
Sementara ditempat lainnya, para orang-orang kepercayaan Red Dragon mulai mengeluarkan semua kemampuan yang mereka miliki.
"Kalian berpencar!" Teriak Peter yang belum melihat keberadaan Azka.
"Ada apa?!" Eiger masih dalam keadaan nafas yang tersendat menghampiri Peter.
"Aku tidak melihat keberadaan Azka dan keponakanku dari tadi, kalian berpencarlah. Hafsah pasti aman ditempat sebelumnya, ayo!" Peter bergegas berjalan ke arah yang ia tuju.
Membenarkan perkataan Peter, membuat Eiger menyadari kecerobohan mereka. Namun saat itu, pihak musuh sudah mengepung dengan begitu banyaknya. Bahkan Red Dragon harus berpencar untuk mengamankan situasi yang ada, tanpa mereka sadari. Ada salah satu klan asing yang belum pernah mereka temui sebelumnya, bahkan kali ini baru kali ini mereka lihat.
Pasukan musuh terus bertambah dalam jumlah yang sangat besar, Red Dragon pun sedikit menjadi kerepotan akan jumlah dari musuh mereka.
"Bisa mampus aku!" Mark yang ikut andil dalam pertarungan saat ini, mengumpat akan jumlah mereka.
"Jangan banyak bicara, jika kau takut. Lebih baik kau menyiapkan peralatan milikmu untuk mengobati kami, cerewet sekali." David membalas ucapan Mark yang membuatnya kesal.
"Aku berada disini, karena aku memang ingin membantu kalian dengan kemampuan yang ada padaku." Ketus Mark.
...Parah ni anak, dijawab ucapannya kok jadi malah panjang. Kau memang cerewet mengalahkan wanita, Mark....
__ADS_1
David memilih meninggalkan Mark yang masih terus mengumpat, tidak akan ada habisnya jika terus berada disisinya. David fokus untuk menyerang, karena jumlah mereka saat ini tidak akan sanggup untuk menahan serangan.
Sebagian kelompok Red Dragon menyebar pada beberapa negara, kerana serangan tersebut juga terjadi disana.
.
.
.
.
"Dad!!" Teriak Unni saat musuh mereka berhasil mendekatinya.
"Nona! Ayo mundur." Mawar mengahadangkan tubuhnya untuk melindungi Unni.
"Ta tapi." Unni begitu ragu untuk melangkah, karena keadaan tubuhnya yang semakin merasakan sakit.
Dalam sekejap mata, Mawar ataupun Putri berhasil ditangkap oleh pihak lawan. Mau tidak mau, Unni berjalan menjauh dari tempat tersebut. Disaat ia melangkah menuju sebuah semua belukar, ada beberapa musuh yang melihat dirinya dan berusaha mengejarnya.
__ADS_1
"Rrrrrrhhh!!!"
"Aaauumm!!!"
Sempat Unni melihat ke arah belakang, dua kucing imutnya sedang menghadang dan mengerang di hadapan musuh mereka. Hal itu sempat membuat Unni berhenti, namun segera ia melanjutkan langkahnya yang begitu berat untuk menjauh.
Pertarungan kedua kucing imut itu begitu mengenaskan, dalam sekejap keduanya menerkam, mengcabik, bahkan menghamburkan tubuh musuhnya dengan menggunakan cakap dan mulut mereka.
Menjaga dari dua sisi, agar Unni bisa melangkah dengan cepat tanpa rintangan.
"Arkh!" Erang Unni yang merasakan perutnya bergejolak dengan sangat kuat.
Berhenti sejenak untuk meredam rasa sakit yang ada, berusaha sekuat tenaga agar bisa melanjutkan langkahnya. Tiba-tiba saja, Leon menghampiri dirinya serta membungkukkan tubuhnya. Seakan-akan ia memberikan tawaran pada Unni untuk naik ke atas punggungnya tersebut, sedangkan Unni. Ia begitu kaget, apalagi ditambah dirinya memang takut akan kedua kucing imut milik anak dan suaminya itu.
"Mmm, te terima kasih. Ta tapi aku takut, perutku terasa sangat sakit." Terlihat jika Unni menahan perutnya dengan salah satu tangannya.
Memang tidak bisa ditebak, hewan itu bergerak cepat menggerakkan salah satu kakinya untuk mengusap perut besar Unni. Dan anehnya, rasa sakit itu sejenak menghilang.
Dengan memberanikam dirinya, Unni menggerakkan tangannya mengusap puncak kepala Leon. Dimana hal tersebut membuat Leon semakin menempel pada Unni.
__ADS_1
"Aauumm!!! Aauumm!!!"