
"Ini kamarmu, semoga semuanya kamu suka." Peter membuka sebuah pintu ruangan yang bersebelahan dengan kamar miliknya.
Lagi-lagi Unni menjadi kaget, melihat isi dari ruangan tersebut. Bahkan ia mengira jika Peter salah menunjukkan ruangan pada dirinya.
"Ini memang kamar milikmu, semuanya sudah dipersiapkan saat kakak mengetahui semuanya. Jika tidak ada yang kamu suka, katakan saja."
Unni kembali menatap semuanya yang berada di dalam kamar tersebut, baginya semua ini benar-benar diluar kuasanya. Bertemu secara tiba-tiba, mendapatkan pertolongan, dan dipertemukan kembali dengan keluarganya.
"Apa ini tidak terlalu mewah untukku?" Menundukkan wajahnya yang dimana kedua mata itu sudah mengembun.
Mengetahui dari nada suara yang ia dengar, kedua lengan itu melingkar dan kembali membawa tubuh mungil ke dalam pelukannya.
Sangat terasa jika tubuh mungil itu bergetar, sesegukkan dalam tanggisnya. Dimana pada akhirnya, Peter menyimpulkan jika kehidupan sang adik sebelumnya sangat jauh berbeda dengan saat ini.
"Maaf, maafkan kakak yang terlambat menemukanmu. Maaf." Air mata Peter kemudian lolos untuk mengalir.
Rasa penyesalan dan bersalah itu semakin membesar, hal dimana saat ia mengetahui kehidupan adiknya sangatlah jauh berbeda dengan apa yang ia berikan saat ini. Hidup seorang diri dinegara orang dan menjadi salah satu tulang punggung untuk kelangsungan hidup orang lain, membuat Peter tidak dapat membayangkan semuanya.
Perlahan dengan gerakannya, kedua tangan Unni membalas pelukan tersebut.
__ADS_1
"Jangan pernah tinggalkan aku sendiri lagi, kak. Kumohon." Ucap Unni dengan lirih.
Deg!
Mendengar ucapan tersebut membuat Peter merasakan hawa sejuk yang menghampiri dirinya, perasaan yang sangat membahagiakan untuk dirinya. Bertahun-tahun ia merindukan hal tersebut, dan kini ia mendapatinya kembali dengan perjuangan panjang.
"Mmm, tidak akan. Kakak tidak akan pernah meninggalkanmu, tidak akan pernah Khumairoh."
Keduanya meluapkan rasa rindu yang teramat dalam, Bertahun-tahun lamanya terpisahkan oleh jarak dan waktu. Kini, mereka telah kembali bersama.
"Masuklah, kamu masih perlu istirahat yang banyak." Melonggarkan pelukan dan mengusap puncak kepala Unni dengan lembut.
" Namaku Nafisah Kamilatunnissa kak, bukan Khumairoh." Dengan wajah cemberut, Unni menjelaskan kepada Peter.
"Astaghfirullah, benarkah? Tapi, wajahku tidak kemerah-merahan kak." Dengan memeganggi wajahnya, Unni berusaha menyakinkan.
Tak!
"Auw, kekerasan ini namanya." Protes bibir mungil itu.
__ADS_1
"Makanya, tidak usah banyak protes. Karena kakak yang lebih dulu lahir dari kamu dan mengetahui nama itu, nanti akan kakak tunjukan buktinya. Sana istirahat, protes saja bisanya." Menahan senyuman, Peter merasa bahagia.
"Iya, tapi.." Unni menguntungkan kalimatnya.
"Tapi apa? Mau protes lagi, hah!" Peter melebarkan kedua matanya.
"Ish, orang mau nanya arah kiblat kemana. Marah-marah terus, pantesan mukanya cepat keriput." Cengir Unni.
"Apa? Apa kamu bilang, banyak keriput? Dasar adik durhaka, gini-gini banyak wanita yang antri."
"Antri sembako ya, hahaha." Habis sudah gelak tawa keduanya memenuhi mansion.
Semua para pelayan dan penjaga di mansion tersebut merasakan kebahagian, karena tuannya kini telah menemukan kembali adiknya dan senyuman serta tawanya sudah menghiasi, memenuhi mansion.
Penuh keraguan untuk menjawab pertanyaan yang Unni berikan padanya tadi, lalu ia memanggil salah satu pelayan di mansion tersebut untuk menanyakan kembali apa yang Unni berikan padanya. Untuk saja pelayan tersebut tahu, membuat Peter sedikit lega. Lalu mereka berpisah untuk masuk ke dalam kamar masing-masing, mengistirahatkan tubuh yang masih membutuhkannya lebih banyak.
Kebahagian itu juga Unni rasakan, dimana ia berharap bisa bertemu kembali dengan keluarganya dan kini itu sudah terkabulkan. Namun, semuanya masih menyisahkan tanda tanya besar dalam dirinya.
...Ya Allah, terima kasih atas semuanya. Semuanya ini tidak akan terjadi, jika tidak ada izin dariMu. Tapi, masih begitu banyak kejanggalan yang ada. Huh, kuatkan hambamu ini Ya Rabb....
__ADS_1
Di sisi ruang lainnya, Peter menatap penuh kerinduan pada sebuah figura yang berada di atas meja kerjanya. Mengusapnya dengan kelembutan.
...Jangan khawatir lagi, Khumairoh sudah aku temukan dan kini bersamaku. Tidak akan aku biarkan ia merasakan apa yang dulu kita rasakan, dia berhak untuk bahagia. Aku akan menebus semua kesalahan dan keterlambatanku dalam menemukannya, doakan kami untuk terus bersama, bunda, baba....