
"Tuan, ada yang perlu saya bicarakan." Kedatangan Ady sangat mengejutkan untuk Azka.
Dirinya tidak menyangka jika orang kepercayaannya ini berada dihadapannya, karena kehadirannya bisa dikatakan cukup serius. Awalnya Ady memberikan berkas yang berisikan laporan atas perusahaan disana, namun pada berkas kedua.
"Tuan, saya harap. Anda bisa menentukan keputusan apa yang harus segera kita gunakan, tidak cukup hanya mengawasinya." Wajah Ady cukup serius dalam menatap Azka.
Kening Azka menjadi berkerut sangat banyak, seakan ia tidak mempercayai dengan apa yang berada dihadapannya saat ini. Lagi-lagi, Ady datang dengan beberapa bukti yang menunjukkan pada musuh merek.
"Apakah kau yakin dengan hasil temuanmu ini?" Azka menajamkan tatapannya.
"Nyawa saya yang menjadi jaminannya, tuan. Dan satu lagi yang ingin saya tanyakan." Untuk kalimat keduanya, Ady nampak ragu untuk mengatakannya.
Apa lagi ini, Azka benar-benar dalam keadaan yang membingungkan. Datang tiba-tiba dan mengantungkan kalimat pertanyaan, Ady sudah membuat Azka menjadi manusia yang sangat bingung kali ini.
"Apakah musuh kita kali ini, bukan yang aslinya?" Pertanyaan Ady kali ini sangat tepat membuat Azka menjadi pemikir keras.
Kening Azka berkerut dengan jumlah lipatan yang cukup banyak, raut wajahnya pun memperlihatkan bahwa ia sedang memikirkan ucapan yang Ady katakan.
__ADS_1
"Jika kamu mengatakan hal seperti itu, atas dasar apa?"
"Eeh! Mmmm, tuan. Mohon koreksi jika saya salah tuan, dari salah satu klien kita. Saya menemukan kejanggalan, dan ini saya temukan hampir di seluruh kantor cabang dan juga pada perusahaan pusat tuan."
Menyerahkan bukti yang ia temukan, serta beberapa tanda jika bukti tersebut sangat kuat. Hal tersebut secara tida langsung sedang mengatakan, jika mereka selama ini sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.
Azka mengusap kepalanya dengan sangat kasar, terbukti jika dirinya sedang melemahkan sisi pengawasan yang ada.
" Pergilah ke markas, mintalah David meningkatkan pengamanan. Aku akan pulang dulu, kau mengerti bukan!" Tegas ucapan Azka membuat Ady merinding.
Bergerak cepat, Ady segera menuju markas. Sedangkan Azka, ia pun segera pulang. Kenzo yang baru saja mengetahuinya, segera mengamankan perusahaan pusat dengan sistem yang mereka punya.
Begitu pun dengan Azka, setibanya ia di mansion. Langsung saja ia menegaskan pada semua pengawal untuk menambah pasukan, lalu bergegas menemui istri dan anaknya.
"Sayang! Sayang! Varo!" Suara teriakan itu bergema didalam mansion besar tersebut.
Saat tidak mendapati orang yang ia cari, kepanikan mulai menyerang pikiran Azka. Ia berlari kesana kemari, hampir seluruh ruangan ia masuki untuk menemukan mereka. Disaat yang bersamaan, terdengarlah suara riuh dari arah taman.
__ADS_1
"Ayolah mom, ini tidak menakutkan. Mereka lucu dan imut." Dengan senyuman menampakkan gigi putihnya, Varo mendekatkan kedua sahabat kucing lucunya pada Unni.
"Tidak sayang, mommy takut nak. Varo jangan!" Karena terdesak rasa takut, akhirnya membuat Unni berteriak.
Tubuh mungil itu bergetar dengan sangat hebat, walaupun kedua hewan imut yang menurut Varo itu menyukai berada didekat Unni. Tidak ada gerakan apapun yang Unni berikan, ia hanya meringkuk menutup wajahnya yang sudah banjir dengan air mata.
"Mommy, are you oke?" Varo sedikit panik.
"Mom!!" Teriak Azka membuat kedua hewan imut itu berlari menjauh.
Dengan langkah besarnya, Azka menghampiri Unni yang masih meringkuk menutup wajahnya. Tubuhnya bergetar, segera Azka bawa ke dalam dekapannya. Mengusap kepalanya dengan perlahan.
"Sudah sayang, mereka tidak ada lagi. Varo! Sudah daddy katakan, jangan mendekatkan mereka kepada mommy. Kau benar-benar keras kepala!" Azk membawa Unni segera masuk ke dalam mansion.
Melihat kedua orangtuanya telah hilang dari pandangannya, membuat panik para pengawal dan pelayan yang berada disana. Mereka semua takut, jika tuan muda akan mengajukan dan menanggis. Namun ternyata malah sebaliknya, anak kecil itu terlihat begitu tenang dan datar.
Menuntun kedua hewan kesayangannya menuju pepohonan yang rindang, Varo membaringkan tubuhnya diantara kedua kucing imut itu. Dengan pengawalan yang masih berada didekatnya, membuat Varo memejamkan matanya.
__ADS_1