Muslimah Untuk Mafia Psychopath

Muslimah Untuk Mafia Psychopath
89.


__ADS_3

Di perusahaan Varo...


Aira melangkahkan kakinya dengan begitu malas menuju perusahaan, dimana ia harus datang kembali disaat hatinya telah mantap untuk mengundurkan diri.


Mengetuk pintu ruangan pemilik dari tempat ia bekerja, membukanya disaat mendapatkan jawaban dari dalam ruangan tersebut.


"Permisi tuan." Aira masuk dan langsung menghadap Varo.


"Duduk." Ucap Varo tanpa melihat ke arah Aira, ia terlihat sibuk dengan berkas-berkas dihadapannya.


Dengan begitu beratnya, Aira mendaratkan dirinya pada kursi yang langsung berhadapan dengan Varo. Sungguh dirinya ingin pergi, namun dirinya mendapat nasihat dari Unni yang meminta kepada dirinya untuk bersabar dalam menghadapi Varo.


Flashback on...


Unni meminta kepada Aira untuk menemaninya selama ia berasa di rumah sakit, karena jika para pria tersebut yang menjaganya. Yang ada akan membuat kepalanya berdenyut dan hatinya masih belum bisa menerima semuanya, hal tersebut pun dipenuhi oleh Aira.


"Jadi, kami hanya tinggal sendirian nak?"

__ADS_1


"Iya tante, hanya ibu satu-satunya keluarga yang aku punya." Aira menunduk dengan wajah yang begitu mendung, bagaimana pun juga ia masih dalam keadaan berduka.


Hati Unni menjadi tidak enak, karena kesalahpahaman dan sikap egois dari putranya. Membuat Unni menjadi terlambat untuk mendapatkan bantuan, apalagi mendengar perjalanan hidupnya yang cukup dibilang memprihatinkan.


"Maafkan sikap putra tante, sampai kamu harus menjadi seperti ini. Jika kamu berkenan, kamu bisa ikut bersama tante dan tinggal di mansion." Unni memberikan pilihan untuk Aira, dimana kini ia hanya hidup sendirian.


Mengangkat wajah dengan segera, setelah mendengarkan pilihan yang Unni berikan padanya. Betapa kaget dirinya, namun ia segera sadar dari semuanya. Jika dirinya tidak pantas untuk mendapatkan perlakuan baik tersebut, hanya karena untuk menebus kesalahpahaman yang terjadi.


"Tidak apa-apa tante, mungkin ini sudah jalan hidup saya. Lagian, tempat tinggal kami sudah terlalu nyaman untuk ditinggalkan." Aira berusaha untuk tersenyum dan menuruti perasaannya.


"Baiklah, kalau begitu. Tante ingin meminta tolong padamu nak, dan kali ini. Tante tidak menerima penolakan dari kamu, dan itu harus kamu jalani." Senyuman Unni dengan sedikit tatapan tajamnya yang membuat Aira tidak bisa menolak.


Menganggukan kepalanya sebagai tanda setuju akan apa yang Unni inginkan, disaat keinginan itu terucapkan dan telinga Aira menangkap semua inti dari ucapan tersebut. Seketika itu juga membuat Aira membulatkan mulutnya dan kedua matanya melebar, merasa hal itu tidak akan terjadi.


"Sepertinya, Varo sedang membutuhkan seseorang yang bisa menahan semua sikap dingin dan angkuhnya. Tante lihat, jika kamu sepertinya bisa menjadi seseorang itu."


Flashback off...

__ADS_1


"Hei, kenapa malah diam. Ayo bantuin." Suara Varo menyadarkan Aira.


Hari itu, Varo benar-benar ingin mengumpat asisten pribadinya yanh tak lain adalah Sandi. Dia adalah anak dari Ady, mewarisi bakat seperti ayahnya dan mengabdi kepada keluarga Azka. Lalu Sandi mendapatkan perintah dari Azka untuk membuat Varo sibuk, bahkan bila perlu menjadi sakit kepala.


Selama ini, Varo selalu saja melimpahkan semua tugas dan pekerjaan perusahaannya kepada Sandi. Ia hanya akan melakukan pekerjaan jika sudah hampir rampung, dan itu membuat Unni yang mengetahui hal tersebut dari Azka menjadi geram. Ditambah dengan posisinya sebagai leader dari klan Black Shadow, benar-benar membuat Unni semakin gemas dengan putra sulungnya itu.


"Tuan, saya kan tidak mengerti?" Menatap berkas yang ada saja, membuat Aira berdecak bingung.


Menyadari akan hal tersebut, membuat Varo langsung menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kerjanya. Sejenak ia terdiam dan memejamkan matanya, seakan-akan isi kepalanya sudah akan meledak pasa saat itu.


"Huh! Daddy dan mommy benar-benar sekali, ah! Ya sudah, kamu bantu aku menyamakan saja berkas-berkas ini dengan file-file di sini. Tapi, tolong buatkan aku kopi hitam dulu tanpa gula."


"Baik tuan." Tanpa membantah apapun, Aira mengerjakan apa yang Varo katakan.


Namun, secara diam-diam Varo tiba-tiba saja memperhatikan setiap pergerakan dan langkah yang Aira lakukan. Tidak tahu sejak kapan ia menjadi merasa tertarik dengan wanita satu ini.


"Menarik." Gumam Varo dan tersenyum saat memperhatikan Aira.

__ADS_1


__ADS_2