dimana ada sebagian dari bangunan hancur akibat dari ledakan yang menutupi pintu kecil akses masuk ke ruangan tersebut.


Terlihat saat itu, jiwa seorang leader maupun Psychopathnya dari seorang Azka. Ia tidak akan segan untuk melenyapkan nyawa orang-orang yang berani mengusik kehidupannya.


"Argh!"


Teriak Azka yang kaget saat punggung bagian belakangnya terkena salam perkenalan dari benda tajam para penyusup, bukannya mengerang ataupun merintih. Azka menggerakkan tubuhnya dan menatap penyusup tersebut yang ternyata berjumlah lebih dari satu, lalu sudut bibir Azka tertarik sehingga memperlihatkan senyuman devilnya.


Lalu terjadilah aksi serang menyerang diantara mereka, berbagai sejata digunakan oleh para penyusup untuk menyerang Azka. Begitu pula dengan Azka, dia menggunakan senjata yang terdekat pada dirinya.


Hanya dengan mengandalkan dirinya sendiri, harus mengalahkan semua para penyusup yang berada dihadapannya. Karena yang lainnya membereskan pada bagian lain dari mansion yang cukup luas, dan kini hanya tersisa Azka dan satu penyusup.


"Katakan, siapa yang menyuruh kalian?" Dengan kepalan tangan menggenggam erat leher penyusup tersebut.


"Tidak akan terjadi." Penyusup tersebut terus mempertahankan jati diri dari tuannya.

__ADS_1


"Heh, tanpa kau mengatakannya pun aku sudah mengetahuinya. Bedebah!"


Bugh!


Bugh!


Melayangkan pukulan bertubi-tubi kepada orang tersebut, tidak ada lagi yang tersisa dari wajahnya. Semuanya babak belur terkena hantaman dari kepalan tangan Azka, orang tersebut masih tidak mau mengatakan misi apa yang mereka lakukan dalam penyerangan ini.


Saat Azka akan memutar leher pria itu, ia mendapati sebuah tato kepala macan hitam di balik telinga. Azka menghela nafas panjangnya, tidak menyangka jika ia harus berhadapan kembali dengan klan tersebut. Apalagi mereka menyerang Peter, yang diketahui mulai menarik diri untuk tidak terlibat lagi dalam dunia hitam.


"Kalian telah salah dalam memilih pemimpin, ah percuma hanya berbicara padamu."


Krak!


Begitu mudahnya bagi Azka memutarnya, kini ini berjalan mencari ruangan yang dikatakan oleh Peter.


Dugh! Dugh!


"Buka! Tolong siapa pun, buka pintunya."


Telinga Azka mendapatinya, ruangan tersebut terhalang oleh beberapa material reruntuhan dari bangunan yang ada. Dengan cepat Azka menyingkirkannya dan mendobrak pintu tersebut, ternyata itu sia-sia. Peter merancangnya begitu kokoh.


Dari dalam sana, Unni mendengar jika ada seseorang yang mencoba membuka pintu itu. Ia sangat khawatir, karena Jihan sudah tidak sadarkan diri. Sahabatnya itu memiliki kebiasaan yang selalu pingsan saat situasi panik, namun Unni tidak mendengar suara dari orang yang mencoba membuka pintu.


"Siapa disana?"


"Menjauhlah dari pintu!" Teriak Azka.


"Alhamdulillah Ya Rabb, pertolonganMu hadir melalui dirinya." Unni segera menjauh dari pintu.


Berbagai cara Azka gunakan untuk membuka pintu tersebut, yang pada akhirnya bisa terbuka setelah bantuan datang.


"Tuan!"


Unni berlarian menghamburkan dirinya memeluk tubuh Azka, luapan rasa bahagia itu ia lampiaskan dengan begitu erat. Membenamkan wajahnya pada dada Azka, membuat pemiliknya, tubuh itu harus berdiam diri mendapatinya.


"Ya Tuhan, kalian benar-benar ya." Mark hadir disaat yang tidak tepat.


"Eh, Astaghfirullah." Unni menyadari kesalahannya dan melepaskan dirinya dengan cepat.


"Sudah-sudah, Mark. Kau bawa yang satunya, dia tidak sadar." Titah Azka pada Mark.


"Siapa?" Lalu Mark menolehkan wajahnya pada arah yang Azka tunjukan.


"Biar saya saja tuan." Unni menangkap jika Mark tidak bersedia.


"Tidak! Ayo." Azka menarik tangan Unni.

__ADS_1


"Ya ya ya, kalianlah pemenangnya." Keluh Mark.


Suasana di luar sudah tenang, semua para penyusup dapat dihadapi dengan bantuan dari anggota Red Dragon. Mendengar Peter mendapatkan serangan, membuat semua orang kepercayaan Red Dragon murka.


"Dimana kakak, tuan. Apakah kamu tahu dimana kakakku, dia terluka." Nada khawatir keluar dari mulut Unni.


Gerakan mata Unni mengitari seluruh orang dan tempat dimana ia berada saat ini, namun mata itu tidak mendapatkan apa yang ia cari. Begitu khawatirnya ia dengan Peter, dalam keadaan terluka ia berada dimana.


"Tenanglah, kakakkmu sedang mendapatkan perawatan." Ujar Azka untuk menenangkan Unni.


"Benarkah? Bisakah anda menghantarkan saya tuan? Kumohon." Dengan mengatupkan kedua telapak tangannya didepan muka, Unni berharap Azka akan mengabulkannya.


...Ah tidak, dia terlihat begitu menggemaskan sekali. Oh Tuhan, aku tidak tahan dengan ini....


"Baiklah." Azka mengabulkannya.


"Terima kasih, tuan." Kembali lagi Unni memeluknya secara cepat.


Kenzo menghampiri Azka dan membisikan sesuatu di telinganya, namun Azka menolaknya. Unni merasa heran dengan pembicaraan itu, tanpa sengaja ia menangkap telapak tangannya basah dengan cairan berwarna merah.


Mencoba mencari sumber darimana cairan itu, saat menemukannya.


Sruth!


"Argh! Kenapa mencubitku?!" Erang Azka menahan sakit pada perutnya yang Unni cubit.


"Bawa pria batu ini kerumah sakit tuan Kenzo, dia lupa akan lukanya sendiri setelah menyelamatkan orang lain." Cibir Unni yang mengimbangi sikap Azka.


"Siap nona, segera dilaksanakan." Kenzo merasa risih dengan sikapnya sendiri, kali ini merasa Azka akan mendapatkan lawan yang setimpal.


Azka memberontak saat Kenzo membawa dirinya untuk segera kerumah sakit.


"Siapa bos mu, hah?" Azka murka pada Kenzo.


Namun Kenzo tidak menanggapinya, ia malah tersenyum penuh kemenangan.


"Kau!" Lagi-lagi Azka mengerang.


Sruth!


"Diamlah, atau akan aku suruh dokter Mark menyuntikmu!" Tatap Unni dengan tajam.


Tanpa perlawanan, entah darimana kekuatan itu. Yang berhasil membuat Azka terdiam dan menurut saja, pemandangan yang begitu langka.


"Hahaha." Kenzo tertawa.


Dugh!

__ADS_1


"Diam kau!"


Menendang kursi kemudi mobil yang Kenzo duduki dengan menggunakan kakinya, mereka menggunakan kendaran cepat itu untuk segera sampai ke rumah sakit. Dan kali ini, Azka telah kalah telak pada Unni.


__ADS_2