Muslimah Untuk Mafia Psychopath

Muslimah Untuk Mafia Psychopath
81.


__ADS_3

Dalam keadaan yang begitu lemah, Aira kini terbaring di atas brankar rumah sakit. Dengan keberadaan Unni yang selalu menemaninya, entah mengapa Unni merasa begitu prihatin dengan apa yang di alami oleh Aira.


Di lain ruangan, Azka sedang bersama dengan Kenzo mengurus beberapa administrasi mengenai prosedur untuk sebuah operasi besar. Ya, ibu Aira diharuskan untuk menjalani operasi. Dengan kondisi yang semakin menurun, jika terus dibiarkan akan membuatnya menjadi lebih parah dan kehilangan nyawa.


Atas permintaan sang istri, Azka meminta Kenzo menyelidiki siapa Aira dan mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya diantara putranya dengan wanita tersebut.


"Ibu!" Aira yang bangun secara tiba-tiba, membuat Unni kaget.


"Nak, kamu sudah sadar."


Dalam keadaan panik, Aira menatap tempat dimana ia berada. Melihat jarum infus yang tertancap pada punggung tangannya, menandakan jika ia berada dirumah sakit.


"Nak, mau kemana? Kondisi kamu belum stabil." Unni mencegah Aira yang berusaha untuk turun dari tempatnya.


"Maafkan saya nyonya, saya sudah merepotkan anda. Saya mau menemui ibu saya." Air mata itu mengalir dari kedua mata Aira.


"Tenang nak, ibumu sedang menjalankan operasinya. Kamu disini saja ya, kita berdoa agar operasinya berjalan dengan lancar." Unni berusaha menenangkan Aira.


"Ta tapi nyonya."


Aira begitu bingung, bagaimana bisa ibunya menjalani operasi saat ini. Dimana ia belum mendapatkan uang dan juga membayarnya, hatinya merasa sakit.


"Pulihkan kondisimu nak, nanti kita akan melihat ibumu bersama." Senyuman Unni membuat Aira menjadi tenang dan merasa nyaman.


.


.

__ADS_1


.


.


"Jangan pernah memperlihatkan sisi gelapmu dihadapan mommy kalian!"


"Tapi dad, wanita itu membuatku kehilangan proyek besar. Untung saja, uncle Ady mempunyai salinan datanya." Protes Varo kepada Azka.


"Dimana kepintaranmu selama ini, gunakan otak adikmu untuk memperbaikinya. Jangan terus-terusan menyusahkan unclemu itu, dia sudah mulai tua!" Kalimat tegas Azka terus terucap.


" Tapi dad..."


"Selidiki terlebih dahulu, baru mengambil keputusan. Ingat, mommy kalian sangat peka akan sikap kalian semua." Azka melemparkan beberapa gambar kepada Varo.


Begitu gelagapan Varo menerima gambar-gambar tersebut, membuat Varo harus mengambilnya dengan menunduk. Kedua mata Varo seketika melebar ketika melihat gambar tersebut, lalu sebuah notifikasi masuk pada ponselnya. Saat ia membukanya, terlihat sebuah rekaman dari kamera pengawas. Memperlihatkan jika Aira yang sedang membawa baki berisikan kopi pesanan dari Varo ditabrak oleh seseorang yang tak lain adalah Cheryl. Wanita yang selalu mengekor pada Varo, menjadi teman masa kecil hingga dewasa. Membuatnya menjadi besar kepala, apalagi kedua orangtuanya adalah rekan bisnis dari Azka.


"Sama seperti dirimu." Jawab Azka menyambung ucapan Varo.


"Dad!" Protes Varo.


Lalu pada pesa kedua pada ponselnya, dimana ia menolak pinjaman yang di ajukan oleh Aira pada perusahaan. Alasan utama dari pinjaman tersebut adalah untuk biaya operasi sang ibu, hanya gara-gara laptop miliknya yang mati total akibat tumpahan dari kopi tersebut. Membuat Varo menjadi gelap mata, seakan tidak perduli lagi dengan sekitarnya.


Disaat Varo masih hanyut dalam rasa bimbangnya, Unni harus memenuhi keinginan Aira untuk melihat ibunya. Saat kedatangan mereka disana, Azka segera menyambut istrinya. Membiarkan Aira untuk duduk menatap ke arah ruang operasi, dimana ibunya berada saat ini.


"Jangan terlalu lelah, lebih baik pulang saja. Biarkan anak pintar itu mengurusnya. " Ledek Azka kepada Varo.


"Tidak apa-apa sayang, kasihan sekali gadis itu. Huh, kenapa putramu itu mewarisi sifat keras kepala dan arogan darimu dad. Astagfirullah." Unni menjadi meluapkan kekesalannya atas sikap putra sulungnya.

__ADS_1


"Hahaha, jangan lupa jika mereka terlahir dari rahimmu sayang. Azka menarik ujung hidung Unni karena gemas.


Dup!


Lampu ruang operasi telah padam, menandakan jika operasi telah selesai. Terlihat dokter yang baru saja keluar dari ruangan tersebut, langsung saja dihampiri oleh Aira.


"Dokter, bagaimana keadaan ibu saya? Bagaimana dok?"


Unni melepas tangan Azka dan mendampingi Aira yang terlihat rapuh, namun dokter tersebut belum membuka suara. Karena mereka tahu, siapa yang berada dihadapan mereka saat itu. Seorang pengusaha ternama, membuat dokter tersebut harus berhati-hati dalam berbicara.


"Maafkan kami, pasien tidak bertahan." Dokter tersebut menggelengkan kepalanya, menandakan jika pasien telah meninggal dunia.


"Ti tidak, tidak dok. Itu tidak benar, tidak! Ibu saya masih hidup, ibu saya tidak pergi. Katakan semuanya itu bohong, kalian bohong!"


"Ibu! Ibu jangan pergi, jangan tinggalkan Aira bu. Ibu!" Tangis Aira pecah, membuat orang-orang yang mendengarkan ikut meneteakan air mata.


Sedangkan Unni, ia memeluk tubuh rapuh itu dengan maksud agar Aira tenang. Lalu Azka, ia menatap tajam pada Varo. Mengurus semua proses pemakaman untuk ibu Aira, karena tidak ada keluarga lain yang Aira punya. Dan dimana Unni merasa bersalah karena sikap arogan putranya, membuat nyawa seseorang harus hilang.


Setelah proses pemakaman telah selesai, Azka meminta Unni untuk memberikan waktu bagi Aira untuk sendiri. Akan terasa berat untuk kehilangan seseorang yang begitu kita cintai, yang pada akhirnya Unni mengalah dan membiarkan Aira untuk sendiri.


"Kalian semuanya, kumpul di ruang keluarga!" Tiba-tiba Unni mengatakan hal tersebut setelah kembali ke mansion.


Dan si kembar yang baru saja tiba, menjadi bingung. Tidak biasanya mommy mereka berbicara dengan nada yang begitu tegas.


"Dad, ada apa?" Andra yang bertanya pada Azka, mengharap akan mendapatkan jawaban yang memuaskan.


"Ikuti saja perintah mommy kalian."

__ADS_1


__ADS_2