Muslimah Untuk Mafia Psychopath

Muslimah Untuk Mafia Psychopath
29.


__ADS_3

"Kak, bisakah aku mengunjungi Ummi?"


Suasana tenang itu langsung berubah menjadi tegang, tangan Peter yang memegang gelas berisikan sari buah segar. Nampak begitu erat dengan penampilan urat-uratnya, lalu ia meletakkan ya dengan kasar di atas meja.


Suara itu membuat Unni kaget dan cukup terdiam, hal seperti inilah yang masih ia takutkan. Bahagia saat bertemu kembali, bukan berarti bisa langsung memahami dan mengetahui sifat dan karakternya.


"Maaf, aku tidak akan mengulanginya." Unni menyentuh tangan tersebut dan mengusapnya perlahan.


Mendapatkan perlakuan seperti itu, membuat Peter menatap Unni. Ia tahu jika adiknya itu masih takut padanya, menyadari hal tersebut dan langsung menghampirinya dan menggenggam erat tangan mungil itu.


"Maafkan kakak, kakak terbawa emosi saat kamu mengatakan hal tersebut. Kakak mohon kamu bisa mengerti dengan keadaan saat ini, jika keadaan sudah kembali normal. Kakak berjanji padamu dna menemanimu untuk bersama mengunjunginya, jangan bersedih." Menatap wajah yang sudah mendung menahan air mata dihadapannya.


"Tidak perlu memaksakan keadaan kak, aku mengerti setelah kakak mengatakannya. Maafkan aku, bolehkah aku bertemu dengan temanku?"


"Siapa? Tidak bisakah kalian bertemu saja disini?" Peter terlalu mengkhawatirkan sang adik.


"Dia wanita, teman satu perusahaan denganku sebelumnya. Ingin merasakan suasana yang berbeda saja, jika memang tidak bisa. Apakah aku boleh mengajaknya kemari?"


" Oh tidak, Khumairoh. Untuk apa bertanya seperti itu, ini juga rumahmu. Hanya saja tidak boleh ada teman satu orang pria pun yang masuk ke dalam mansion ini, jika itu terjadi. Jangan salahkan kakak, memberikannya hukuman." Perkataan tegas itu dinyatakan oleh Peter sehabis menepuk keningnya.


Memutar kedua bola matanya dengan sangat malas, sepertinya Unni juga harus menyimpan banyak-banyak persiapan istighfarnya untuk Peter.


"Ponselku kak?" Unni mengadahkan tangan kanannya kepada Peter.


Memang pada dasarnya, Peter sudah menginstal ulang semua data yang terdapat pada ponsel milik Unni. Hanya menyisakan nomor yang sering ia hubungi, tak lupa ia menyiapkan ponsel terbaru untuk segera Unni gunakan.

__ADS_1


Bukan Unni namanya jika tidak menolak, ia menatap dua ponsel yang diberikan oleh Peter padanya. Dengan kening yang sudah berkerut, ia memandangi ponsel dan juga Peter secara bergantian. Lalu tangannya meraih ponsel lamanya dan segera berlari menjauh dari tempatnya berdiri, ia sudah mengetahui apa yang akan terjadi saat ia memilih salah satu dari benda tersebut.


"Khumairoh! Berhenti!"


...Sudah keduga, kakak pasti akan berteriak. Lupakanlah, lebih baik menghindar daripada dipaksa. Dasar tukang paksa, sama saja seperti tuan Azka. Emh, gimana kabarnya dia? Sejak hari itu, dia tidak menampakkan batang hidungnya sama sekali. Apa ucapanku salah? Astaghfirullah, maafkan jika ucapanku salah yang tuan Azka....


Unni menghentikan pemikirannya yang tiba-tiba saja memikirkan Azka, dengan suara teriakan dan pintu yang terus di ketuk sangat kuat. Unni sudah tahu siapa pelakunya, namun ia bersikap cuek dengan semuanya meninggalkan Peter yang masih ingin memaksa Unni untuk menggunakan ponsel terbaru darinya.


