
"Kenapa kau menyuruhku kemari? Aku harus mencarinya Hafsah!" Azka yang baru saja tiba di rumah sakit dan memukul kepalanya pelan.
"Ish, sakit. Jangan cerewet, ikut saja."
"Kemana? Kau kira aku punya waktu untuk mengikutimu yang membuang waktuku sia-sia!" Dengan penuh emosinya, Azka mengumpat Kenzo.
Bugh!
"Kau!" Erang Azka yang mendapatkan pukulan kembali pada wajahnya.
"Nona Hafsah tertembak dan dia ada dirumah sakit ini!"
Degh!
Degh!
"Aa apa? Tertembak!" Dunia Azka seakan runtuh mendengar hal tersebut.
"Makanya jangan cerewet, dengarkan dulu. Dia tertembak saat berada dibandara, dan kini sedang menjalani tindakan dari rumah sakit. Dan satu lagi, kau harus berbesar hati dan berlapang dada."
"Maksudmu?" Menangkap ucapan Kenzo, merasa ada sesuatu yang cukup serius.
"Nona Hafsah, dia adalah adik dari Peter yang hilang." Jelas Kenzo singkat mengenai status Hafsah saat ini.
__ADS_1
.
.
.
Dalam sebuah tempat yang cukup rahasia, seorang pria dan wanita sedang berdebat dan juga meluapkan amarahnya akan rencana mereka yang mengalami kegagalan.
Berbagai umpatan keluar dari mulut orang tersebut, dan juga tak luput dari berbagai benda yang digunakannya untuk menghukum para bawahannya yang melakukan kesalahan.
Cctaasshh!!
Suara cambukan bergema di dalam ruang tersebut, tidak ada yang berani mengeluarkan suara apapun. Jika hal itu terdengar, maka hukuman akan semakin berat mereka terima.
Semua kepala menunduk mendengar suara tersebut, hanya satu yang bisa terlihat santai dengannya. Seorang wanita yang berperawakan seperti seorang model yang terkenal, berjalan dengan sangat anggun mendekati pria yang sedang asik memberikan hukuman.
"Jangan suka membuang tenaga untuk menghukum mereka."
"Mereka memang pantas untuk dihukum! Percuma saja selama ini aku sudah membentuknya, tapi lihatlah. Mereka mengecewakan." Menghempaskan cambuk dengan keras.
Baron Raiden, pria yang selama ini menjadi musuh dari berbagai kelompok organisasi dunia bawah. Selalu membuat masalah dan juga tidak pernah mau menyerah untuk bertikai dengan yang lainnya, keahliannya adalah sangat pandai dalam hal melarikan diri.
Setiap kali Baron ditangkap, super ketat penjagaan yang dilakukan tidak akan bisa menghalanginya untuk kabur.
__ADS_1
"Ayolah, target kita adalah hal yang utama. Biarkan saja mereka, sudah saatnya kita harus bergerak cepat." Ujar wanita bermulut seperti bisa ular terus memprovokasi Baron.
Wanita itu adalah Jeniefer, seorang model yang sudah merambah ke dunia internasional dengan bidangnya. Obsesinya hanya satu, menaklukkan seseorang pemimpin dari organisasi Red Dragon, Azka.
Sayangnya, Azka tidak pernah tertarik dengan dirinya ataupun wanita lainnya. Jenie sudah menggunakan seluruh kemampuannya untuk menaklukkan seorang Azka, bahkan ia dengan suka rela menggunakan tubuhnya. Dan lagi-lagi hal itu tidak berpengaruh sedikitpun, bahkan ia hampir kehilangan nyawa dan juga kariernya karena sudah berani menyenggol seorang Azka.
"Siapa lagi yang sudah membuatmu gagal?" Tanya Jenie dengan sangat penasaran.
"Hah! Aku hampir saja menyingkirkan Eiger, tapi lagi-lagi keberuntungan berpihak padanya. Ada seorang wanita yang tidak sengaja menghalangi target dari penembakku, jika tidak. Dia sudah berakhir, sial!" Genggaman tangan Baron memukul angin.
"Eiger? Pria itu, sungguh membuatku terlena. Sangat berbeda dari Azka, ia sangat pintar menyembunyikan sikapnya. Aku menyukainya, tapi sayangnya. Cintaku lebih besar pada Azka." Seringai Jenie menceritakan pengalamannya dalam mencari tambatan hati.
"Diamlah, kau begitu cerewet dan selalu saja mementingkan diri sendiri. Aku harus membalas semua perbuatan mereka, sampai kapanpun mereka akan tetap menjadi targetku. Akan aku musnahkan semua orang yang berani melawanku." Kepalan tangan Baron semakin kuat, memperlihatkan urat-uratnya semakin jelas.
"Terserah kau saja, yang terpenting adalah mendapatkan pria yang kumau. Dan kau! Sampai kapan terus gagal seperti ini?" Keluh Jenie yang selalu kehilangan kesempatan untuk mendapatkan seorang Azka.
"Kau ini, jika tidak bisa menunggu. Bergeraklah sendiri, jangan menempel saja." Baron juga merasa risih dengan keberadaan Jenie yang terus menekannya untuk membantunya mendapatkan Azka.
Mendengar Baron berkata seperti itu, membuat Jenie menatapnya dengan sangat tajam. Sejak karirnya terjun bebas dari peredaran, membuat dirinya mencari tempat untuk kembali membangkitkan popularitanya. Ia bertemu dengan Baron, yang menawarkan bantuan. Namun Bantuan itu tidak percuma, Jenie harus melakukan hal-hal yang sangat diluar nalar manusia.
Bisnis ilegal yang Baron miliki semakin meningkat, sejalan dengan adanya Jenie sebagi jalan untuk memperlancar semua hambatan yang ada. Mereka pun menyepakati kerjasama yang saling menguntungkan satu sama lain.
"Berani kau membohongiku, bersiaplah untuk kehancuran bisnismu." Ancam Jenie kepada Baron yang mulai merasa kehabisan stok untuk kesabarannya.
__ADS_1
Kepergian Jenie membuat kemarahan Baron semakin menjadi-jadi, bahkan ia melampiaskannya kepada para bawahannya dengan brutal. Setelah lelah, ia mulai menyusun kembali rencananya.