Muslimah Untuk Mafia Psychopath

Muslimah Untuk Mafia Psychopath
88.


__ADS_3

"Dad." Unni memberikan isyarat pada suaminya itu, dengan membalikkan tubuhnya dan saling bertatapan.


Mengerti akan maksud dari ucapan tersebut, awalnya Azka sulit menerimanya. Karena kerinduan akan kebersamaan istrinya ini sudah sangat ia rindukan, namun ia kembali harus mengalah.


" Baiklah. Kalian berdua, ikut daddy." Azka menatap si kembar dengan begitu tajam.


Tidak ada protes apapun yanh dilakukan sikembar, mereka juga mengetahui posisi abangnya yang saat itu tidak bergerak sama sekali dari posisi awal.


Berjalan perlahan menghampiri putra sulungnya, Unni meraih tangan kanan Varo lalu Menepuk-nepuk punggung tangan tersebut. Hal itu berhasil membuat Varo mengangkat wajahnya untuk menatap wanita yang sudah membuatnya sedikit kacau, berusaha menahan air yang berada disudut kedua matanya agar tidak menetes.


"Maafkan mommy, maaf sudah membuat abang kepikiran." Sorot kedua mata mereka bertemu satu sama lain.


Akan tetapi, seorang anak tidak akan pernah meluapkan kemarahannya kepada seorang wanita yang telah mengorbankan nyawanya untuk sang buah hati. Sekejam kejamnya seorang Alvaro, ia kan berubah menjadi manusia super lembut dihadapan ibunya.


Dan kini, ia tidak bisa menahan lagi bendungan air yang sudah menumpuk disudut matanya. Kedua kakinya bertekuk dan berlutut dihadapan kaki Unni, tanggis itu kemudian pecah.


"Abang yang seharusnya meminta maaf, bukan mommy. Maafkan abang, abang bersalah." Bahu pria dengan postur tubuh yang hampir serupa dengan daddy nya, hanya saja Varo begitu tampan.


"Bangun nak, ayo. Jangan berlutut pada mommy." Unni menarik Varo agar berdiri, namun tenaganya sangat tidak seimbang.


Menyadari usahanya tidak membuahkan hasil, Unni berinisiatif menggunakan caranya sendiri. Tidak bisa menggeser tubuh anaknya itu, membuat Unni meluruhkan tubuhnya untuk duduk pada lantai. Hingga membuat posisi mereka berdua menjadi sama, tidak ada yang lebih tinggi.


"Mom!" Varo kaget mendapati Unni yang sudah duduk di lantai.


"Begini kan enak, mommy tidak capek menunduk." Senyuman manis Unni tampakkan agar mereka berdua tidak menjadi canggung.


"Tapi mom,..."

__ADS_1


"Sssttthhh, duduk. Simpan tenaga Abang, karena masih banyak yang harus abang jelaskan pada mommy." Unni membawa Varo duduk bersama.


Merasa sudah begitu bersalah, Varo dengan perlahan mulai menceritakan semua yang telah terjadi selama ini. Bahkan dengan kedua adiknya, tidak ingin membuat mommy mereka menjadi kepikiran dan menolak mengenai apa yang telah mereka lakukan. Maka, dengan bantuan daddy nya.


Semuanya tertutup hingga tidak ada yang menyadari mengenai mereka, hanya organisasi dan beberapa klien yang tahu siapa mereka sebenarnya. Selain dari itu, tidak ada yang tahu.


Untuk Unni, mengenai cerita yang Varo baru saja katakan. Membuat dirinya merasa begitu hancur, berharap jika dunia gelap itu hanya suaminya saja yang menjalani dan tidak untuk anak-anaknya. Memberikan pengawasan dan pendidikan yang baik, ternyata tidak menjamin anak-anaknya terbebas dari dunia itu. Nyatanya kini, membuat Unni harus berbesar hati menerimanya.


"Mom, maafkan kami." Varo memeluk Unni yang meneteskan air mata dalam diamnya.


