
Menyelidiki hilangnya Peter, membuat Azka sedikit mengalami kendala. Ia sangat tidak suka berhubungan dengan orangnya, karena sangat membuatnya menjadi emosi saja. Namun, tidak ada cara lain untuk itu.
Setelah kekacauan di perusahaanya bisa teratasi, Azka bersama Kenzo kembali menuju markas, sebelumnya ia meminta Jihan untuk datang ke mansionnya. Menemani istrinya yang saat ini merasa sedikit jenuh, paling tidak ada teman yang bisa bersamanya untuk saling mengobrol.
Dengan langkah lebarnya, Azka yang baru saja tiba di markasnya segera menuju salah satu ruangan. Terlihat disana dengan penjagaan, membuat wanita yang semulanya sangat bersemangat untuk menggoda dirinya. Dan kini, wanita itu terlihat tidak berdaya.
Memberikan kode kepada salah satu anggotanya, yang disambut cepat.
Byur!!
"Aaa, kenapa menyiramku? Sialan kalian!" Erang Jenie dimana dirinya diguyur air cukup banyak.
Dalam keadaan terikat, ingin rasanya Jenie menyerang orang-orang disana yang sudah memperlakukan dirinya seperti bukan manusia.
"Diam! Beruntung tuan kami tidak langsung membuatmu kehilangan nyawa." Salah satu anggota Red Dragon membentak Jenie.
Mendengar perkataan itu, membuat Jenie terdiam. Ia masih sangat menyayangi nyawanya, dalam keadaan seperti ini. Dirinya tidak bisa berbuat apa-apa, lalu Jenie melihat seseorang yang ia sukai berdiri dengan begitu menawannya.
"Azka."
"Wow, ternyata kau masih bisa bicara. Aku terlalu baik, bukankah begitu."
__ADS_1
Sebuah kursi di letakkan dihadapan Jenie, lalu Azka dengan tenangnya duduk disana. Menyandarkan punggungnya dan melipat kedua tangannya didepan dadanya, tatapan itu seakan-akan ingin menghabisi orang didepannya ini.
"Azka, tolong aku. Aku tidak mau seperti ini, tolong aku." Ucap Jenie dengan begitu memohon.
Menggerakkan tubuhnya yang sudah begitu terasa kaku dan sakit, Jenie terus memohon kepada Azka agar dirinya dibebaskan. Bukan Azka namanya jika tidak memberikan sesuatu yang cukup berkesan kepada tawanannya, dan hal itu sudah menjadi kebiasaan yang ia lakukan.
Cetash!
Benda yang berada ditangan Azka menimbulkan suara yang cukup membuat merinding, hal itu juga dirasakan oleh Jenie. Ia seketika terdiam saat melihat Azka memegang benda tersebut, isi kepalanya tidak bisa menebak apa yang akan terjadi.
"Kenapa tidak bersuara? Takut?" Azka menyeringai dengan penuh aura kekejamannya.
Mendapati Azka yang berjalan semakin mendekati dirinya, membuat tubuh Jenie bergetar dengan sangat hebat. Entah firasat apa yang ia rasakan saat ini begitu tidak baik, seakan-akan hidupnya sudah di ujung waktu.
Cetash!
Cetash!
Perlahan namun pasti, benda itu mulai bekerja. Azka dengan ringannya menggerakkan benda tersebut untuk berkenalan dengan Jenie, suara teriakan yang begitu memilukan sudah terdengar.
"Ampun, hentikan. Hentikan Azka, stop!" Rintihan Jenie yang terus memohon agar Azka berhenti mencambuknya.
__ADS_1
"Stop! Ku mohon stop!"
"Argh!"
Puas akan yang ia lihat, Azka menghentikan tangannya. Namun tidak untuk hadiah selanjutnya, menggantikan benda lain untuk ia gunakan. Kini, tangan itu telah menunjukkan sebuah benda tajam yang sangat berkilauan terkena cahaya.
"Ini belum berakhir, masih banyak benda yang ingin berkenalan dengan dirimu. Namun tidak untuk diriku!"
Mengukir indah pada selembar kertas, akan lebih baik daripada mengukir pada wajah. Yang tentunya membuat sebuah tanda seumur hidup, dengan pewarna merah yang sudah memberikan warna sehingga tanda tersebut semakin terlihat begitu menarik.
"Hen tikan, sakit. Ini menyakitkan, hentikan Azka. Ku mohon hentikan." Tubuh Jenie semakin tidak berdaya, rasa sakit yang ia rasakan seakan membuat dirinya lebih memilih untuk mati.
"Tidak ada yang bisa memerintahkanku! Aku sungguh muak denganmu, sekarang katakan. Dimana Peter?" Suara Azka benar-benar membuat seluruh orang yang mendengarnya akan merinding.
"Katakan!"
Tidak ada kata lain, Jenie hanya bisa menanggisi keadaannya saat ini. Sebuah tindakan yang sangat menghancurkan dirinya, dengan judul terperdaya akan perjanjian yang dilakukan. Atas nama pria yang kini berada dihadapannya saat ini, ia rela melajukan segalanya.
Jika dirinya mengeluarkan perkataan yang biasa membuat semua selesai, namun hal itu tidak ia lakukan. Nyawa yang ia pertaruhkan untuk semuanya ini, dan kini hasilnya sangat tidak sepadan.
Mendapati Jenie yang masih setiap menutup mulutnya, disana itu juga amarah Azka meningkat. Ia ingin seger menyelesaikan nyawa wanita tersebut, namun Lagi-lagi Kenzo menariknya dengan cepat.
__ADS_1
"Membunuhnya saat ini, sama saja semuanya akan sia-sia. Biarkan dia bernafas." Ucap Kevin dengan senyum devilnya.
Nafas Azka sudah naik turun, jika tidak Kenzo menghentikannya. Maka Jenie sudah dipastikan hanya tingal nama saja.