
Sekuat apapun menahan Azka agar tidak memberontak, hal itu tidak akan terjadi.
"Pikirkan dirimu, tubuhmu perlu asupan untuk memulihkan tenaga. Jika terus seperti ini, aku tidak bisa menjaminnya." Mark berkacak pinggang dihadapan Azka.
"Tidak ada yang harus kau jamin, keluarlah."
"Tenang, aku akan ..."
"Keluar!" Bentakan itu membuat nyali Mark menciut, ia masih sayang pada nyawanya.
Keluar dari kamar tersebut dan menghampiri yang lainnya, melempar tas yang ia bawa dengan sembarangan. Menggelengkan kepala sebagai tanda jika misi mereka tidak berhasil, masa lalu Azka sangat buruk.
Trauma akan namanya pengobatan rumah sakit maupun medis lainnya, dimana orang-orang yang sangat ia cintai kehilangan kesempatan hidup karena ulah dari obat-obatan dan juga alat-alat medis yang dengan sengaja dimasukkan ke dalam tubuh mereka. Mengakibatkan nyawa mereka tak terselamatkan, dalam keadaan yang cukup tragis.
Disaat kondisinya kini, Azka menolak semua hal tersebut. Membuat semua orang yang berada disekitarnya menjadi pusing, butuh pemikiran yang kuat untuk memecahkan persoalan ini.
Ddrrtt...
"Ya hallo." Mark menerima panggilan telfon dari ponsel miliknya.
"Assalamu'alaikum dokter Mark, saya Hafsah. Masih ingat dengan saya dok?"
"Hafsah? Ah ya baru ingat, kamu yang bersama Azka waktu itu kan?"
Mereka pun saling berbicara, dan hal tersebut merupakan pembuka jalan untuk permasalahan yang sedang mereka hadapi saat ini. Tanpa berbicara apapun, Kenzo segera pergi begitu saja dengan terburu-buru.
Mengakhiri pembicaraannya, lalu Mark bertanya kemana hilangnya Kenzo.
"Kemana dia?"
"Menjemput kunci dari situasi saat ini." Jawab David dengan menyandarkan tubuhnya.
"Kunci? Maksudnya?" Mark mengkerutkan keningnya, belum bisa mencerna apa yang dikatakan oleh David.
"Tunggu saja, kau akan mengetahuinya nanti." Jawab acuh David yang mendapatkan wajah cemberut dari dokter itu.
.
.
__ADS_1
.
"Sampai bertemu lagi, Ni. Jangan putus asa, nanti aku coba lagi." Cengir Jihan.
"Dasar, seharusnya kamu yang jangan putus asa. Makanya, jangan suka makan sembarangan. Yakin mau pulang?" Unni khawatir karena Jihan masih mengeluh sakit pada perutnya.
"Tenang saja say, penanganan pertama dari dokter itu cukup manjur. Nanti sampai di apartemen, ramuan herbalnya aku minum lagi. Biar badan enak dan bisa tidur, bye Nie."
Mereka pun berpisah, saat Unni akan menutup pintu tempatnya. Ada tangan yang menahannya, dengan cepat Unni melangkah mundur.
"Maaf nona, saya mau bicara." Kenzo menahan Unni.
"Astaghfirullah, tuan Kenzo. Mau bicara masalah apa? Mmm, saya tidak bisa menerima tamu laki-laki." Menjelaksan posisi mereka yang hanya berdua.
"Tidak apa-apa nona, saya hanya ingin bicara..."
Terjadilah pembicaraan diantara Kenzo dan juga Unni pada saat itu, yang berujung keberadaan Unni saat ini ada di mansion milik Azka.
Sempat ada rasa ragu dan juga takut untuk hal tersebut, namun. Mendengar apa yang telah Kenzo ceritakan padanya, hati kecilnya tidak bisa membiarkannya seperti itu.
Kehadiran Unni disana, mengagetkan David. Dengan cepat Kenzo memberikan tanda agar dirinya menahan semua pertanyaan tersebut, Mark lebih awal mengetahui apa yang Kenzo lakukan. Ia pun segera memberitahukan kepada Unni.
Hugo memberikan kereta dorong kecil yang di atasnya terdapat beberapa makanan halus beserta minuman, Unni mendorongnya masuk bersama juga Mark disana.
Banyak sekali pertanyaan dalam benak Unni mengenai seorang Azka, semuanya itu perlahan terjawabkan saat dirinya melihat sendiri keadaan pria itu.
"Astaghfirullah, tu tuan." Air mata Unni terbendung pada sudut kedua matanya saat menyaksikan keadaan Azka.
