
"Kalian semuanya, kenapa ada disini?"
"Uncle?!" Andre bergumam.
Lalu pandangan semuanya tertuju pada sumber suara yang tak lain adalah suara Mark.
"Jangan bilang, kalau yang berada di dalam adalah mommy kalian?!" Tegas dan penuh penekanan, itulah yang Mark katakan.
Tatapan tajam dari Mark kepada Azka, seakan membangkitkan memorinya dimana dulu Unni hampir kehilangannya nyawanya. Dan semuanya itu di karenakan pihak musuh mereka menganggap jika Unni adalah sumber kelemahan dari seorang Azka.
Saat ini, pikiran Mark seakan mengatakan hal yang serupa dengan kejadian terdahulu.
"Tunggu uncle, mommy sehabis sholat tiba-tiba saja tidak sadarkan diri." Andra langsung menjelaskan kepada Mark.
" Benarkah?!" Sorot mata itu meminta penjelasan yang sangat tepat.
Dalam keadaan seperti itu, masih sempatnya Mark menguliti Azka yang sedang dalam keadaan dan posisi panik. Sedangkan Aira, sementara waktu ia hanya menjadi penonton setia.
"Enyalah dari sini! Atau kepadamu itu akan aku hancurkan!" Suara bagaikan petir menghantam Mark, itu adalah Azka.
Entah kenapa emosinya kala itu begitu sangat tidak terkendali, apalagi dengan sikap Mark yanh tidak pernah berubah. Ibaratkan membangunkan raja hutan disaat ia sedang tertidur, sudah pasti jawabannya adalah tidak baik-baik saja.
Bugh!
Bugh!
Beberapa pukulan salam dari Azka sudah diterima oleh Mark, jika tidak dipisahkan oleh ketiga putranya. Maka saat itu, Mark akan berakhir dalam ruang tindakan dirumah sakit tersebut.
__ADS_1
"Lebih baik uncle pergi dari sini, karena aku pun akan melakukan hal yang sama pada uncle." Kini Varo pun ikut mengeluarkan suaranya, karena ia tidak ingin terjadi kesalahpahaman terus-terusan diantara mereka dengan Mark.
"Bang! Dokternya." Andre melihat seorang dokter keluar dari pintu ruangan tersebut.
Mereka segera berhamburan mengerubungi dokter tersebut, ingin mengetahui bagaimana keadaan dari wanita yang mereka cintai.
"Dokter, bagaimana keadaan mommy kami?" Andra mendahului.
"Ia dok, bagaimana keadaannya?" Andre juga tidak ingin kalah.
Tatapan dokter tersebut berakhirnpada Azka, karena dapat di lihat dari postur tubuhnya. Jika dirinya adalah orang terdekat dari pasien yang ia periksa, dokter tersebut mendekati Azka.
"Anda suaminya?"
Dan anggukan kepala dari Azka sebagai jawaban atas pertanyaan dari sang dokter, tangan pria berjas putih itu mendarat pada bahu Azka.
Brukh!
Si kembar terhuyung menabrak dinding pembatas di belakangnya, Azka. Ia terdiam dengan tubuh yang kaku dan wajah dinginnya, membuat Varo menghelas nafas beratnya dan menghantamkan pukulan cukup keras pada dinding di dekatnya.
"Tuan!" Aira menahan tangan Varo, setelah pria itu menghantamkannya pada dinding beberapa kali.
Aira menggelengkan kepalanya kepada Varo, sebagai arti hal itu tidak baik untuk dirinya. Lalu pintu ruangan tindakan itu terbuka, beberapa perawat sedang mendorong brankar dimana Unni terbaring di atasnya.
Semuanya mengikuti kemana Unni dibawa, dengan Azka yang langsung menggenggam tangan mungil itu. Unni dipindahkan di ruangan yang sangat terbaik di rumah sakit tersebut, memastikan keadaan pasien sudah baik. Para perawat pun meninggalkan mereka di dalam ruangan tersebut, terlihat wajah yang selalu ceria dan tersenyum itu kini begitu pucat dan begitu lelah. Dengan beberapa alat medis yang menancap pada tubuhnya, membuat para pria disana merasa menjadi tersangka utama sebagai penyebab terjadinya peristiwa tersebut.
"Tuan, bolehkah saya izin keluar sebentar?" Beberapa saat kemudian, suara Aira memecah kesunyian.
__ADS_1
"Mau kemana?" Varo dengan perlahan kembali bertanya.
"Ini sudah waktunya kalian untuk makan malam, saya bermaksud untuk..."
Belum terselesaikan kalimat tersebut, Varo sudah menarik tangannya keluar dari ruang perawatan. Hal tersebut membuat mata elang ketiga pria yang sedang berada disana melirik dengan sangat tajam, menatap heran dengan sikap pria kaku dan dingin Varo.
Mengabaikan perhatian dari yang lainnya, Varo membawa Aira menuju sebuah restoran yang cukup mewah. Lalu ia segera memesan beberapa menu makanan disana untuk dipersiapkan, sedangkan Aira sedari tadi menarik-narik ujung jas yang Varo kenakan.
"Ada apa? Tidak ada kerjaan lain selain menarik jas?" Tatapan horor Varo kepada Aira.
Dengan cepat Aira menggelengkan kepalanya tanda tidak sependapat, ia mengeluarkan dompet dan beberapa lembar uang yang ia miliki. Menunjukkan serta menyerahkannya kepada Varo, namun hanya mendapatkan tatapan bukan sambutan.
"Maaf tuan, saya hanya punya uang segini. Apakah cukup untuk membayar semuanya?" Dengan ragu-ragu, Aira mengatakan kepada Varo.
"Kamu menghina?"
"Ti tidak tuan, bukan begitu. Karena, saya yang awalnya menawarkan hal ini. Jadinya, saya yang bertanggung jawab." Menunduk, itulah yang Aira lakukan.
Tiba-tiba saja hati Varo sangat tersentuh dan tersentil akan ucapan dan sikap dari Aira, benar-benar sudah membuat batu karang itu perlahan terkikis oleh hempasan ombak yang mengenainya.
Mengambil dompet dari saku celananya, lalu sebuah black card di letakkan pada telapak tangan Aira yang sebelumnya telah Varo tarik.
"Gunakan ini untuk membayarnya, sama saja kan? Dari tangan kamu dan kamu yang membayarnya." Senyuman Varo terukir pada wajahnya yang dingin.
"Hah?!"
Varo meninggalkan Aira yang masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi, sedangkan Varo. Ia merasa sesuatu yang berbeda pada saat ia bersama dengan Aira, bahkan ia tersenyum sendiri.
__ADS_1