
Memandangi barang-barang yang terletak di atas meja, ke empat pria disana bungkam seribu bahasa. Satu persatu mereka mulai melihat barnag tersebut, lalu seketika kedua mata mereka melebar.
"Kenapa bisa mommy temukan!" Panik Andre meraih barang tersebut.
"Tidak! Sungguh aku teledor sekali." Andra mengambil buku kecil yang dalam jumlah cukup banyak.
Untuk Varo, ia tidak mengeluarkan sepatah kata pun untuk menanggapi hal yang terjadi. Begitu pula dengan Azka, kali ini ia benar-benar sudah terlalu jauh memberi kelengkapan pada ketiga putranya dan berakibat seperti ini.
Duduk dalam posisi yang tidak enak, Azka menajamkan tatapannya kepada ketiga pria dihadapannya. Dengan mengusap wajah dengan kasar, berpikir dengan keras bagaimana menjelaskannya semua kepada istrinya.
Andre dan Andra, keduanya memiliki gen yang diwarisi oleh sang daddy mereka. Dimana Andre memiliki jiwa Psychopath dari Azka, hampir serupa dengan Varo yang begitu komplit meng copy paste dari daddy nya, namun Andre hanya salah satunya dan sifat tengilnya menutupi sisi gelap tersebut. Hal tersebut menjadikan dirinya sebagai bagian dari dunia bawah sejak kecil.
Sedangkan Andra, ia terlalu sering bersama Ady dan David. Mewarisi kepiawaiannya dalam menggerakkan jemarinya dalam bidang IT (Tekhnology Infomasi), sehingga sampai saat ini dirinya menjadi seorang yang bisa dibilang hacker yang tidak dapat tertandingi. Bahkan David dan Ady, kini mereka berdua berbanding terbalik belajar dan meminta bantuan kepada Andra setiap ada kesulitan.
Untuk Varo, dirinya sudah menapaki dunia bawah saat usianya masih dibilang sangat muda. Bahkan ia sudah menjadi leader pada usia tersebut, kini semuanya ya g ia capai merupakan hasil kerja kerasnya sendiri.
Dan yang paling patut untuk menjadi sasaran empuk kemarahan dari semuanya ini adalah Azka, ia menjadi dalang dari semua peristiwa yang terjadi. Menutupi hal tersebut dari semua orang, terutama kepada istrinya sendiri. Namun semuanya itu mempunyai alasan yang cukup kuat, dimana mereka tidak ingin wanita yang mereka cintai itu menjadi sedih akan profesi lain dari dirinya masing-masing.
"Dad, bagaimana ini?" Varo menghampiri Azka yang sudah terdiam.
__ADS_1
"Huh, biarkan daddy menenangkan pikiran dulu bang. Menghadapi mommy kalian, memerlukan begitu banyak kesabaran dan juga penjelasan."
"Habislah kita." Andre menutup wajahnya dengan menggunakan bantal kursi yang ada.
Begitu pula dengan Andra, ia berjalan mendekati Varo dna juga Azka. Mendaratkan sebagian tubuhnya untuk menempel di atas meja, menatapi buku-buku rekening yang dimana itu adalah miliknya.
"Apakah mommy akan memaafkan kita, dad?" Si bungsu begitu nampak sedih.
Mengusap puncak kepala sang anak dengan lembut, Azka tahu jika putra bungsunya ini begitu mencintai mommy nya. Perasaan halus dan juga pendiamnya, mewarisi dari gen ibunya.
"Biarkan mommy untuk tenang dulu, jika kita memaksakannya sekarang. Yang ada nantinya mommy akan semakin kesal, pahamkan maksud daddy."
"Iya dad." Andra menenggelamkan wajahnya pada lengan yang ia tekuk.
Meninggalkan ke empat pria tersebut, kini Unni berada didalam kamarnya untuk menenangkan diri. Bagaimana ia tidak kaget dengan semua yang ia dapatkan, selama belasan bahkan puluhan tahun ia tidak mengetahui apapun yang dikerjakan oleh putra-putranya.
Dirinya merasa telah melakukan yang terbaik untuk suami, anaknya bahkan keluarganya. Namun ternyata itu semua tidak seperti yang ia pikirkan, untuk saat ini dirinya merasa telah gagal menjadi seorang istri dan juga ibu. Menyalahkan dirinya sendiri atas semua yang telah terjadi, dalam kesendiriannya. Unni mencurahkan semuanya dalam sujud dan doanya kepada sang pemilik dirinya, berusaha untuk tetap tenang namun semuanya tidak bisa ia jalani.
.
__ADS_1
.
.
.
Hari-hari berikutnya, keadaan mansion begitu berubah. Hal tersebut terjadi, karena jantung dari mansion tersebut kini menjadi begitu pendiam. Unni yang merupakan jantung dari mansion megah itu, nampak begitu diam. Tetap menjalani kegiatannya sehari-hari seperti biasanya, dan akan menyendiri setelah semuanya terlaksana.
Bahkan Azka yang berada di dalam satu kamar pun tidak bisa memaksakan kehendaknya untuk membuat sang istri berbicara, yang ada akan semakin membuat dinding pembatas diantara mereka.
"Sayang, maafkan aku. Jangan mendiamkanku seperti ini, sudah beberapa hari ini kamu seakan menghindar." Azka mencoba membuka suara saat Unni baru saja menyelesaikan sholat subuhnya.
Selesai melipat kembali mukenah yang ia kenakan, Unni masih dalam diamnya dan berjalan untuk mempersiapkan pakaian yang akan azka kenakan ke perusahaan.
"Pakaiannya sudah aku siapkan." Lalu Unni melangkah menuju pintu keluar.
"Tunggu sayang, kita harus bicara." Sebelum Unni mencapai pintu, Azka terlebih dulu menariknya dan memeluknya.
"Lepas, nanti kalian terlambat untuk sarapan." Unni memberontak dan mencari alasan agar Azka melepaskannya.
__ADS_1
"Jangan seperti ini, kamu mendiamkanku sayang. Maaf, karena aku menutupi semuanya."
Tidak ada jawaban sedikit pun yang Unni berikan untuk menjawab ataupun menanggapi ucapan dari suaminya, hatinya masih terasa sakit menghadapi semuanya ini.