Muslimah Untuk Mafia Psychopath

Muslimah Untuk Mafia Psychopath
79.


__ADS_3

Beberapa belas tahun kemudian...


"Varo, jangan menganggu adikmu sayang." Unni melerai putra sulungnya yang sedang menjahili kedua adiknya.


"Hahaha, biar saja mom. Mereka berdua memang harus dikasih pelajaran, siapa suruh bohong sama mommy." Tawa itu membuat Unni mengkerutkan keningnya.


"Bohong?!" Unni menajamkan matanya menatap kedua putra kembarnya.


"No, no, no. Abang Varo yang bohong mom, Andra tidak berani melakukannya." Wajah yang penuh dengan kejujuran itu membela diri.


"Ish, ini anak tidak bisa di ajak kerja sama. Kalau begini, ketahuan lah."


"Andre!" Suara Unni menekan nama tersebut.


Memutar kedua bola matanya dengan malas, Andre menatap kedua saudaranya yang sedang tersenyum penuh kemenangan dihadapannya. Dengan menunduk, Andre menghadapi Unni dan siap menerima hukuman.


"Sorry mom, Andre bohong pergi kuliah. Padahal Andre bolos." Andre mengakui kesalahannya.


Menghela nafas dengan perlahan, Unni sudah menduga jika putranya satu itu akan penuh dengan catatan. Karena terlalu cinta dan sayangnya Unni kepada sang buah hati, disaat mereka melakukan kesalahan pun ia tidak mau meluapkan amarahnya.


"Mom, Varo berangkat ya." Memberikan tanda sayang pada kedua pipi sang mommy, lalu Varo berpamitan untuk pergi bekerja.


Takh!


"Abang!!!" Andra dan Andre sontak berteriak, ketika tangan Vark mendarat pada puncak kepala mereka berdua.


"Apa?! Mau, uang jajan kalian abang potong?" Seringai Varo penuh kemenangan.


Si kembar harus menghela nafas panjangnya, mereka tidak akan berani terang-terangan untuk memberontak pada abangnya. Karena, jika persediaan uang mereka mulai menipis dan tiada. Maka Varo lah yang menjadi jalan akhir untuk mereka mendapatkan uang, namun semuanya itu terjadi selalu disaat mereka menutupi sesuatu yang menjadi rahasia besar dan tidak ada yang mengetahuinya.


"Aish, selalu saja menggunakan ancaman. Abang seperti apa itu, menyebalkan sekali." Celoteh Andre yang selalu terlihat tidak akur dengan Varo.


Tap.

__ADS_1


Tap.


Tap.


Azka baru saja turun dari lantai atas dan segera menghampiri Unni, memberikan tanda cintanya pada kedua pipi yang selalu nampak menggemaskan.


"Duduklah, putraku membuat catatan lagi." Ujar Unni saat Azka memeluknya dari samping.


Terlihat jika Azka menghembuskan nafas beratnya, hal ini akan selalu ia dapat dari sang istri. Rasanya ia ingin meluapkan kekesalannya pada putranya itu, namun sang istri selalu mengingatkan dan mengajarkan untuk tidak menggunakan emosi dalam menyelesaikan setiap permasalahan yang ada.


"Abang sudah berangkat?" Azka duduk dan menikmati teh hangatnnya.


"Baru saja, daddy tidak ke kantor?" Tanya Unni yang menyiapkan sarapan.


"Nanti siang, pagi ini mau menemui David."


Kedua putra kembarnya itu hanya bisa menundukkan kepalanya, karena sang raja mansion sudah berada dihadapan mereka.Dengan tatapan horornya, Azka menajamkan kedua matanya untuk menatap.


"Andra, berangkatlah. Minta mommy menghantarkanmu ke depan."


Brakh!


Sebuah map berwarna hitam jatuh dihadapan Andre, betapa kagetnya ia ketika hal itu terjadi. Perasaannya mengatakan jika situasi sedang tidak baik, maka ia harus patuh pada sang daddy jika ingin nyawanya selamat.


