Muslimah Untuk Mafia Psychopath

Muslimah Untuk Mafia Psychopath
92.


__ADS_3

Membutuhkan waktu untuk menaklukkan suaminya, kini Unni bersama Varo untuk duduk bersama dan mengobrol di taman mansion mereka.


Dengan ditemani beberapa makanan ringan di atas meja, hingga mereka tidak akan kesulitan jika ingin menikmatinya.


"Mom." Suara Varo memecah kesunyian.


"Hem, ya bang. Ada apa?" Tangan Unni sembari menata beberapa tangkai bunga dari tanaman ditaman, untuk ia tata ke dalam vas.


Awalnya, Varo tampak ragu-ragu untuk memulai pembicaraan tersebut. Yang dimana saat ia berbicara dan berdebat dengan klien akan selalu begitu antusias, bahkan bisa lebih tegas. Tapi tidak untuk kali ini, entah mengapa hatinya dan juga nyalinya seakan menciut.


Walaupun yang saat ini berada didekatnya adalah ibunya sendiri, itu tidak akan membuat semuanya berjalan dengan lancar.


"Hallo. Kok ngelamun." Unni menggerakkan tangannya dihadapan muka Varo.


"Eh..." Varo tersadar.

__ADS_1


"Jangan menahan semua yang ingin abang ceritakan, mungkin. Dengan bercerita, kita akan merasa lega dan mendapatkan pendapat ataupun jawaban dari apa yang ingin kita ketahui."


Seketika Varo menatap Unni, apa yang wanita itu ucapkan. Seakan-akan menyentil dirinya saat ini, benar-benar naluri dan perasaan seorang ibu itu nyata.


"Emmm, mom. Abang bingung."


Unni menaikan satu alis matanya ke atas, baru kali ini putranya bilang bingung. Biasanya Varo akan selalu menghindari dirinya ketika sedang bingung, dimana ia selalu akan meminta pendapat dari daddy nya.


"Masalah apa? Apakah daddy diperlukan disini?" Tanya Unni.


Dengan tersenyum, Unni meraih tangan yang mengepal itu untuk ia genggam. Terasa sangat dingin dan bergetar, sempat terlintas dalam pikiran Unni saat itu yang mengira jika Varo sedang sakit. Namun, akhirnya ia bisa tersenyum kembali.


"Katakan ini adalah hal baik nak."


Untuk sejenak, Varo terdiam dan pada akhirnya ia menganggukan kepalanya. Lalu tiba-tiba ia menggeleng lagi, mengangguk lagi. Membuat Unni melepaskan tangannya dan tertawa, sungguh menggemaskan putra sulungnya ini.

__ADS_1


"Mom, jangan tertawa." Protes Varo.


"Makanya jangan lama-lama bang, mommy jadi berpikiran yang tidak-tidak. Ceritakanlah." Usil Unni kepada Varo.


Benar-benar Varo menjadi tidak bisa berbuat apa-apa kali ini, perasaannya seperti diaduk-aduk beberapa waktu kebelakang. Menenangkan dirinya dan mengambil nafas panjang, memantap diri untuk memulai.


"Mom, bagaimana dengam Aira? Menurut mom, dia seperti apa?"


"Aira? Memangnya, ada apa dengannya? Apa dia membuatmu marah?" Unni sengaja memberikan pertanyaan yang banyak kepada Varo, sebagai tanda untuk menguji kejujuran serta perasaan putranya.


" Mom, bukan itu! Ah, ayolah mom. Jangan bercanda." Varo mengeluarkan sikap manjanya kepada sang mommy.


"Loh, mommy benar-benar tidak tahu maksud abang itu apa?Coba pertanyaannya diperjelas, biar mommy bisa memberikan jawaban." Rasanya Unni ingin sekali melepaskan tawanya untuk sikap anaknya yang masih menjunjung tinggi ego nya.


Lagi-lagi, Varo harus menarik dan menghela nafas panjangnya. Baru kali ini menjadi seorang yang tidak tahu apa-apa, jika saat ini ia dihadapkan dengan pilihan untuk bertarung atau beradu dengan kliennya. Maka hal itulah yang akan ia pilih, dibandingkan dengan persoalan yang kini ia hadapi. Sungguh benar-benar sulit untuk dicerna oleh kepalanya, bahkan ia masih menjunjung tinggi ego dirinya.

__ADS_1


"Huh, entahlah mom. Abang juga bingung, perasaan ini disebut apa. Merasa nyaman saat bersamanya, tapi. Abang menutupi semua perasaan ini dengan selalu bersikap egois padanya, abang tahu kenapa dia menjadi sekretaris yang baru. Itu semuanya rencana mommy dan daddy, kan?"


__ADS_2