"Inilah yang kami takutkan, semoga dengan kehadiran anda. Bisa membantunya, karena. Hemm, apa ya namanya. Aduh, nanti terjawab sendiri ya." Cengir Mark yang kesulitan untuk memberikan jawaban.
Keadaan kamar yang sangat rapi, bernuansa gelap serta aroma wangi vanili dari pengharum ruangan. Yang dimana akan membuat pemiliknya semakin merasa nyaman berada disana, wajar saja jika Azka disana.
Namun, semuanya terbantahkan saat melihat kondisinya. Tubuhnya sangat jauh sekali menyusut, dengan wajah yang sangat pucat dan sayu. Mark mengisyaratkan Unni agar biasa membujuknya, mendapatkan asupan makanan serta obat-obatan yang seharusnya Azka dapatkan beberapa waktu yang lalu.
"Assalamu'alaikum." Salam Unni dengan perlahan mendekati Azka yang sedang duduk menatap pemandangan di luar jendela.
"Keluarlah, jangan merasa kasihan." Ucapnya yang mengetahui kehadiran Unni disana.
"Ta tapi tuan."
__ADS_1
"Keluar!" Bentak Azka yang membuat air mata Unni akhirnya mengalir.
Mendapatkan situasi yang cukup memungkinkan, Mark berancang-ancang untuk memberikan sebuah suntikan agar Azka bisa beristirahat. Sayangnya, hal itu sudah terlebih dahulu diketahui oleh target mereka yang berakhir dengan Azka memberikan Mark sebuah hantaman pada wajahnya.
"Tuan, stop!" Teriak Unni.
"Keluar kalian semua, keluar!" Emosi Azka kembali tidak bisa ia kendalikan.
Beberapa kali ia terjatuh akibat dari tubuhnya yang terlalu lemah, namun ia masih bisa menghajar Mark. Tidak tahu kekuatan dan keberanian darimana yang membuat Unni meraih tubuh Azka, ia memeluknya dari arah belakang dengan cukup erat.
" Tuan, hentikan. Kumohon."
"Lepaskan! Aku bilang lepaskan! Kalian membuatku marah!" Azka berteriak dengan apa yang terjadi pada dirinya.
"Tidak, saya tidak akan melepaskannya sebelum tuan berhenti bersikap keras kepala." Ucap Unni dengan air mata yang sudah membasahi pakaian Azka.
"Kalian!" Erang Azka.
Hal tersebut memberikan Mark kesempatan untuk melakukan hal yang seharusnya Azka dapatkan, dan itu berhasil ia lakukan. Perlahan tubuh Azka melemah, Unni menahan berat tubuh itu dibantu Mark untuk membaringkannya di atas tempat tidur.
"Jangan Mark, aku tidak suka kau melakukannya!" Dalam keadaan lemah pun, Azka masih bisa mengancam.
"Sorry Ka, tapi ini yang kamu butuhkan. Berdamailah dengan masa lalu, tuh ada perawat cantik." Mark mengalihkan fokus Azka padanya, dimana membuat Mark dengan leluasa menacapkan selang infus pada punggung tangannya.
Ada rasa ingin untuk Azka menatap wanita yang berada disampingnya, namun ia juga malu akan keadaannya saat ini. Setelah selesai melajukan tugasnya, Mark menyerahkan hal itu kepada Unni. Mereka tidak membiarkan orang lain untuk masuk, karena itu akan membuat keadaan Azka kembali keras kepala.
Mark sengaja melemahkan otot-otot Azka, membuatnya tidak sadar akan semakin marah. Membiarkannya merasakan kehadiran dan rasa kasih sayang dari orang disekitarnya, dengan tujuan agar dirinya merasa nyaman.
"Mau makan?" Tawar Unni namun tidak mendapatkan respon apapun dari Azka.
"Huh, sepertinya persediaan istighfar saya semakin menipis saat berhadapan dengan anda. Baiklah, jika tidak mau makan. Jadinya saya juga akan menemani anda dengan sama-sama tidak makan."
Krruukk!!
...Aduh, ni perut bener-bener bisa diajak kerjasama ya. Dasar....
Suara perut Unni terdengar cukup jelas, ia juga tidak bisa menutupinya. Saat di apartemennya, ia belu, sempat untuk mengisinya. Karena Jihan membutuhkan bantuannya yang saat itu juga sedang sakit perut, kebanyakan makan makanan pedas saat di perusahaan.
"Terserah, itu maumu sendiri. Tidak ada hubungannya denganku." Ketus Azka dan memejamkan matanya.
__ADS_1