
"Menyerahlah, kau tidak akan bisa kabur lagi!" Ucap Peter yang saat itu sudah berhadapan dengan Antasa.
"Heh, menyerah? Kalimat itu tidak pernah ada didalam kamus klan yang aku pimpin, hanya kalian saja yang terlalu bo**h dan kalah. Hahaha!"
"Bre***k! Jangan terlalu percaya diri." Ketus David yang juga berada disana.
Dengan penuh amarah, David segera melayangkan serangannya pada para anggota musuhnya saat itu. Namun tidak semudah yang mereka kira, perlu strategi dan juga kecepatan untuk mengalahkan musuhnya.
Mereka pun kembali terlibat aksi saling serang, akan tetapi ada sesuatu yang tidak disadari. Musuh utama mereka telah menghilang dari tempat tersebut, hingga semuanya larut dalam serangan yang ada.
Sedangkan dalam kepanikan, Azka berusaha mencari jalan agar segera membawa istrinya dari tempat tersebut. Varo yang saat itu sudah bergabung bersama kedua orangtuanya, ia juga mengarahkan Leon untuk melindungi mereka dalam mencari jalan keluar.
Namun tidak untuk Macis, walaupun ia masih sanggup untuk berjalan dan melindungi tuannya dari arah belakang. Tubuhnya sudah tidak sekuat sebelumnya, dengan beberapa luka tembak yang bersarang pada tubuhnya. Akan tetapi, kesetiaannya kepada tuannya tidak dapat diragukan.
Tiba-tiba terdengar suara erangan yang begitu kerasa dari arah belakang, tepatnya itu dari suara Macis.
"Macis, tidak!!!" Varo yang melihat langsung bagaimana suara erangan itu terjadi.
__ADS_1
Sontak saja membuat Azka dan Unni menjadi panik, karena suara putra mereka begitu keras. Saat Azka yang sedang menggendong Unni memutar tubuhnya ke arah belakang, membuat keduanya menyaksikan bagaimana aksi putra mereka yang tidak diduga.
"Manusia si***lan!!" Suara Varo begitu tegas.
Tubuh kecil itu bergerak dengan begitu cepat dan lincahnya, hingga tanpa disadari jika dirinya sudah berada tepat dihadapan Antasa.
Jjleebb!!
Srett!!!
"Argh!!" Antasa berteriak.
"Bawa mom dad! Biar manusia ini menjadi urusanku!" Ucapan Varo membuat Azka terperanjat.
Pergerakan Antasa begitu tidak bisa ditebak, pria itu begitu licin. Itulah yang membuatnya selalu bisa lolos dari tangkapan musuhnya. Karena lengah, Antasa berhasil berlalu dari hadapan Varo dan kini ia menyerang Azka.
Brugh!
__ADS_1
Azka dan Unni tersungkur dengan tendangan dari Antasa pada tubuh Azka yang tidak siap, membuat tubuh Unni terpental dna terlepas dari Azka.
"Mom!" Varo berlari dengan cepat menghampiri.
Tidak ada pergerakan dari Unni sedikitpun, kedua matanya terpejam. Varo terus berteriak dan mengguncang tubuh wanita yang sudah melahirkannya dengan cukup kuat.
Mendengar teriakan tersebut, membuat Azka semakin tersulut emosinya. Ia kembali menyerang Antasa dan menghajarnya dengan brutal, bahkan senjata yang digunakan oleh Antasa berhasil ia ambil alih.
Pergerakan Antasa dengan begitu mudahnya terbaca oleh Azka, hal itu membuat Azka teringat akan seseorang yang sudah ia kenali. Saat bala bantuan datang, Azka sudah menekan tubuh Antasa dengan pergerakannya.
"Stop Azka, bawa adikku pergi!" Peter akan mengambil alih musuh mereka.
Dimana Mark yang saat itu juga segera berlari menghampiri keberadaan Varo dan Unni, memeriksa tubuh yang sudah tiada pergerakannya lagi.
"Tidak, ini tidak mungkin!" Suara Mark membuat Azka tersadar.
Sebelum melepaskan Antasa dari tangannya, Azka kembali menatapnya dengam sangat tajam. Hingga pada akhirnya ia menyadari sesuatu, lalu dengan cepat Azka mengambil senjata miliknya dan menyatukannya serta menekannya dengan tidak terkendali. Tepat pada dada kiri Antasa, benda tajam itu bergerak bebas.
__ADS_1
Antasa terbatuk-batuk mengeluarkan cairan merah dengan begitu banyak, namun ia masih bisa tertawa dalam keadaan seperti itu. Hel tersebut membuat semua orang yang berada disana bingung, lalu dengan senjata terakhirnya. Azka memisahkan bagian inti dari tubuh pria itu dengan sangat cepat, lalu bagian inti itu ia lemparkan kepada Leon.
"Dia adalah Baron!"