
Seiring berjalannya waktu, tak terasa kehamilan Unni masuk pada usia delapan bulan. Tidak bisa dibayangkan perbuatan sikap Azka yang semakin positif dan protektif pada Unni, hanya saja keadaan kandungan itu masih dibilang lemah.
"Walaupun usianya sudah memasuki delapan bulan, namun kita tetap harus menjaganya dengan baik. Anak kalian berbeda dengan yang lainnya, terlalu lemah di dalam sana. Tapi, semoga saja ia menjadi lebih kuat setelah dilahirkan nanti." Sovia menjelaskan mengenai keadaan calon buah hati mereka.
"Aamiin, semoga saja dokter. Tapi, akhir-akhir ini. Aku sering merasakan ingin buang air kecil terus, apa itu normal?" Ada rasa khawatir yang Unni rasakan.
"Sayang, kenapa tidak mengatakannya padaku?" Azka kaget karena Unni tidak menceritakan hal tersebut padanya.
Merasa tidak tahu, membuat Azka menjadi sedikit marah dan tidak terima. Dimana rasa khawatirnya lebih besar dengan keadaan Unni, namun Unni terlihat biasa saja.
"Jangan bertengkar, hal ini biasa terjadi saat posisi bayi sudah masuk ke dalam panggul. Maka dari itu, kita harus menjaganya agar bisa sampai pada waktu dimana ia harus lahir."
"Em, kamu mau melahirkan normal atau ceasar?" Sovia menayakan proses apa yang Unni pilih untuk lahiran nanti.
"Normal."
"Ceasar."
Jawaban yang berdebat dari keduanya, dimana Unni menginginkan secara normal dan Azka memilih ceasar. Kedua mempunyai alasan tersendiri dengan pilihannya tersebut, hingga akhirnya Sovia harus menyudahi perdebatan diantara suami istri itu. Kalau tidak, maka akan semakin runyam.
"Ceasar atau normal itu sama saja, yang terpenting adalah keadaan ibu dan anaknya dalam keadaan sehat serta tidak kekurangan apapun. Seharusnya kamu mendukung apapun yang istrimu pilih, bukan malah berdebat." Sovia menghela nafas beratnya.
__ADS_1
Memahami keadaan dan situasi saat itu, membuat Unni harus mendamaikan perasaan suaminya. Dimana, Azka sangat tidak suka jika keinginannya tidak terwujud.
"Kita pilih jalan yang terbaik ya, hubby. Apapun yang Allah tetapkan, mau normal atau ceasar." Unni mengusap lengan Azka dengan perlahan, menenangkan suaminya yang terlihat begitu suram.
"Tapi sayang, nanti kamu akan kesakitan kalau memilih normal. Aku tidak sanggup melihatnya nanti." Keluh Azka.
Rupanya ketakutan Azka adalah tidak bisa melihat wanita yang ia cintai meringgis kesakitan, betapa hancurnya dia ketika itu terjadi. Namun, mendengar perkataan itu. Membuat Unni tersenyum bahagia, mengusap kedua pipi Azka.
"Terima kasih hubby, rasa sakit itu pasti akan ada. Akan tetapi, semuanya itu akan segera terobati. Yakinlah."
Azka menatap kedua mata istrinya yang penuh dengan keyakinan, tidak ada sedikitpun ketakutan yang ia tampakkan saat membahas masalah persalinan nanti.
Selesai dari pemeriksaan, Azka membawa Unni untuk ikut bersamanya ke perusahaan. Ada pertemuan mendadak dengan seorang kliennya, awalnya Unni menolak. Namun berakhir dengan beradanya ia di ruangan milik Azka.
Klek!
"Upsh! Sorry, kelupaan." Kenzo yang terbiasa masuk ke dalam ruangan Azka tanpa mengetuk terlebih dahulu, mendapatkan bonus melihat kemesraan dari keduanya.
Bugh!
"Aduh!" Erang kenzo dan mengusap bahunya yang terkena pukulan dari Azka.
__ADS_1
"Kebiasaan tidak hilang-hilang."
Kenzo pamit kepada Unni dan mengikuti langkah Azka, mereka menemui klien yang sedari tadi menunggu. Setelah Azka pergi, Unni berjalan menuju ruang pribadi milik suaminya. Tubuhnya terasa sangat mudah lelah dengan usia kandungan yang sudah besar, berniat akan beristirahat disana.
Tak berapa lama kemudian, terdengarlah suara kegaduhan berasal dari ruang kerja. Berniat ingin melihatnya, dimana Unni menyangka jika Azka kembali.
Brakh!
Brakh!
Terdapat beberapa orang berpakaian tertutup, sedang mengacak-acak ruangan. Entah apa yang sedang mereka cari, Unni segera menutup mulutnya agar tidak menimbulkan suara. Sedikit mendengar dari percakapan orang tersebut, membuat Unni sangat kaget.
"Temukan berkas itu, jika tidak. Nyawa kita akan melayang ditangan tuan Baron."
"Benar, cepat cari. Waktu kita sebentar."
Kepanikan yang kini Unii rasakan, perlahan ia mengambil ponsel miliknya dan menghubungi Azka. Dan sayangnya, pergerakan Unni yang terbatas dengan keadaan tubuh hamil besar. Membuat orang-orang tersebut mendengar keberadaan orang asing disana.
"Hubby, to tolong tolong." Ucapan Unni yang sangat pelan.
"Ada apa sayang?! Jangan tutup telfonnya, ada apa?" Suara Azka terdengar.
__ADS_1
"Arkh!"
Ponsel itu terbang dan terhempas ke lantai, begitu juga dengan Unni. Ia sudah berada di lantai dan meringgis, menahan gejolak dari dalam perut besarnya.