
Seluruh anggota Red Dragon bergerak untuk membersihkan hasil dari pertarungan besar yang terjadi, bahkan untuk perusahaan tidak tersentuh sama sekali. Dan mereka mengetahui semuanya itu, saat Azka menanyakannya langsung pada putra sulungnya itu.
"Black shadow? Bisa kau jelaskan pada daddy?" Kalimat Azka penuh dengan penekanan untuk mendapatkan penjelasan yang sebenarnya.
Tampak Varo yang masih tertunduk dihadapan daddy nya, bahkan mereka saat ini berada di dalam ruangan yang sama dengan sang mommy berada. Sekilas Varo melihat ke arah Unni, yang masih begitu lelah dalam kehidupannya.
Tapi, anak laki-laki itu terlihat tidak begitu takut saat mendapatkan pertanyaan dari daddy nya. Dimana ia harus mengatakan semua yang sudah terjadi, termasuk rahasia besar yang baru saja terbongkar.
"Sorry dad, semuanya memang Varo yang melakukannya." Jawab Varo dengan nada lembutnya, namun matanya terus menatap sang mommy.
"Sejak kapan semuanya kamu lakukan?"
"Huh, Baru dad."
__ADS_1
"Termasuk Ady?" Azka membuat pertanyaan yang menjadi tujuan utamanya.
Varo menganggukkan kepalanya perlahan, ternyata selama ini Ady sudah bekerja sama dengan putranya untuk mendirikan klan tersebut. Dan kini, Azka harus menghembuskan nafas beratnya untuk beberapa kali, dimana apa yang selama ini ia takutkan telah terjadi.
Kini, untuk menghentikannya sudah tidak mungkin. Putranya itu sudah mempunyai namanya tersendiri atas klan yang ia naungi, apalagi hal tersebut membuat gempa dunia bawah diseluruh dunia. Hanya saja, tidak ada yang mengetahui siapa leader dari klan tersebut. Mereka hanya mengetahui jika Ady yang menjadi kaki tangan dari sang leader, hal tersebut semakin membuat Azka berpikir keras.
Disaat mereka sedang berbicara, lalu terdengarlah suara tangisan baby twins dari box yang berada disana. Keadaan keduanya dipastikan sangat baik, maka dari itu Sovia membiarkan kedua bayi itu berada dalam satu ruangan bersama ibunya.
" Jangan menanggis adik-adiknya abang, nanti mommy akan terganggu." Celoteh Varo saat berada dihadapan kedua adiknya.
Dengan telatennya, Azka membuatkan susu untuk bayinya. Sebelumnya ia sempat dijelaskan oleh Sovia untuk takaran dalam pemberian susu, dan kini ia bisa menenangkan si kembar dengan bergantian. Lalu tugas Varo akan Menepuk-nepuk bokong sang adik, setelah daddy nya selesai memberikan susu.
Kedua bayi itu tidur kembali, lalu Azka dan Varo kembali duduk bersama. Melanjutkan pembicaraan yang sempat tertunda, walaupun saat ini usia Varo masih terlalu kecil untuk dunia bawah. Akan tetapi, Azka tidak bisa menghentikannya.
__ADS_1
"Hanya satu pinta daddy! Jelaskan semuanya pada mommy, disaat keadaannya sudah mebaik. Daddy tidak ingin mommy mu menjadi ketakutan dengan kita berdua, yah. Daddy tidak ingin mommy terlibat lagi, cukup ini yang terakhir kalinya." Azka menyandarkan punggungnya pada kursi yang ia tempati.
"Tapi dad, apakah mommy akan marah?"
Menatap wajah Varo dengan tajam, awalnya Azka begitu marah saat tahu putranya mengeluti dunia yang sama dengan dirinya. Apalagi bisa dibilang jika ia kecolongan untuk putranya, namun semuanya sudah terjadi. Ia harus bisa membuat semuanya terkendali, tanpa harus membuat keributan.
"Mommy adalah wanita yang berhati bersih, marahnya berisikan nasihat dan bukan emosi yang buruk."
Varo membenarkan apa yang Azka ucapkan, lalu ia menghampiri dimana Unni berada. Memberikan kecupan hangat pada pipi yang mommy, lalu ia merasakan jika ada air yang mengalir dari sudut mata tersebut.
"Dad, kemarilah."
Dengan cepat Azka menghampiri Varo, ia melihat ke arah yang Varo tunjukkan padanya. Lalu Azka berlutut disamping brankar, mengusap air yang mengalir dengan cukup banyak. Seakan-akan Unni ikut merasakan dan mengetahui apa yang sedang mereka bicarakan.
__ADS_1
"Sayang, maafkan aku. Aku berjanji, setelah ini tidak akan ada yang bisa menyentuhmu. Karena saat ini, kau sudah mempunyai dua pengawal yang tangguh. Ah, aku melupakan satu hal. Kamu akan mendapatkan dua pengawal lagi, kami merindukanmu. Segera buka matamu." Menundukkan wajahnya dengan mengusap air mata yang telah berjatuhan.