
Pintu mobil terbuka, betapa kagetnya kedua dokter tersebut saat melihat keadaan yang sebenarnya.
"Apa yang terjadi? Sial, kenapa kalian membiarkannya seperti ini!" Sovia berbalik murka saat melihat keadaan Unni saat itu.
"Selamat mereka, tolong selamatkan." Azka yang sudah tidak sanggup untuk menghadapi keadaan istrinya.
Tubuh mungil dengan perut yang membesar dibaringkan di atas brankar, dengan segera mereka membawa pasien tersebut menuju tempat tindakan.
"Kalian berdua sangat tidak bisa dipercaya, jika nyawa mereka berdua terancam. Kau! Bersiaplah untuk bertarung denganku!" Mark yang begitu murka menunjuk wajah Azka dengan disertai seringai dari dirinya.
Ketika pintu ruangan itu tertutup, seketika juga tubuh Azka terhempas tak berdaya. Seakan-akan tidak ada yang bisa menopang dirinya lagi untuk berdiri, dunianya hancur ketika mengetahui keadaan orang yang sangat ia cintai berada dalam situasi hidup dan mati..
.
.
.
.
Saat ini, Baron sedang mengerang prustasi dengan apa yang terjadi.
"Bo**h! Kenapa begitu saja kalian tidak becus, hanya untuk mendapatkan berkas itu!" Bentak Baron dengan sedikit memberikan hukuman pada bawahannya yang sudah gagal dalam misinya.
"Ampun tuan, kami sudah mencarinya. Tapi, sepertinya berkas tersebut tidak disimpan disana."
__ADS_1
"Tidak mungkin! Wanita sialan itu penah melihatnya disana, tidak mungkin dia berbohong." Erang Baron yang kembali menghukum bawahannya itu.
Dengan nafas yang naik turun, membuat Baron menghempaskan tubuhnya untuk duduk di kursi miliknya.
"Aku tidak akan membiarkan semuanya ini, aku harus segera menemukan berkas tersebut. Hingga akhirnya, kekuasaan itu menjadi milikku seutuhnya." Baron mengepalkan kedua telapak tangannya dengan begitu erat.
Para bawahannya hanya bisa terdiam, melihat tuannya yang sedang murka menghukum mereka. Baron masih sangat berambisi untuk menjadi penguasa dijalankan dunia bawah, sejak dulu ia ingin menyingkirkan Azka. Namun, kekuatan yang dimiliki oleh Azka begitu kuat. Apalagi saat ini, klan yang Peter naungi telah bergabung bersama Red Dragon.
"Bawa dia kehadapanku, cepat!"
Mengikuti perintah tuannya, mereka segera membawa orang tersebut. Yang dimana itu adalah Peter, ia tertangkap dan menjadi tawanan dari Baron.
Brugh!
Tubuh yang sudah dalam keadaan babak belur itu tersungkur, dihadapan Baron. Dalam keadaan kedua kaki dan tangan yang terikat, sungguh terlihat miris keadaannya saat itu. Baron selalu memberikan siksaan kepada Peter, selalu mengali informasi dari dirinya.
"Aku tidak lemah sepertimu, Baron." Peter menatapnya dengan sangat tajam.
Bugh!
Bugh!
Kembali Baron menghujami Peter dengan pukulan yang bertubi-tubi, ia sangat tidak suka jika mendapatkan ucapan yang merendahkan dirinya.
"Sudah aku katakan, kau tidak bisa mengalahkannya. Ingin merebut kekuasaannya tidaklah semudah seperti apa yang kau pikirkan, kau terlalu meremehkannya." Sindir Peter.
__ADS_1
"Sialan kau! Seharusnya aku sudah melenyapkanmu!" Baeon semakin murka dengan ucapan yang Peter berikan.
"Sampai kapan pun, kau tidak akan pernah bisa Baron!"
Sebuah tembakan Baron lepaskan kepada Peter, dan itu tepat mengenai bahu kanannya. Ia begitu menikmati erangan yang dikeluarkan dari mulut Peter kala itu, membuat senyuman tersunging pada wajahnya.
Dor!
"Setelah kau melihat apa yang akan aku punya, aku yakin kau akan hancur Peter. Hahaha." Baron mengambil ponselnya dan mengerahkannya pada Peter.
Sebuah rekaman dimana saat itu, para bawahannya bertemu dengan Unni dan sampai pada keadaannya terakhir sebelum bertemu dengan Azka.
"Tidak!! Tidak!! Bre****ek kau Baron. Jangan pernah menyentuh adikku!!" Peter memberontak untuk melepaskan diri.
"Hahaha, bagaimana? Apa kau masih kuat, dimana kesombongan itu. Hah!" Baron mencengkram rahang Peter dengan sangat kuat.
Lalu dengan mudahnya ia menghempaskan tubuh Peter, beralih dengan luka tembak yang ia alami. Baron menekannya dengan sangat kuat menggunakan kakinya, hingga luka itu semakin mengeluarkan darah.
"Argh!!!" Jeritan yang Peter keluarkan, membuat dirinya semakin terlihat seperti tidak berdaya.
Suara itu membuat Baron menekannya dengan sangat kuat, ia menyukai erangan yang dikeluarkan dari pria yang menjadi rivalnya itu.
"Kita lihat saja, kau akan mati atau kabur dari genggamanku."
Brugh!
__ADS_1
Kaki itu menendang Peter dengan cukup keras, sehingga membuat dirinya terpental dan membentur dinding pembatas. Lalu ia berjalan meninggalkan tempat tersebut, membiarkan Peter seorang diri dengan luka pada tubuhnya.
Peter benar-benar menyesali semua sikapnya, yang mengakibatkan nyawa sang adik dalam keadaan bahaya.