Muslimah Untuk Mafia Psychopath

Muslimah Untuk Mafia Psychopath
93.


__ADS_3

Menceritakan mengenai perasaannya yang ia rasakan pada mommy nya, membuat Varo menjadi merasa lega.


"Tuan, anda sudah ditunggu oleh tuan Sandy di ruang rapat." Aira bergegas memanggil Varo.


"Biarkan saja, katakan padanya jika dia yang harus mengantikanku untuk rapat. Dan setelahnya, kau kembali lagi keruangan ini. Ada tugas yanh sudah menunggumu." Ucap Vark yang masih sibuk menatap layar ponselnya.


"Baik tuan." Aira membalikkan badannya dan keluar dari ruangan.


...Benar-benar tidak beres, seenaknya saja menyerahkan tugas pada orang lain. Padahal dia sendiri hanya bersantai dan duduk manis disana, dasar pemimpin kejam....


Umpatan itu berkeliaran didalam pikirannya, membuat Aira harus berjalan mondar mandir hanya untuk hal tersebut. Dengan jarak yang cukup lumayan melelahkan juga jika berjalan kaki, naik dan turun pada lantai yang memakan waktu. Mengeluh pun tidak akan ada gunanya, yang ada hanya akan membuat tuannya itu menjadi menghukumnya.


Kembali menuju ruangan Varo...


"Aish! Kenapa mereka sangat lamban sekali. Aku sudah membayarnya dengan harga yang qmahal!" Gerutu Varo yang masih menatap layar ponsel ditangannya.


Suara ketukan dari pintu, membuatnya segera membukanya. Orang-orang yanh ia hubungi melalui ponselnya telah tiba, dengan secepat kilat mereka melajukan apa yang sudah Varo katakan sebelumnya.


Saat semuanya telah selesai dilaksanakan, para orang-orang tersebut segera pergi tanpa meninggalkan jejak. Hal tersebut membuat Varo bernafas lega, benar-benar hari tersebut akan menjadi bersejarah dalam hidupnya.


Sedangkan Aira, ia terus mengumpat Varo yang membuat dirinya menjadi lelah. Bahkan kakinya sudah terasa pegal dan minta untuk berhenti sejenak, namun hal tersebut tidak akan terjadi. Karena orang yang memberinya perintah sudah menunggu.

__ADS_1


"Ah, kenapa hidupku seperti ini. Sungguh ingin rasanya aku mengutuk pria kejam itu menjadi tunduk padaku, tapi aku rasa itu tidak mungkin terjadi. Hufh!"


Dengan langkah gontai, Aira kini sudah berada didepan pintu ruangan Varo. Mengetuknya untuk meminta izin jika ia akan masuk ke dalam ruangan tersebut, namun tidak ada sahutan.


"Apa tuan Varo sedang tida, ada di dalam? Kenapa tidak ada suaranya?" Aira sempat menghentikan langkahnya sebelum membuka pintu.


Karena tidak ingin mendapatkan hukuman dari pria kejam itu, Aira memutuskan untuk masuk saja dan menunggu didalam.


Klek!


"Kok gelap?" Wajah Aira mendadak berubah saat medapati ruangan tersebut tidak ada cahaya dari lampu penerangan.


Berpikir jika ada pemadaman disana, Aira melangkah untuk mencari tombol menyalakan lampu. Berjalan dengan merambat seperti laba-laba, dengan bantuan indera perabanya agar dapat menemukan tombol tersebut.


"Aduh! Sakit." Erang Aira saat kakinya menabrak sesuatu yang sangat keras.


Atas teriakan Aira tersebut, membuat ruangan itu menjadi berbahaya seketika. Betapa kagetnya Aira saat melihat isi dari ruangan yang sudah tidak seperti awalnya, dan itu membuat dirinya terdiam dan kedua telapak tangannya ikut berakhir untuk menutup mulutnya.


"Hei! Kenapa berteriak? Hah! Hancur sudah semuanya." Varo muncul dihadapan Aira dan memeriksa keadaan wanita yang berteriak itu.


Kedua mata Aira masih mengelilingi isi ruangan dengan sangat takjub, membuat dirinya tidak menjawab apa yang Varo katakan padanya.

__ADS_1


Mendapati Aira yang masih terdiam, membuat Varo membantunya untuk berjalan bersamanya menuju suatu sudut ruangan.


"Sorry, sudah membuatmu lelah. Aku, aku memang tidak pandai untuk berbicara mengenai masalah hati. Emmm, aku, aku sebenarnya. Aku, ...." Varo mendadak menjadi gagu saat ingin mengatakan apa yang menjadi inti dari keadaan tersebut.


Plak!


"Hei!" Varo protes akan sikap Aira yang memukul punggungnya.


"Sstthh, anda sudah tidak gagu lagi tuan." Celoteh Aira membuat Varo terdiam menahan malu.


"Anda ada acara apa tuan? Ruangannya cantik, hiasaannya juga bagus." Aira menjaga jarak dari Varo.


Sungguh menggemaskan wanita tersebut bagi Varo, berusaha menahan gejolak dalam dirinya untuk tidak menarik kedua pipinya yang cuby.


Tidka ingin berlama-lama, Varo berlutut dihadalan Aira yang menatapnya penuh kebingungan. Mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jas yang ia kenakan, dan membukanya serta memperlihatkan isinya kepada Aira.


"Tu tuan, ini?!" Aira benar-benar kaget.


"Maukah kamu menjadi wanitaku? Menjadi orang yang selalu berada disampingku dalam suka maupun duka?"


"Hah?" Aira membungkam mulutnya kembali.

__ADS_1


...Ti tidak, ini tidak mungkin. Apa ini hanya khayalan saja? Ah, tidak. Ini begitu nyata terjadi....


__ADS_2