"Mom!" Varo menjadi panik ketika tidak ada respon apapun dari Unni


Apalagi terlihat kedua mata milik ibunya itu terbuka dan meneteskan air mata, tidak ada pergerakan sedikitpun darinya. Semakin lama, air mata itu juga semakin deras mengalir.


"Dad!!" Suara teriakan keras Varo bergema di dalam mansion.


"Sayang! Sayang sadarlah, sayang!" Azka mengguncang bahu Unni dengam cukup kuat.


"Apa yang terjadi bang? Kenapa mommy?" Si kembar ikut panik, mereka tidak ingin lagi kejadian disaat mommy nya drop dan masuk rumah sakit.


Tak ingin mengambil resiko terlalu lama, Azka bermaksud untuk membawa Unni ke rumah sakit kembali. Memeluk dan menggendong tubuh mungil Unni, ketika kakinya akan melangkah. Spontan saja, Azka merasakan jika perutnya mendadak sakit seperti terluka.


"Argh! Sayang!" Azka mendelik menatap Unni.


"Apa?! Siapa suruh mengendong dan main angkat saja. Turunin!" Unni memberontak sehingga Azka melepaskan tangannya, membiarkan Unni turun.


Baik Varo atau si kembar ingin tertawa, namun ketika mata Unni melebar kepada mereka. Seketika mereka terdiam dan menunduk.

__ADS_1


"Jangan ada yang tertawa, mulai saat ini. Kalian akan mommy hukum!"


"Mom!"


"Sayang!"


"Tidak ada penolakan dan kabur, jika itu terjadi. Kalian bersiaplah untuk angkat kaki dari mansion dan keluar dari kartu keluarga, jangan harap mommy akan memberikan ampunan untuk selamanya. Paham!"


"Mom, hukuman apa ini? Tidak lucu mom." Keluh Andre.


"Benar mom." Andra membenarkan saja ucapan Andre.


Tidak untuk Varo dan juga Azka, mereka sudah begitu memahami sifat Unni kali ini. Lebih baik diam, itu akan lebih baik.


"Protes?! Serahkan semua fasilitas yang ada, dan juga hasil jerih payah kalian selama membohongi mommy. Ayo!" Tangan Unni sudah berada didepan wajah si kembar.


Baru saja Andre akan memberikan prosesnya kembali, sebelum itu terjadi. Andra sudah terlebih dulu mengetuk kepala saudara kembarnya itu, lalu dengan pasrah mereka harus menuruti semua ucapan dari mommy nya. Jika tidak, tidak bisa dibayangkan akan seperti apa.


Di kala si kembar mendapatkan hukuman, Varo dan Azka juga menahan tawanya. Karena si kembar terlihat seperti anak kecil yang baru saja selesai dimarahin, benar-benar menggemaskan.


"Varo! Mulai besok. Aira akan menjadi sekretaris kamu, dan tidak ada lagi tekanan seperti dulu. Daddy! Jika anak-anakmu melakukan kesalahan lagi, maka kamu yang menanggungnya." Unni berjalan meninggalkan mereka semuanya menahan tawanya.


"Kenapa daddy yang menanggung kalian semuanya?! Ini tidak adil namanya, mommy kalian ini benar-benar ya." Azka merasa tidak yakin akan dengan apa yang Unni ucapkan.


"Masih untung hukuman daddy, lah kami. Kalau begitu, kita lihat saja nanti. Hukuman apa yang akan daddy dapatkan dari mommy, jika kami melakukan pelanggaran. Hahaha." Si kembar berlari dengan cepat, secapat kilat dari hadapan Azka.


"Andre! Andra!! Kalian benar-benar kurang ajar!!"

__ADS_1


Manatapi daddy nya yang lupa akan umurnya, berlari mengejar kedua adik kembarnua. Dan juga sang mommy yang kini sudah mulai pintar mengerjai anak-anaknya dan suaminya, membuat Varo mengukir senyuman.


__ADS_2