
Membereskan kekacauan yang ada di perusahaannya, Azka melanjutkan langkahnya menuju markas. Dalam perjalanannya, tiba-tiba saja Azka merasakan ada sesuatu yang tidak enak. Menepuk-nepuk dadanya untuk mengurangi rasa sesak, lalu ia menghubungi Unni.
"Kenapa tidak diangkat?" Keluh Azka yang sudah beberapa kali menghubungi istrinya dan tidak mendapatkan respon.
Azka mulai merasa gelisah, lalu ia menghubungi Hugo untuk menanyakan keberadaan istrinya.
"Dimana istriku?" Azka langsung menanyakan saat sambungan telfon terhubung.
"Tuan, nyonya. Emm, nyonya." Hugo tampak ragu mengatakannya.
"Kenapa? Ada apa dengan istriku, katakan?!" Suara Azka dengan cukup tinggi.
Hugo nampak semakin ragu untuk menyampaikan kepada tuannya, apa yang dilakukan Unni yang sedang melakukan hukuman kepada para pengawalnya. Dalam panggilan tersebut, berubah menjadi video call.
...Ya Tuhan, apalagi ini. Bisa kena gantung sama tuan, nona Kenapa juga menghukum dalam waktu yang tidak pas....
Lalu Hugo menggeser tanda hijau dalam panggilan Video, mata Azka langsung mencari keberadaan sang istri. Betapa kagetnya ia saat mendapati istrinya sedang duduk berhadapan dengan para pengawal dan juga pelayan mansion, dengan memegang alat tulis dan juga buku.
"Apa yang dilakukan istriku?" Tanya Azka yang masih belum memahami apa yang terjadi.
"Tuan, saya tidak bisa menjelaskannya. Ada baiknya, anda menanyakannya secara langsung pada nona." Hugo tidak ingin mengambil resiko dalam penyampaian berita yang ada.
Mengarahkan kamera ponsel miliknya pada Unni, pada awalnya Azka begitu marah akan kedekatan istrinya dengan para pengawal dan juga pelayan disana. Namun, disaat ia mendengar apa yanh mereka bicarakan. Bibir itu melebar membuat senyuman yang kemudian menjadi tawa, ia tidak menyangka jika istrinya mempunyai ide seperti itu.
Dimana, Unni mendata para pengawal dan juga pelayan disana yang beragama sama dengan dirinya. Memberikan pertanyaan kecil untuk mereka jawab, sebagai hukuman dari kelalaian mereka dalam menjalankan kewajibannya kepada Sang Khalik.
"Eh, suara siapa itu?" Telinga Unni mendengar suara orang tertawa, dimana suara itu sangat ia kenal.
__ADS_1
...Aduh, tamat sudah....
Untuk menyembunyikan ponsel miliknya sudah terlambat, Hugo memasang wajah datarnya pada Unni. Dengan kamera yang masih menyala, hal itu membuat Unni merasa terganggu.
"Paman Hugo, siapa yang menelfon?"
"Emm, itu nona. Tuan Azka yang sedang menelfon." Hugo menyerahkan dengan cepat ponsel miliknya, agar terbebas dari pertanyaan dari kedua tuannya itu.
Unni menerima ponsel dari Hugo dan menghentikan sejenak kegiatannya, dimana ia melihat Azka masih tertawa dengan sangat lepas.
"Assalamu'alaikum hubby." Suara Unni membuat Azka terdiam.
"Eh! Ya sayang, sorry." Azka masih menahan tawanya.
"Wa'alaikumussalam, itu jawabannya. Coba ulang."
"Kenapa tertawa? Kenapa menghubungi ponsel paman, kan bisa ke Ponselku?"
Tawa itu akhirnya mereda, mendengar Unni yang mengatakan ponsel miliknya. Membuat Azka harus menghela nafas beratnya yang panjang, mau marah namun rasa cinta terlalu besar dan membuat dirinya tidak berani untuk melakukannya.
"Dimana ponselmu, sayang?" Wajah Azka manyun kepada Unni.
Mendengarkan ucapan sang suami, Unni seperti sedang berfikir sejenak. Lalu ia memberikan cengiran, yang menandakan jika dirinya lupa.
"Hehehe, maaf hubby. Ponselnya ada di dalam kamar." Cengiran Unni terlihat sangat menggemaskan untuk Azka.
Saat keduanya sedang berinteraksi, dengan perlahan para pengawal dan pelayan yang ada berjalan mundur. Mereka memanfaatkan situasi saat itu, sungguh sangat membantu untuk mereka.
__ADS_1
"Hubby, tidak baik jika mereka tahu tapi tidak mengerjakannya. Ada baiknya kan untuk mengingatkan satu sama lain, tidak ada ruginya." Penjelasan Unni yang cukup membuat Azka tertular untuk memanyunkan bibirnya.
"Oke, lain kali ponselnya dibawa saja ya. Terkecuali ke kamar mandi, oke sayang." Azka menyudahi perdebatan diantara mereka.
"In syaa Allah hubby, jangan lupa juga. Perlahan-lahan mulai mengerjakannya, walaupun masih terbata-bata."
"Hem, hati-hati sayang."
"Iya hubby, Assalamu'alaikum. "
Tanpa menjawab salam Unni, Azka dengan cepat mengakhiri pembicaraan mereka. Untuk saat ini, Azka memang masih membutuhkan pengarahan dalam mempelajari mengenai agamanya. Itulah yang selalu Unni lakukan padanya, walaupun terkadang dirinya suka sekali membuat istrinya jengkel.
Sedangkan Unni, setelah Azka mengakhiri pembicaraanya. Ia mengembalikan ponsel milik Hugo.
"Paman, terima kasih ya. Maaf, sudah merepotkan Paman."
"Sama-sama nona, saya akan melanjutkan tugas yang lainnya."
Dengan kepergian Hugo, membuat Unni fokus kembali dengan apa yang ia lakukan sebelumnya. Akan tetapi, semuanya itu seketika membuat dirinya kaget.
"Loh, semuanya kemana?"
Ia tidak mendapati satu orang pun disana, semua pengawal dan para pelayan mansion sudah hilang. Tidak ada rasa marah dalam dirinya, malahan Unni tertawa.
...Ya Rabb, jika seperti ini saja membuatku lelah dan putus asa. Bagaimana dengan perjuangan kekasihMu, Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam dalam menyampaikan dakwahnya kepada kaumnya terdahulu....
Mengakhiri pertemuannya dengan beberapa pengawal dan pekerja lainnya, Unni kembali masuk ke dalam mansion menuju kamarnya.
__ADS_1