.


.


.


"Kau yakin?" Kenzo kembali menyakinkan Azka untuk keputusan yang telah ia ambil.


"Baiklah, aku akan bersiap." Kenzo pamit untuk keruangannya dan menyiapkan apa yang telah diperintahkan padanya.


Tatapan tajam itu terus tertuju pada ponsel tersebut, dimana disana terdapat laporan dari salah satu bawahannya mengenai proyek yang sedang berlangsung di salah satu anak cabang perusahaannya di negara C.


Kerugian yang diakibatkannya sangat cukup untuk membuat amarah pada seorang Azka bangkit, apalagi orang tersebut sangat licin sekali dalam menjalankannya. Begitu rapi, bahkan hampir saja Azka dan Kenzo lalai.


Pesawat jet pribadi milik Azka sudah mengudara, selama dalam perjalanan menuju negara C ia selalu memainkan ponselnya. Membuat Kenzo sedikit mengkerutkan keningnya, saat ia menghampiri pria itu. Sedikit mencuri pandangannya, Kenzo melihat Azka sedang membaca beberapa artikel.


"Serius sekali, apa yang kau baca?" Mendaratkan bokongnya duduk berdampingan dengan Azka.

__ADS_1


"Berisik sekali." Azka mengalihkan ponselnya dari penglihatan Kenzo.


Dengan penuh kecurigaan, Kenzo berhasil melihat apa yang sedang Azka baca dari ponselnya. Menahan senyuman yang sudah siap meledak, membuat wajah Kenzo berubah menjadi kemerahan.


"Mmpphh hahaha, kau kau membaca apa. Otakmu sepertinya sudah harus di instal ulang dari nona Hafsah, benar-benar mengejutkan." Tertawa begitu puasnya sampai-sampai kedua tangan Kenzo memengangi perutnya.


Plak!


Dugh!


"Yah!!" Kenzo berhenti tertawa dan berubah menjadi meringgis.


"Kau terlalu aku manjakan, Kenzo!" Tatap Azka dengan sangat tajam.


"Dasar manusia datar, coba katakan saja langsung kalau kau ingin bersamanya." Sambil mengusap kepala dan kakinya yang terkena pukulan serta tendangan dari Azka, Kenzo merasakan rasa nyeri.


Azka tidak menyalahkan apa yang Kenzo ucapkan, selama ini ia memang terlalu egois dengan apa yang terjadi dalam hidupnya. Berhenti memberikan tatapan tajam pada Kenzo, Azka kembali duduk dan sedikit memijit kepalanya.


"Sudah saatnya kau hidup normal dan bahagia, nona Hafsah terlalu tinggi untuk kau gapai. Namun, perjuanganmu harus melebihi itu semuanya. Kau pahamkan? Dan ujian terberatmu adalah..." Kenzo mengantung ucapannya.


"Siapa?" Azka sangat penasaran.


"Peter, dan kau harus bisa menakhlukkannya untuk mendapatkan bidadari itu. Ah, sakitnya. Aku akan beristirahat untuk mempersiapkan pertempuran di perusahaan." Menggerakkan tubuh dan menjauh dari Azka, Kenzo masuk ke dalam salah satu kamar disana.


Setelah Kenzo pergi, Azka nampak memikirkan apa yang dikatakan oleh sahabat sekaligus asisten pribadinya itu. Saat Kenzo mendapati dirinya sedang mencari dan membaca berbagai artikel mengenai pacaran setelah menikah, arti dari sakinah mawaddah warrohmah yang sempat Unni ucapkan padanya. Kini Azka tahu apa maksud dari ucapan Unni padanya, hal itu semakin menambah kekaguman dan rasa cintanya pada wanita itu.

__ADS_1


"Tunggu aku honey, permintaanku akan aku kabulkan." Tersenyum penuh kebahagian, Azka sudah memantapkan hatinya.


__ADS_2