Muslimah Untuk Mafia Psychopath

Muslimah Untuk Mafia Psychopath
75.


__ADS_3

"Bayinya masih hidup, tapi jantungnya melemah." Sovia bergegas memeriksa keadaan Unni yang begitu mengkhawatirkan.


"Butuh pembedahan segera!" Ucap Mark yang juga mengikuti proses tersebut.


"Bayinya mengalami gawat janin!" Sovia mendeteksi hal tersebut, karena saat ia tiba disana. Keadaan Unni sudah tidak bisa dibilang baik-baik saja, karena ada dua nyawa lagi yang ikut bersamanya.


Sementara itu, Mark terus melakukan pertolongan dengan menekan bagian dada Unni. Bermaksud agar dapat memancing pasien untuk bernafas dan memperoleh kesadarannya, namun sudah sekian lamanya ia melakukan hal tersebut dan tidak membuahkan hasil apapun.


"Percuma saja dadanya ditekan terus, plasenta tidak akan mendapatkan asupan oksigen." Ketus Sovia yang mulai tak terkendali, ia sangat prustasi dengan keadaan Unni saat ini.


"Lalu harus bagaimana? Mereka harus segera diselamatkan!" Bentak Mark yang juga mengalami kepanikan.


Disaat Mark masih sibuk mengomel, Sovia berusaha mencari jalan alternatif yang lainnya agar Unni bisa terselamatkan. Dengan mengambil keputusan akhir, Sovia memutuskan harus melakukan tindakan pembedahan untuk menyelamatkan ketiganya.


"Kau mau apa?" Mark yang melihat Sovia sedang mempersiapkan proses pembedahan.

__ADS_1


"Kita ambil pembedahan segera, detak jantung ibunya melemah. Jika tidak, ketiganya dalam keadaan bahaya." Jelas Sovia yang masih bergerak mempersiapkan semuanya.


"Apa kau sudah hilang akal, hah! Kita tidak punya peralatan yang steril disini, inj sangat bahaya! Lalu, bagaimana perlengkapan darurat bayinya nanti, mereka harus berada di nicu?" Mark memastikan ruangan bayi agar tidak menjadi kendala.


"Ruangan sudah siap, dokter. Pihak rumah sakit sudah mempersiapkannya." Ujar salah satu perawat yang berada disana.


Memastikan semuanya telah siap, Sovia tidak mempunyai cara lain selain mengambil tindakan darurat seperti itu. Namun, mau tidak mau ia harus segera menyelamatkan ketiga nyawa tersebut.


"Bersiaplah! Setelah lahir, tetap teruskan CPR lalu ke ambulans. Cepat!" Teriak Sovia kepada seluruh tenaga medis yang terlibat saat itu.


Suasana tegang menyelimuti tempat tersebut, bahkan sebuah capung raksasa sudah bersiap untuk dalam keadaan darurat. Azka bersama Varo tak henti-hentinya bergerak kesana kemari, mereka begitu mengkhawatirkan keadaan wanita yang begitu berharga dalam kehidupannya.


"Dad, apakah mommy dan adik-adik Varo akan baik-baik saja?" Lelaki kecil itu menatap Azka dengan penuh harapan.


Azka menyamakan tubuhnya dihadapan sang putra, bagaimana pun juga. Putranya saat ini pasti sangat terguncang, melihat keadaan sang mommy nya yang begitu sangat mengenaskan.

__ADS_1


"Daddy mengenal mommy, sebagai wanita yang tangguh. percayakan semuanya pada Sang Pencipta nak, tetap terus berdoa." Azka menguatkan hati dan dirinya agar sang putra tidak melihat sisi lemahnya saat ini.


"Siapkan penerbangan, sekarang!" Teriak Mark dengan begitu keras.


Terlihat dua buah box bayi sedang dipindahkan menuju helikopter, Azka menggendong tubuh Varo dan menghampiri box tersebut. Dua bayi laki-laki dalam keadaan terpasang selang kecil untuk membantunya bernafas, alangkah hancurnya hati Azka melihat pemandangan dihadapannya.


"Bagaimana keadaannya?!" Azka menatap salah satu tenaga medis yang mendampingi putra-putranya.


"Keadaa bayi cukup stabil tuan, hanya saja mereka memerlukan tuang khusus yang sudah rumah sakit persiapkan." Tenaga medis tersebut melanjutkan untuk membawa kedua box tersebut ke dalam helikopter.


"Dad, itu adik-adik nya Varo?" Pandangan mata itu tak terlepas.


"Benar sayang, itu adik-adik Varo."


Namun semuanya teralihkan saat Sovia bersama Mark mendorong brankar, dimana disana terdapat sosok wanita yang begitu mereka cintai.

__ADS_1


"Keadaannya melemah, pendarahannya tidak dapat dihentikan. Kita harus segera membawanya, jika tidak. Kita semua akan kehilangannya."


__ADS_2