Azka selaku bersikap tegas kepada ke tiga putranya, jika mereka melakukan kesalahan. Tidak ada kata ampun untuk sebuah kesalahan, apalagi hal tersebut sudah diluar batas.


"Jelaskan pada daddy!" Suara Azka terdengar tegas dan membuat nyali Andre menciut.


Meraih berkas yang di lemparkan Azka dihadapannya, Andre melebarkan kedua bola matanya ketika mengetahui apa yang terdapat di dalam map tersebut. Rasanya, nyawa Andre kali ini bisa dikatakan melayang.


Berkas tersebut memperlihatkan bukti-bukti kegiatan Andre, yang dimana Unni sama sekali tidak mengetahuinya. Hal tersebut menjadi sebuah hantaman keras bagi Azka, karena putra keduanya kini terlibat dalam usia bawah yang ia jalani.


Ting!

__ADS_1


Suara lemparan sendok yang mendarat di atas meja, setelah memecahkan empat gelas dalam waktu bersamaan. Andre semakin merinding mendapati kekuatan sang daddy, bahkan dalam pikirannya. Bagaimana sang mommy mereka yang begitu lembut, bersanding dengan daddy mereka yang seperti itu.


"Sorry dad." Ucap Andre dengan perlahan.


"Sudah berapa lama?" Azka menajamkan pertanyaannya.


"Sepuluh tahun." Singkat jawaban yang Andre berikan.


Mengusap wajahnya dengan kasar, Azka benar-benar kecolongan lagi untuk kedua kalinya. Dahulu juga terjadi pada Varo, yang dimana anak tersebut menjadi salah satu klan dunia bawah yang cukup ditakuti setelah dirinya.


"Dad, sorry." Andre mengucapkan kalimat tersebut untuk kesekian kalinya.


"Entah dosa daddy yang terlalu besar atau kalian yang sudah tidak bisa di atur."


Andre semakin menundukkan kepalanya yang semakin terasa berat, ia tidak menyangka jika daddy nya mengetahui segala kegiatannya.


"Huh, selera makan daddy menghilang. Jauhkan berita ini dari mommy kalian, jika hal itu terjadi. Maka kalian akan berhadapan dengan daddy!"


Kalimat tersebut sangat begitu tegas, setelah mengatakan hal tersebut. Azka beranjak dari tempat duduknya dan melangkah menuju pintu utama, dimana ia langsung meriah pinggang sang istri.


"Sayang, selera sarapanku hilang. Bisakah kamu memperbaikinya?" Azka membenamkan wajahnya pada tengkuk sang istri.


"Jangan terlalu keras pada anak-anak, sayang. Badanmu tidak ada perubahan sedikit pun, malah semakin tampan dengan usia segini." Unni memberikan respon akan sikap manja sang suami yang sudah menjadi makanannya sehari-hari.


"Terima kasih sayang, hah! Anak itu selalu saja, kamu jangan terlalu lelah ya. Aku akan berangkat bekerja, jangan lupa satu hal lagi."


"Iya dad, makan siang sudah harus berada di ruang kerja. Ada lagi yang kurang?" Senyum Unni mendapati sikap manja Azka.


"Hahaha, kamu selalu memahaminya sayang. Cintaku tidak pernah luntur sedikitpun, malah semakin bertambah padamu. Mau program lagi?" Senyuman licik Azka menyeringai.


Sruth!


"Argh! Sakit mom." Azka mengusap lengannya yang terkena cubitan pedas.

__ADS_1


"Makanya sadar diri sayang, seharusnya kita sudah menimbang cucu. Berangkatlah, yang ada nanti kamu memutar haluan masuk ke dalam kamar. Assalamu'alaikum." Unni mencium punggung tangan sang suami dan beranjak meninggalkan Azka.


"Hahaha, Wa'alaikumussalam."


__ADS_2